Merahputih.com - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta secara masif menggencarkan upaya pengendalian ikan sapu-sapu di sepanjang aliran sungai dan selokan untuk menyelamatkan ekosistem air Jakarta dari ancaman spesies invasif yang merusak habitat ikan lokal.
Pakar Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia (UI), Mahawan Karuniasa, menegaskan bahwa dominasi ikan sapu-sapu telah mengganggu struktur biologi perairan ibu kota secara serius. Sifat adaptif spesies ini membuat keberadaan ikan asli semakin terhimpit.
Baca juga:
Kenali Bahaya Ikan Sapu-Sapu untuk Ekosistem dan Risiko Hukumnya Jika Dilepas Sembarangan
"Memang ikan sapu-sapu ini cukup berbahaya secara ekologis ya, terutama kalau mendominasi populasinya, mendominasi komunitas ikan, khususnya di ekosistem sungai," ujar Mahawan, Rabu (22/4).
Ancaman Kompetisi Pakan dan Bahaya Konsumsi
Mahawan menjelaskan bahwa bahaya utama spesies ini terletak pada kemampuannya memenangkan persaingan ruang dan makanan.
Ikan sapu-sapu yang bersifat agresif dalam mencari makan sering kali mengganggu fase pengembangbiakan ikan lokal, mulai dari tahap telur hingga pertumbuhan larva.
Selain merusak tatanan ekologi, ikan ini mengandung zat pencemar tinggi sehingga sangat tidak layak konsumsi. Mengingat kemampuannya bertahan di perairan berpolusi ekstrem, tubuh ikan sapu-sapu menyimpan akumulasi limbah berbahaya yang mengancam kesehatan manusia jika dikonsumsi.
Strategi Pemusnahan dan Pemulihan Ekosistem
Pemprov DKI Jakarta menerapkan kebijakan pemusnahan terkontrol dengan mengubur hasil tangkapan guna memutus rantai penyebaran.
Baca juga:
Rano Karno Evaluasi Penanganan Ikan Sapu-Sapu: Tak Boleh Dikubur Hidup-Hidup
Mahawan mengapresiasi langkah ini namun mengingatkan perlunya aksi jangka panjang yang lebih sistematis, termasuk penangkapan masif di lokasi sarang tebing sungai saat musim reproduksi.
Sebagai langkah pemulihan, Mahawan menyarankan pemerintah melakukan penguatan kembali komunitas ikan lokal.
"Jika memungkinkan ada semacam restocking spesies lokal yang memang benar-benar berbasis ilmiah bahwa memang spesies itu ada di situ, ditambahkan ikannya," tandas Mahawan.