MerahPutih.com - Di tengah erupsi Gunung Anak Krakatau yang menebar abu hingga ke berbagai wilayah, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan imbauan spiritual.
Masyarakat diajak memperbanyak zikir, doa, tobat, dan muhasabah sebagai ikhtiar batiniah yang melengkapi langkah kesiapsiagaan lahiriah.
Baca juga:
268 Ribu Penumpang Pesawat Gagal Terbang Akibat Erupsi Anak Krakatau
Ikhtiar Lahiriah dan Batiniah
Ketua MUI Bidang Fatwa, Prof KH Asrorun Ni’am Sholeh, menegaskan menghadapi bencana tidak cukup hanya dengan kesiapsiagaan fisik.
Menurut Ni’am, erupsi gunung berapi secara teologis termasuk bencana ibtidaiyah atau ghairu muktasab, yakni kejadian yang tidak muncul akibat ulah manusia.
Meski demikian, lanjut dia, manusia tetap wajib berikhtiar menjaga keselamatan dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan mengikuti arahan pihak berwenang.
Masyarakat diimbau untuk memperbanyak zikir, doa, tobat, serta muhasabah agar selalu mendapat perlindungan dari Allah SWT di tengah berbagai ujian dan musibah ini,
Ketua MUI Bidang Fatwa, Prof KH Asrorun Ni’am Sholeh

Gunung Anak Krakatau erupsi dengan menyemburkan abu vulkanik, Minggu (6/9/2026). ANTARA/Handout
Empati dan Kepedulian Sosial
MUI juga meminta masyarakat di kawasan rawan bencana untuk terus memantau informasi resmi dari BMKG dan Pos Pengamatan Gunung Api, serta memahami mekanisme keselamatan saat terjadi semburan atau erupsi.
Baca juga:
Kemenkes Buka Beban Kesehatan Erupsi Anak Krakatau, 3,3 Juta Lansia Terancam Abu Vulkanik
Ni’am mengingatkan masyarakat di wilayah aman agar meningkatkan kepedulian terhadap warga terdampak. Dia juga menekankan kesiapsiagaan, kepedulian sosial, dan doa harus berjalan beriringan dalam menghadapi ujian bencana.
“Saatnya kita bangun empati, kita sisihkan sebagian rezeki untuk meringankan beban saudara-saudara kita yang tertimpa musibah,” tandasnya. (Knu)