MerahPutih.com - Ketua Forum Perkeretaapian Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Deddy Herlambang, mengkritik pernyataan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, agar posisi gerbong wanita pada Kereta Rel Listril (KRL) dipindah ke area tengah rangkaian kereta, dan laki-laki ke ujung rangkaian.
Menurut Deddy, perkataan Arifah merupakan usulan yang ngawur. Sebab, nyawa laku-laki dan perempuan berharga dan tidak ada yang boleh dikorbankan. Mestinya, pemerintah memiliki solusi jitu atasi kecelakaan pada kereta api.
"Itu usulan absurd itu sama aja nyawa laki-laki or perempuan semua mahal," kata Deddy kepada wartawan, Rabu (29/4).
Ia berpendapat, bahwa gerbong wanita berada di belakang tak menjadi soal. Konsep itu juga diberlakukan di kereta api Jepang.
Baca juga:
Pemerintah Ungkap Alasan Gerbong Khusus Perempuan Ada di Ujung Kereta
"Justru lebih eksklusif bila Kereta Khusus Wanita (KKW) itu diletakkan di ujung-ujung seperti di Jepang," tegasnya.
Melalui kerangka Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian, keselamatan merupakan prinsip utama penyelenggaraan.
"Namun, implementasi teknis di lapangan masih belum sepenuhnya memenuhi standar fail-safe system," urainya.
Diketahui sebelumnya, Menteri PPPA, Arifah Fauzi, mengusulkan kepada PT KAI agar posisi gerbong wanita pada KRL dipindah ke area tengah rangkaian kereta, dan laki-laki pindah ke ujung rangkaian.
Baca juga:
Sempat Hilang Kontak, Karyawati Kompas TV Jadi Korban Kecelakaan Kereta di Stasiun Bekasi
Permintaan itu ia sampaikan atas tingginya jumlah penumpang wanita yang menjadi korban tabrakan antara Kereta Api (KA) Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur, Senin (27/4) malam.
Ia pun akan mendorong pihak PT KAI untuk melakukan kajian ulang mengenai tata letak penumpang.
"Tadi, kalau tadi kita ngobrol dengan KAI itu kenapa ditaruh di paling depan, paling belakang, supaya tidak terjadi rebutan. Tapi dengan peristiwa ini, kita mengusulkan kalau bisa yang perempuan itu ditaruh di tengah," ujar Arifah di RSUD dr. Chasbullah Abdulmadjid Kota Bekasi, Selasa (28/4). (Asp)