PDIP Minta Gubernur DKI Siaga Bencana
Sekretaris Jenderal DPP PDIP Hasto Kristiyanto. (MP/Ponco Sulaksono)
MerahPutih.com - DPP PDI Perjuangan meminta Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan untuk mengecek kesiapan Jakarta sebagai ibu kota Indonesia dalam menghadapi kemungkinan bencana alam.
Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengaku bahwa pihaknya juga telah mengirimkan surat resmi ke PDI Perjuangan DPRD DKI Jakarta.
"Isinya, meminta fraksi segera menyampaikan pesan partai kepada Gubernur DKI Jakarta mengenai kesiagaannya menghadapi bencana alam," kata Hasto di Menteng, Jakarta, Kamis (13/12).
Menurut Hasto, kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana alam sangat penting, sehingga sejak awal masyarakat sudah harus diberikan kesadaran dan pemahaman untuk mempersiapkan diri sebaik-baiknya menghadapi potensi bencana.
"PDI Perjuangan secara khusus ingin Pemerintah Provinsi DKI Jakarta benar-benar mengecek bangunan tinggi di Jakarta. Sejauh mana kekuatannya dan kesiapan menghadapi bencana, khususnya gempa," katanya.
Menurut Hasto, di negara seperti Jepang, aspek kesiapsiagaan terhadap bencana itu sangat dipertimbangkan dan diperhitungkan. Sehingga gedung, khususnya bangunan tinggi, wajib dibangun dengan standar tertentu untuk mampu menahan gempa hingga 9 skala richter (SR).
"Kami meminta pengecekan gedung-gedung tinggi di Jakarta, apakah dibangun dengan memperhatikan aspek ketahanan gempa atau tidak," kata Hasto.
Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, menurut Hasto, berpesan untuk mendalami kemungkinan meletusnya anak Gunung Krakatau, Rakata, yang berlokasi di Selat Sunda.
"Bagaimana kemungkinan pengaruhnya terhadap Jakarta. Apakah kita sudah siap bila letusan itu terjadi. Ini bukan menakut-nakuti, tapi demi mempersiapkan diri kita semua," katanya.
Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG Prof Mezak A Ratag, yang menjadi pembicara pada workshop itu, mengatakan pengetahuan dan kesiapsiagaan dini soal bencana itu sangat penting.
Dia memberikan catatan, di kota-kota besar terjadi kenaikan temperatur seperti di Jakarta, Surabaya, Medan, Semarang, dalam 100 tahun rata-rata terjadi kenaikan suhu satu persen. "Angka ini lebih ekstrem dibandingkan dengan kota-kota besar di negara lain," katanya.
Menurut dia, daerah yang kenaikan temperaturnya paling ekstrem di Indonesia adalah Cilacap, di Jawa Tengah, yakni naik sampai 3,4 derajat Celsius. "Setelah diselidiki, ternyata ada kilang minyak di daerah itu," katanya.
Adanya bencana angin puting beliung di beberapa kota dan kerap menjadi viral di media sosial, menurut dia, sebenarnya berkait dengan fenomena udara panas.
"Kenaikan suhu dan udara panas ini yang jadi pemicu kenapa ada puting beliung. Karena trigger-nya adalah udara panas. Panas ini yang memicu udara berputar," kata Mezak.
Bagikan
Berita Terkait
“Hati Bertali”, Lagu Bumiy yang Merangkul Duka dan Harapan di Tengah Bencana
Total Kerusakan dan Kerugian Bencana Alam di Sumbar Capai Rp 33,5 Triliun
Lalin Jembatan Bailey Bireuen Aceh-Medan Gantian Tiap 1 Jam, Buka-Tutup Hingga September
Ribuan Rumah di 14 Desa Karawang Teredam Banjir, 27 Ribu Warga Terdampak
Usai Banjir Bandang, Warga Aceh Tamiang Banyak Alami Gangguan Kesehatan
Sumatera Barat Masuki Fase Pemulihan, BNPB Tekankan Validasi Lahan Aman Hunian
Kemenhut Bentuk Tim Percepatan Pembersihan Kayu Hanyut Pascabanjir Sumatra
Kapolda Ajak Masyarakat Aceh Tamiang Jadikan Lumpur Sisa Banjir untuk Media Tanam Tumbuhan
Korban Bencana Sumatra Tembus 1.189 Orang, 195 ribu Jiwa Masih Bertahan Hidup di Tenda Pengungsian
Enam Perusahaan di Ujung Tanduk, KLH Siapkan Gugatan Triliunan Atas Tragedi Longsor Sumatra