Nasionalisme Zaman Now Beda Dengan Nasionalisme Masa Kemerdekaan
Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan (kanan) menyerahkan dokumen PAN kepada Tim Verifikasi KPU Wahyu Setiawan (tengah). ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja
Merahputih.com - Ketua MPR, Zulkifli Hasan menegaskan makna nasionalisme pada zaman saat ini berbeda dengan nasionalisme pada masa perjuangan kemerdekaan.
"Nasionalisme saat ini, adalah figur yang mengenal baik jati dirinya sendiri, kampung halaman dan budayanya, serta mencintai negaranya," kata Zulkifli Hasan saat menyampaikan pidatonya pada kegiatan Puncak Milad ke-54 Ikatan Mahaiswa Muhammadiyah (IMM) di Kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Rabu (14/3).
Menurut Zulkifli, untuk memiliki jiwa nasionalisme saat ini harus memenuhi beberapa kriteria, pertama, mengenal latar belakang daerah dan budayanya dengan baik.
Seorang pemuda, harus mengenal dengan baik kampung halamannya, lingkungan sekitarnya, budaya dan kearifan lokalnya, sehingga memiliki rasa kedaerahan yang kuat.
Kedua, ilmu pengetahuan dan teknologi. Menurut dia, dengan menguasai ilmu pengetahian dan teknologi, maka suatu bangsa dapat memiliki daya saing tinggi dan berkompetisi dengan bangsa-bangsa lainnya.
"Dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, dapat mengelola bangsanya dengan baik," katanya dilansir Antara.
Ketiga, memahami nilai-nilai luhur bangsa. Menurut dia, Indonesia memiliki landasan ideologi Pancasila, yang dalam setiap silanya memiliki nilai-nilai luhur bangsa.
Dengan memahami nilai-nilai luhur bangsa, kata dia, maka menjadikan bangsa Indonesia, rukun, damai, dan adil.
"Kenyataannya, saat ini masih terjadi saling cemooh dan masih banyak beredar berita hoaks. Hal ini karena masih banyaknya praktik transaksional," katanya.
Pada kesempatan tersebut, Zulkifli mengingatkan mahasiwa Muhammadiah serta pemuda lainnya di seluruh Indonesia, untuk memiliki jiwa nasionalisme yang aktual.
Zulkifli mengingatkan mahasiswa, untuk mengenal baik kampung halaman dan daerah asalnya, mengenal dengan baik budaya dan kearifan lokalnya, menimba ilmu pengetahuan setinggi-tinggiya, serta memahami dan menerapkan nilai-nilai luhur bangsa.
Pada kesempatan tersebut, Zulkifli juga semapat mengundang tiga mahasiswa untuk naik ke atas panggung dan diberikan pertanyaan soal data-data di daerah asalnya , seperti jumlah penduduk, jumlah penduduk miskin, jumlah pengangguran, jumlah anak yatim-piatu, dan sebagainya.
Menurut Zulkifli, mahasiswa tersebut sulit menjawab dengan data yang tepat, tapi mengatakan jumlahnya banyak.
"Itu menunjukkan masih kurang peduli terhadap kampung halaman dan lingkungan sekitar," katanya. (*)
Bagikan
Angga Yudha Pratama
Berita Terkait
Dianggap Pencitraan saat Panggul Beras, Zulhas Santai Tanggapi Hujatan Netizen
Dihujat Pencitraan Saat Bencana, Zulhas: 1 Karung Beras pun Penting
Presiden Prabowo Kasi Peringatan, Eddy Soeparno Tegaskan Menteri PAN Bekerja dengan Baik
Menkeu Purbaya Respons Zulhas soal Anggaran MBG tak Bisa Dialihkan
Kunjungi Rumah Pangan PNM, Menko Pangan Panen Brokoli hingga Ayam Petelur
Jokowi dan Zulhas Jadi Saksi Nikah Walkot Tegal, Ngakak Dengar Tepuk Sakinah
Tidak Tega Kalau Semua Masalah Sampai ke Presiden Prabowo, Menko Zulhas: Itu Enggak Boleh
Prabowo Tekankan Keselamatan Anak Prioritas Utama MBG
Bank BUMN Disuntik Rp 200 T, Menko Zulhas Minta Jatah Modal 16.000 Kopdes Merah Putih
4 Provinsi Bakal Dipilih Jadi Tempat Swasembada Pangan, Air dan Energi, Rp 8 Triliun Buat Cetak Sawah Baru