MerahPutih.com - Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengungkapkan hasil paper test di beberapa bandara menunjukkan negatif abu vulkanik. Namun, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) belum terburu-buru membuka kembali operasional penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta.
Kemenhub masih menunggu hasil advisory dari Volcanic Ash Advisory Centre (VAAC) Darwin yang dijadwalkan keluar sekitar pukul 19.30 WIB.
VAAC Darwin menjadi salah satu acuan dalam menganalisis pergerakan material vulkanik Gunung Anak Krakatau di atmosfer.
"Jadi kami bersikap konservatif karena khususnya berkaitan dengan keselamatan. Kami ingin menunggu lagi hasil terakhir, kurang lebih sekitar pukul 19.30 WIB akan keluar lagi advisory dari Darwin," katanya di Jakarta, Senin (7/9).
Baca juga:
Bandara Soekarno-Hatta Terdampak Abu Vulkanik, Pindah ke Kertajati hingga Yogyakarta
Kemenhub Pastikan Abu Vulkanik Menjauh dari Bandara
Dudy mengatakan Kemenhub masih memastikan debu vulkanik tidak lagi bergerak menuju lokasi bandara yang berada di sekitar Gunung Anak Krakatau.
Menurut dia, langkah tersebut diperlukan karena keselamatan penerbangan tidak dapat dikompromikan.
Jadi kita ingin memastikan dulu karena sebagaimana tadi disampaikan oleh Pak Menko, keselamatan itu tidak bisa kita tawar-tawar, selalu menjadi prioritas utama kita semua,
Menteri Perhubungan RI, Dudy Purwagandhi.
Meski hasil paper test di beberapa bandara negatif abu vulkanik, Dudy menegaskan pihaknya tidak ingin tergesa-gesa membuka kembali operasional Bandara Soekarno-Hatta.
Penutupan Bandara Soekarno-Hatta diperpanjang hingga pukul 24.00 WIB.
Baca juga:
Penerbangan Terdampak Abu Vulkanik Anak Krakatau, 6 Bandara Alternatif Disiapkan Pemerintah
Pesawat Perlu Dibersihkan dari Debu Vulkanik
Dudy menjelaskan, keputusan memperpanjang penutupan juga mempertimbangkan kondisi taxiway dan apron. Selain itu, maskapai membutuhkan waktu untuk mempersiapkan pesawat yang akan kembali beroperasi.
"Kemudian juga taxiway dan apron, dan juga memberikan kesempatan kepada para operator, airlines, untuk menyiapkan pesawatnya, ya, karena harus membersihkan dari debu-debu yang ada," tambahnya.
Menurut Dudy, proses tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan keselamatan penumpang sebelum penerbangan kembali dibuka.
Karena itu, Kemenhub memilih mengambil langkah konservatif dan tidak menjadikan kecepatan pembukaan sebagai pertimbangan utama.
"Jadi kita tidak ingin di-drive karena masalah ingin cepat-cepat, tapi kemudian mengenyampingkan aspek keselamatan," tutupnya. (Knu)