Pakar AMA Mulai Tinggalkan BMI Sebagai Tolok Ukur Kesehatan
American Medical Association memilih untuk menjauh dari penggunaan BMI sebagai patokan kesehatan. (Foto: Freepik/@Anastasia Kazakova)
KETIKA masuk ke ruang dokter atau pusat kebugaran dalam beberapa tahun terakhir, kamu kemungkinan mendapat penghitungan Indeks Massa Tubuh atau Body Mass Index (BMI).
Rumus BMI menggunakan berat badan seseorang dalam kilogram dibagi dengan kuadrat tinggi badannya dalam meter. Jumlah yang dihasilkan diklasifikasikan ke dalam salah satu dari empat kategori: kurus, berat badan normal, kelebihan berat badan, atau obesitas.
Label ini sangat produktif dalam sistem medis di berbagai negara. Bahkan, klasifikasi BMI bahkan digunakan untuk menetapkan kelayakan vaksin COVID-19.
Pada awal Juni, American Medical Association (AMA) memilih untuk menjauh dari penggunaan BMI sebagai ukuran untuk menilai berat badan dan kesehatan seseorang.
Pihak tersebut menilai perhitungan BMI bermasalah karena berbagai alasan. Untuk memahami alasannya, kamu harus terlebih dahulu memahami sejarahnya.
BMI ditemukan pada 1830-an oleh seorang ahli statistik Belgia yang ingin menggambarkan kesehatan ideal untuk "orang biasa".
Baca juga:
Penghitungan ini menjadi lebih banyak digunakan pada 1970-an ketika ahli fisiologi Ancel Keys mencari cara yang lebih baik bagi perusahaan asuransi jiwa AS untuk memperkirakan lemak tubuh orang, dan menghubungkannya dengan risiko kematian mereka.
Keys menunjukkan bahwa perhitungan BMI lebih baik dan lebih sederhana daripada metode industri asuransi pada masa itu.
Sementara BMI berguna dalam mengevaluasi populasi besar, cara penghitungan tersebut kurang membantu dalam mengevaluasi kesehatan orang per orang. Ukuran tersebut tidak memberikan cara untuk mengukur massa tulang atau otot seseorang.
Akibatnya, atlet seringkali memiliki BMI lebih tinggi karena memiliki massa otot lebih banyak. Saat bersamaan, orang kehilangan massa otot dan menambah lemak perut seiring bertambahnya usia. Perubahan tidak sehat ini tidak terdeteksi dengan mengukur BMI.
Masalah utama lainnya adalah BMI dikembangkan dan diuji terutama pada laki-laki kulit putih, tetapi komposisi tubuh sangat bervariasi pada jenis kelamin, ras, dan etnis yang berbeda.
Berat badan dan komposisi tubuh yang sehat untuk perempuan kulit hitam mungkin tampak "obesitas" atau "kelebihan berat badan" pada skala BMI.
Ada bukti telah menunjukkan masalah ini. Riset yang diterbitkan oleh International Journal of Obesity pada 2016 membandingkan BMI dengan ukuran kesehatan lainnya termasuk tekanan darah, trigliserida, kolesterol, glukosa, dan resistensi insulin pada lebih dari 40.000 orang dewasa.
Baca juga:
Para peneliti menemukan hampir setengah dari individu yang kelebihan berat badan dan hampir 30 persen dari individu yang obesitas memiliki metabolisme yang sehat. Sebaliknya, lebih dari 30 persen orang yang diklasifikasikan sebagai "berat badan normal" dalam penelitian ini tidak sehat secara metabolik.
Dengan mengekstrapolasi data ini, mereka memperkirakan bahwa lebih dari 74 juta orang dewasa AS salah diklasifikasikan sebagai sehat atau tidak sehat menurut pengukuran BMI.
Kebijakan baru yang diadopsi oleh American Medical Association tidak menghilangkan BMI sepenuhnya. Sebagai gantinya, AMA menyarankan dokter menggunakan faktor lain untuk mengevaluasi kesehatan dan berat badan termasuk lemak perut, kadar gula darah, dan tes tiroid.
“Ada banyak kekhawatiran dengan cara BMI digunakan untuk mengukur lemak tubuh dan mendiagnosis obesitas, tapi beberapa dokter menganggapnya sebagai ukuran yang membantu dalam skenario tertentu,” kata Mantan Presiden AMA Dr. Jack Resneck, Jr. seperti diberitakan Psychology Today (28/6).
Dia menambahkan, penting bagi dokter untuk memahami manfaat dan keterbatasan penggunaan BMI dalam pengaturan klinis untuk menentukan perawatan terbaik bagi pasien. (aru)
Baca juga:
Bagikan
Hendaru Tri Hanggoro
Berita Terkait
Program Keluarga SIGAP Dorong Perubahan Perilaku Lewat Layanan Kesehatan Primer
Usai Banjir Bandang, Warga Aceh Tamiang Banyak Alami Gangguan Kesehatan
AS Kurangi Jumlah Vaksin Wajib untuk Anak-Anak, Timbulkan Kekhawatiran Peningkatan Risiko Penyakit
Gubernur Pramono Tegaskan belum Ditemukan Super Flu di Jakarta
DPR Minta Pemerintah Gerak Cepat Antisipasi Ancaman Super Flu, Dorong Kemenkes Terbitkan Vaksin Pencegah
Waspada Super Flu, 62 Kasus Terkonfirmasi di Indonesia Terbanyak di Jawa Timur
Super Flu Masuk ke Indonesia, Kemenkes Imbau Kenali Gejala dan Terapkan Protokol Kesehatan
Teknologi Bedah Robotik Memungkinkan Tindakan Presisi untuk Kenyamanan Pasien, kini Hadir di Siloam Hospitals Kebon Jeruk
Water Turbine Project: Inisiatif Pendidikan Seni Museum MACAN untuk Isu Air dan Lingkungan
Ribuan Jejak Kaki Dinosaurus Ditemukan di Pegunungan Italia, Polanya Rapi bahkan Membentuk Pertahanan