Merahputih.com - Sinar matahari pagi memantul di permukaan Kali Taman Semanan Indah saat puluhan petugas berseragam mulai menyisir lumpur hitam. Bukan mencari harta karun, namun mata tajam mereka mengincar predator tangguh penghuni dasar air, ikan sapu-sapu.
Di tangan para petugas, jaring-jaring beradu demi mengamankan struktur kota serta menjaga kesehatan warga dari ancaman pangan berbahaya.
Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta Barat (Jakbar) menyediakan apresiasi khusus berupa uang tunai Rp25 ribu per kilogram (kg) bagi petugas gabungan sukses menangkap ikan tersebut.
Baca juga:
Ikan Sapu-Sapu Jajah 60 Persen Sungai Jakarta, Pramono Anung Perintahkan Operasi Senyap
Selain uang saku, tiket rekreasi gratis menuju Ancol menanti sebagai bonus penyegar pikiran usai bekerja keras.
"Ada apresiasi buat mendapatkan ikan, Rp25 ribu untuk satu kilogram, itu buat satu grup. Jadi, nanti mereka bisa nikmati bersama-sama dan kita juga akan ajak mereka refreshing, jalan-jalan ke Ancol," tutur Wali Kota Jakarta Barat Iin Mutmainnah, Jumat (17/4).
Ancaman Turap Ambrol dan Ekosistem Lokal
Hanya dalam waktu hampir satu jam, operasi ini membuahkan hasil tangkapan lebih dari 20 kg. Iin Mutmainnah optimis angka tersebut terus bertambah seiring perluasan jangkauan penyisiran kali sebelum waktu shalat Jumat tiba. Seluruh hasil tangkapan segera dikirim menuju Sentra Flora Semanan guna proses penguburan massal.
Langkah tegas ini diambil lantaran sifat invasif ikan sapu-sapu merusak keseimbangan alam. Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Perikanan (KPKP) Jakarta Mujiati menjelaskan, populasi tak terkendali berpotensi menggerus struktur turap kali karena kebiasaan mereka bersembunyi di lumpur.
“Kalau jumlahnya banyak, dikhawatirkan bisa mengganggu bagian bawah turap karena mereka bersembunyi di lumpur,” terang Mujiati.
Bahaya Logam Berat di Balik Gurihnya Siomay
Keresahan serupa diungkapkan Kepala Seksi Perikanan Suku Dinas KPKP Jakarta Barat Aas Asih mengenai dampak biologis ikan sapu-sapu. Selain melubangi tembok saluran air hingga rapuh, ikan ini sanggup mendesak keberadaan ikan lokal karena kecepatan perkembangbiakannya.
Baca juga:
Namun, ancaman paling nyata justru mengintai meja makan masyarakat. Aas mengungkap adanya oknum tidak bertanggung jawab memburu ikan ini sebagai bahan baku makanan olahan seperti siomay. Padahal, tubuh ikan sapu-sapu dari perairan tercemar mengandung bakteri E. coli, Salmonella, serta logam berat timbal.
"Dikhawatirkan kalau ada masyarakat mengkonsumsi olahan ikan sapu-sapu secara terus-menerus, logam berat terakumulasi dalam tubuh manusia, makanya mesti dibasmi," pungkas Aas menutup penjelasan mengenai urgensi pembersihan kali.