MERAHPUTIH.COM - POTENSI kerawanan dalam pemungutan suara Pemilu 2024 besar terjadi. Ketua Bawaslu Rahmat Bagja mengingatkan potensi kerawanan dalam penggunaan printer dan scanner sebagai alat bantu rekapitulasi suara.
Menurutnya, banyak aspek yang perlu diperhatikan dalam pemanfaatan alat tersebut dalam melakukan rekapitulasi suara. “Pertama berkaitan dengan kondisi TPS, apakah TPS-nya teraliri listrik atau tidak. Kondisi TPS yang tidak teraliri listrik tentu akan jadi masalah. Kemudian apakah akan mati listrik,” ujar Bagja di Jakarta, Kamis (8/2).
BACAJUGA:
Ancaman Siber Bayangi Pemilu 2024, Anggota DPR Minta BSSN Diperkuat
Dia menambahkan aspek yang perlu diperhatikan dalam hal ini ialah kemampuan sumber daya manusia Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS). KPU harus memastikan bahwa setidaknya satu KPPS mempunyai kemampuan untuk mengoperasikan printer dan scanner. “Karena ini berkaitan juga dengan rekapitulasi manual karena formnya diisi kemudian diperbanyak melalui fotokopi,” imbuh alumnus Universitas Indonesia itu.
Bagja menyarankan agar KPU melakukan pelatihan atau pendampingan dalam penggunaan alat printer dan scanner. Ia berpendapat terkadang penggunanya juga kesulitan untuk mengoperasikan scanner dan mesin printer menggunakan gadget yang dimiliki.
Meski demikian, Bagja mengapresiasi penggunaan alat tersebut untuk mengurangi tingkat kelelahan yang dihadapi KPPS seperti pada Pemilu 2019 karena harus mengisi formulir yang banyak. “Ini mengapa, Bawaslu harus mengawal semua tahapan dari tingkat atas hingga yang paling bawah,” pungkas Bagja.(knu)
BACA JUGA:
KPU Sebut Distribusi Logistik Pemilu 2024 Sudah Lebih dari 90 Persen