Nasib Petani Perkotaan: Menjunjung Tradisi atau Meraup Untung Besar
Ilustrasi petani (Foto: Antara)
MerahPutih Nasional - Sanim mungkin salah satu warga asli Jakarta yang masih mempertahankan tradisi leluhur, yakni bercocok tanam. Sayangnya, ia terjebak dalam sebuah permainan antara mempertahankan tradisi leluhur atau mendapat untung lebih besar. Inilah potret kecil dari 70 Tahun Indonesia Merdeka, kaum petani di pinggiran perkotaan makin tergerus komersialisasi.
Pada akhirnya Sanim kalah. Lahan sawah yang dimilikinya seluas 1.700 meter, terpaksa ia sewakan untuk lahan pemancingan. Salah satu alasannya, antara penghasilan bertani dengan pengeluarannya yang harus membayar pajak tak sebanding.
"Sawah yang dikontrakin buat pemancingan luasnya 1700 meter. Penghasilan enggak sesuai dengan pajak," kata Sanim, ketika ditemui merahputih.com di kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur, Selasa (24/2).
Setiap tahun, kata Sanim, harus mengeluarkan Rp2 juta untuk membayar pajak bumi dan bangunan (PBB). Sementara, panen yang ia hasilkan hanya berkisar 3 kuintal. "Tiga kuintal gabah kering," terangnya.
BACA JUGA: Jurus Jokowi Menggenjot Swasembada Beras
Sementara itu, Sanim tak bisa berbuat banyak. Pasalnya, lahan yang ia sewakan sejak dua tahun lalu hanya dihargai sebesar Rp20 juta per lima tahun. Belum lagi, uang tersebut harus dibagi rata dengan keempat saudaranya.
Jika kontrak habis, kata Sanim, harga akan dinaikkan menjadi Rp30 juta. Namun, jika tak ingin diperpanjang Sanim ingin mengelolanya sendiri untuk area pemancingan.
Sebenarnya, lanjut Sanim, sudah banyak yang kepincut ingin membeli lahan yang dimiliki. Namun, Sanim tak berniat menjualnya lantaran harga penawar tak sesuai dengan yang diinginkannya.
"Kami buka Rp2 juta, ditawar Rp1juta. Kami rapat dulu sama saudara kalau mau jual, kalau kagak semua, kagak semua," katanya.
Sanim sendiri, saat ini masih menggarap sawah seluas 3000 meter milik sebuah perusahaan yang tak mau disebutkannya. Lokasinya berada tak jauh dari lahan milik Sanim.
"Ini punya PT, selagi belum dipakai. 3.000 meter digarap berdua sama adik, hasilnya 5 kuintal," tukasnya.(mad)
Bagikan
Berita Terkait
Indonesia Surplus Beras 3,5 Juta Ton, DPR Ingatkan Jangan Abaikan Petani
DPR Dorong Swasembada Pangan Meluas, Termasuk Mandiri Jagung, Kedelai, dan Protein Hewani
Indonesia Swasembada Pangan, DPR Ingatkan Pemerintah Dompet Petani Juga Harus 'Tebal'
Surplus Beras Nasional Naik 243%, HPP Gabah Kering Panen Tetap Rp 6.500/kg
Presiden Prabowo Tegaskan Pentingnya Pemahaman Pasal 33 UUD 1945, Pejabat yang tak Mengerti Diminta Keluar
Momen Presiden Prabowo Subianto Hadiri Panen Raya dan Umumkan Swasembada Pangan 2025
Presiden Prabowo Ungkap Keprihatianan, Sebut Banyak Kekayaan Negara yang Bocor karena tak Pandai Mengelola
Prabowo: Indonesia Tak Akan Merdeka Tanpa Jasa Petani
Hadiri Panen Raya di Karawang, Prabowo Deklarasikan Swasembada Pangan Nasional
Di Hadapan Petani Prabowo Bicara Soal Tuduhan Bakal Jadi Diktator dan Ambisi Berkuasa