KETIKA masih duduk di bangku sekolah, pasti sempat terlintas untuk cepat-cepat menjadi seorang mahasiswa. Karena tak perlu lagi memakai seragam, bisa memilih kelas siang atau malam tanpa harus bangun di pagi buta. Namun, bagaimana jika kamu dihadapkan dengan kenyataan kehidupan mahasiswa yang sesungguhnya?
Menjadi seorang mahasiswa tidak semudah yang kamu pikirkan dan tidak sesederhana seperti cerita-cerita yang ada di dalam film atau dalam novel. Ketika kamu menjadi seorang mahasiswa, tentunya kamu telah memasuki masa transisi dari remaja menuju dewasa dimana kamu akan mengalami sejuta dilema dalam menentukan tujuan hidupmu sendiri.
Baca juga:
Dalam masa transisi ini, kamu akan dituntut untuk bisa menentukan pilihan dan menentukan prioritas yang akan menentukan kehidupanmu yang akan datang.
Ketika menjadi seorang mahasiswa, kamu akan memiliki waktu yang tidak banyak namun tetap harus bisa membagi waktu antara tugas kuliah, organisasi, dan ngumpul bersama teman-teman.
Lantas, apa yang akan terjadi jika seorang mahasiswa tidak bisa menentukan prioritasnya sendiri? tentunya semua akan berantakan, dari nilai hingga wisuda yang tertunda.
Hal ini bisa menyenbakan seorang mahasiswa mengalami stres, depresi, rasa cemas yang tinggi hingga merasa tak percaya diri. Melansir laman The Guardian, pada umumnya semua orang akan mengalami fase ini ketika memasuki umur 20-an dimana hal ini disebut sebagat quarterlife crisis.
Mengutip tulisan Carly Wood di laman The Conversation, berdasarkan data yang ada, dalam 10 tahun terakhir di Inggris terdapat peningkatan lima kali lipat jumlah mahasiswa yang mengalami gangguan kesehatan mental, seperti tingkat kecemasan yang tinggi, depresi dan skizofrenia.
Baca juga:
Bahkan, penelitian yang dilakukan oleh American College Health Association (ACHA), yang dituliskan Carly Wood dalam laman The Conversation, menemukan bahwa gangguan kesehatan mental pada mahasiswa di Amerika Serikat sudah sampai tahap dimana banyaknya mahasiswa yang mengalami putus asa hingga mempertimbangkan untuk bunuh diri.
Dalam tulisannya yang terdapat di laman The Conversation, Carly Wood menuliskan, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Universitas Cornell Ithaca, New York, Amerika Serikat, menunjukkan bahwa kesehatan mental mahasiswa akan meningkat lebih baik jika terpapar dengan alam sekitar 10 menit dalam sehari.
Hal ini dibuktikan dengan berada di luar rumah dan berada di lingkungan alam terbuka akan membantu mengurangi kadar kortisol atau hormon stres dalam tubuh seseorangdan meningkatkan kesehatan mental seseorang.
Tak hanya itu, jika kamu berada berada di lingkungan terbuka dalam jangka waktu 10 hingga 20 menit dapat menurunkan tekanan darah dan meningkatkan suasana hati. (Bel)
Baca juga: