Pentingnya Kehadiran Orang Tua saat Anak Mengalami Trauma
Situasi pandemi mendorong anak mengalami permasalahan mental. (Foto: Pexels/Ketut Subiyanto)
PANDEMI COVID-19 membuat seluruh orang harus menghadapi rasa kehilangan, tanpa terkecuali anak-anak. Kehilangan kebebasan dalam beraktivitas serta bersosialisasi hingga kehilangan sanak saudara akibat COVID-19 menjadi salah satu realita yang berpengaruh terhadap kesehatan mental anak.
Dibutuhkan peran orang tua dalam mengatasi trauma pada anak, terlebih di tengah situasi pandemi. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran orang tua untuk peka dalam melihat dan mengetahui kondisi mental anak-anak.
Baca Juga:
Memahami kondisi kesehatan mental anak tidak pernah menjadi sesuatu yang mudah bagi orang tua. Terkadang perubahan suasana hati dan fisik mereka mungkin hanya diartikan sebagai sesuatu yang sepele oleh sebagian orang tua.
Dilansir Today, Dr. Candice Jones, seorang dokter anak di Orlando menyebutkan bahwa orang tua yang baik akan memandang perubahan tersebut menjadi sesuatu yang janggal dan perlu segera ditangani.
“Orang tua yang baik akan memulai pembicaraan dengan anak untuk menemukan solusi dari perubahan tersebut. Jika anak terlihat mengalami perubahan emosi dan perilakunya, orang tua perlu selalu memperhatikan dan mencari solusi,” jelasnya.
Jika anak mengalami permasalahan tidur, mual, sakit kepala, kehilangan minat untuk beraktivitas, ataupun terlalu cepat marah, hal ini bisa menjadi beberapa pertanda bahwa anak sedang mengalami trauma yang tidak kamu ketahui.
Annette Nunez, seorang psikoterapis di Denver, Colorado juga menjelaskan ada ciri lain anak merasa kondisi hatinya kurang baik, yakni menangis selama lebih dari 20 menit dan disertai dengan teriakan. Kondisi tersebut juga seringkali terjadi pada masa transisi saat anak mulai masuk sekolah. Rasa cemas dan stres meningkat karena anak harus kembali dengan rutinitas belajar, sehingga tak jarang anak menjadi tidak mampu untuk menahan buang air kecil maupun besar.
Baca Juga:
Anak Hiperaktif? Salurkan Semangat Mereka dengan Aktivitas Ini
Jones menjelaskan kecemasan dan depresi yang dirasakan anak terkadang juga disertai pula dengan gejala fisik seperti sakit pada bagian perut, kepala, dan lainnya. Namun tidak selalu sakit perut maupun kepala yang dirasakan anak merupakan tanda dari kecemasan dan depresi.
“Gejala fisik terkadang juga muncul saat anak sedang mengalami kecemasan maupun depresi, namun orang tua yang mengenal anak mereka dengan baik tentunya dapat mengetahui jika gejala-gejala seperti ini muncul,” jelas Jones.
Jika anak terlihat sedang mengalami beberapa gejala seperti yang telah dijelaskan di atas, kamu sebagai orang tua perlu untuk melihat lebih jauh. Jika gejala yang dirasakan anak terlihat lebih parah, pastikan untuk segera menemui dokter maupun psikiater untuk mendapatkan pertolongan secepatnya.
Namun, terdapat satu hal sederhana yang dapat kamu lakukan untuk memastikan kondisi anak, yaitu dengan menanyakan kabar serta keadaannya setiap hari. Dengan begitu anak akan menjadi lebih terbuka terhadapmu tentang kondisi yang dirasakannya. (cit)
Baca Juga:
Bagikan
Berita Terkait
Program Keluarga SIGAP Dorong Perubahan Perilaku Lewat Layanan Kesehatan Primer
Usai Banjir Bandang, Warga Aceh Tamiang Banyak Alami Gangguan Kesehatan
Kemenkes: 4 dari 1.000 Orang Mengalami Skizofrenia
AS Kurangi Jumlah Vaksin Wajib untuk Anak-Anak, Timbulkan Kekhawatiran Peningkatan Risiko Penyakit
Gubernur Pramono Tegaskan belum Ditemukan Super Flu di Jakarta
DPR Minta Pemerintah Gerak Cepat Antisipasi Ancaman Super Flu, Dorong Kemenkes Terbitkan Vaksin Pencegah
Waspada Super Flu, 62 Kasus Terkonfirmasi di Indonesia Terbanyak di Jawa Timur
Super Flu Masuk ke Indonesia, Kemenkes Imbau Kenali Gejala dan Terapkan Protokol Kesehatan
Teknologi Bedah Robotik Memungkinkan Tindakan Presisi untuk Kenyamanan Pasien, kini Hadir di Siloam Hospitals Kebon Jeruk
Raphael Varane Ngaku Alami Depresi saat Masih di Real Madrid, Paling Parah setelah Piala Dunia 2018!