MerahPutih.com - Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengumumkan surplus beras nasional meningkat hingga 243,2 persen dalam empat tahun terakhir.
“Ini merupakan langkah nyata dan tekad pemerintah untuk melindungi petani sebagai elemen penting dalam kerangka percepatan swasembada pangan,” kata Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, di Jakarta, Kamis (8/1).
Baca juga:
Prabowo Berbesar Hati Capaian Stok Beras Nasional Lampaui Era Soeharto
Strategi Pemerintah Jaga Produksi
Dalam catatan Bapanas, pemerintah sempat melakukan impor CBP sebesar 57,4 ribu ton pada 2022, kemudian 2,81 juta ton pada 2023, dan 3,85 juta ton pada 2024.
Namun dilansir dari Antara, pada 2025 tidak ada impor beras umum karena hasil petani dalam negeri mampu memenuhi kebutuhan.
Amran menegaskan salah satu strategi peningkatan produksi beras nasional adalah menjaga harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani.
Pemerintah menetapkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Rp 6.500 per kilogram untuk GKP sesuai Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2025 dan Keputusan Kepala Bapanas Nomor 14 Tahun 2025.
Baca juga:
Pemerintah Akui Harga Beras Naik Dampak HPP Gabah Rp 6.500, Tapi Petani Nyaman
Produksi Melampaui Konsumsi
Dalam kalkulasi Bapanas, surplus produksi terhadap konsumsi beras di 2025 mencapai 3,52 juta ton. Angka itu berasal dari total produksi 34,71 juta ton yang melampaui kebutuhan konsumsi 31,19 juta ton per tahun.
Pada 2022, produksi beras tercatat 31,54 juta ton dengan konsumsi 30,51 juta ton, sehingga terdapat surplus 1,02 juta ton. Surplus ini melonjak hingga 243,2 persen pada 2025.
Sementara pada 2023, surplus hanya 204,29 ribu ton, dan pada 2024 tidak ada surplus. Namun, di 2025 Indonesia berhasil mencapai swasembada beras dengan surplus besar dan nihil impor untuk Cadangan Beras Pemerintah (CBP).
“Hal lain yang semakin meneguhkan pencapaian swasembada beras di tahun 2025 adalah nihilnya impor untuk Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang ditugaskan Bapanas ke Perum Bulog,” tandas Amran. (*)