Mitos Vaksinasi MMR

Alwan Ridha RamdaniAlwan Ridha Ramdani - Kamis, 22 Februari 2024
Mitos Vaksinasi MMR

Petugas Dinas Kesehatan Kabupaten Batang memberikan vaksinasi polio pada seorang anak balita di Batang, Selasa (20/2/2024). (ANTARA/Kutnadi)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com - Sejumlah mitos tentang vaksin, salah satunya bahwa vaksin dapat menyebabkan autisme pada anak sering mengemuka ke publik.

Dokter spesialis anak Ariani Dewi Widodo membantah, asal mula mitos itu adalah di tahun 1998, ketika dokter bernama Andrew Wakefield membuat penelitian kecil yang tidak valid, yang menyatakan vaksin MMR (campak, gondongan, rubella) berkontribusi pada gangguan perilaku dan perkembangan anak.

Baca Juga:

Penting, Pemerataan Vaksinasi untuk Polio

"Tapi desainnya itu nggak bener, sampelnya kecil, kesimpulannya spekulatif, tapi heboh. Kalau istilah anak sekarang viral, langsung viral penelitiannya. Dan orang tua menjadi cemas karena risiko autisme," ujarnya dalam “Lawan Diare Berat dengan Imunisasi Rotavirus” yang disiarkan Kementerian Kesehatan di Jakarta, Kamis (22/2).

Ia merespon dari sejumlah pertanyaan mengenai mitos dan fakta tentang vaksin. Dia mengatakan, penelitian tersebut diulang berjuta-juta kali pada anak-anak lain, dan ternyata klaim tersebut tidak benar.

Selain itu, katanya, kekhawatiran lain yang kerap muncul adalah mengenai thiomersal, yaitu senyawa merkuri organik untuk mengawetkan vaksin.

"Tapi biasanya penggunaan timerosal itu hanya sangat kecil dan tidak ada bukti signifikan bisa menyebabkan masalah kesehatan. Jadi mitos," katanya.

Vaksin dan imunisasi juga berfungsi untuk memberikan kekebalan tubuh terhadap penyakit yang lebih spesifik. Hal tersebut berkebalikan dari rumor bahwa sering mendapatkan vaksin akan menyebabkan tubuh rentan terhadap virus.

"Jadi yang terjadi adalah, kalau ada kuman masuk, maka tubuh kita akan memberikan perlawanan dengan membentuk tentara yang spesifik untuk kuman tersebut. Nah ini yang ditiru oleh imunisasi. Diberikan kuman, tapi kumannya itu lemah," katanya.

Ia menyoroti pandangan orang bahwa ASI bisa menggantikan imunisasi, seperti jargon yang banyak beredar yaitu "imun is ASI".

Ariani menilai, imunisasi memberikan perlindungan yang lebih spesifik dibandingkan ASI, sedangkan ASI adalah untuk meningkatkan daya tubuh. (*)

Baca Juga:

Vaksinasi COVID-19 Segera Berbayar

#Vaksinasi #Vaksinasi Anak
Bagikan

Berita Terkait

Indonesia
DKI Jakarta Masih Aman dari Super Flu, Vaksinasi Influenza Disiapkan
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan belum ada kasus Super Flu di Jakarta. Pemprov menyiapkan langkah pencegahan dan layanan vaksinasi influenza.
Ananda Dimas Prasetya - Jumat, 09 Januari 2026
DKI Jakarta Masih Aman dari Super Flu, Vaksinasi Influenza Disiapkan
Berita Foto
Melihat Penyuntikan Vaksinasi Influenza Flubio untuk Cegah Super flu bagi Warga di Jakarta
Dokter memberikan vaksin influenza Flubio kepada warga di Klinik Pratama Aisyah, Taman Sari, Jakarta, Rabu (7/1/2026).
Didik Setiawan - Rabu, 07 Januari 2026
Melihat Penyuntikan Vaksinasi Influenza Flubio untuk Cegah Super flu bagi Warga di Jakarta
Dunia
AS Kurangi Jumlah Vaksin Wajib untuk Anak-Anak, Timbulkan Kekhawatiran Peningkatan Risiko Penyakit
Perubahan ini terjadi setelah Presiden Donald Trump meminta Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS (HHS) meninjau bagaimana negara-negara sejawat merekomendasikan vaksin.
Dwi Astarini - Selasa, 06 Januari 2026
  AS Kurangi Jumlah Vaksin Wajib untuk Anak-Anak, Timbulkan Kekhawatiran Peningkatan Risiko Penyakit
Lifestyle
PDPI Beberkan Dosa-Dosa Gaya Hidup Pemicu ISPA dan Cara Menghindarinya Tanpa Ribet
Secara umum, kalau makanan cukup bergizi maka sudah baik
Angga Yudha Pratama - Rabu, 22 Oktober 2025
PDPI Beberkan Dosa-Dosa Gaya Hidup Pemicu ISPA dan Cara Menghindarinya Tanpa Ribet
Indonesia
Pemerintah Jemput Bola Vaksinasi Ribuan Hewan Peliharaan, Jakarta Targetkan Bebas Rabies
Sebanyak 14.645 ekor hewan yang divaksin itu terdiri atas anjing 2.363 ekor, kucing 12.126 ekor, kera 104 ekor dan musang 52 ekor.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 16 September 2025
Pemerintah Jemput Bola Vaksinasi Ribuan Hewan Peliharaan, Jakarta Targetkan Bebas Rabies
Indonesia
[HOAKS atau FAKTA]: Suhu Dingin dan Kabut di Jabodetabek Hasil Rekayasa agar Angka Penyakit TBC Meningkat
Akun Facebook “Jefri Papahnya Aqiela” menyebut, rekayasa cuaca itu dilakukan agar penyakit TBC kembali tinggi sehingga berdampak pada penggunaan vaksin dan obat.
Frengky Aruan - Minggu, 06 Juli 2025
[HOAKS atau FAKTA]: Suhu Dingin dan Kabut di Jabodetabek Hasil Rekayasa agar Angka Penyakit TBC Meningkat
Indonesia
Klaim Vaksin HPV Sebabkan Kemandulan, Ini Penjelasan Ahli yang Bikin Plong
Semakin cepat terdeteksi, semakin tinggi peluang kesembuhannya
Angga Yudha Pratama - Kamis, 26 Juni 2025
Klaim Vaksin HPV Sebabkan Kemandulan, Ini Penjelasan Ahli yang Bikin Plong
Indonesia
[HOAKS atau FAKTA]: Vaksin Disiapkan Sebelum Penyakitnya Muncul, Sebabkan Kebodohan hingga Mandul
Tengah viral di media sosial informasi yang menyebut vaksin sengaja disiapkan sebelum penyakit tersebut muncul.
Frengky Aruan - Rabu, 11 Juni 2025
[HOAKS atau FAKTA]: Vaksin Disiapkan Sebelum Penyakitnya Muncul, Sebabkan Kebodohan hingga Mandul
Indonesia
[HOAKS atau FAKTA]: Ada Bantuan Sosial Bagi Peserta Uji Coba Vaksin TBC Bill Gates
TurnBackHoax menelusuri klaim pemberian bantuan sosial di laman resmi kemensos.go.id dan kemkes.go.id melalui mesin pencarian Google.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 27 Mei 2025
[HOAKS atau FAKTA]: Ada Bantuan Sosial Bagi Peserta Uji Coba Vaksin TBC Bill Gates
Indonesia
[HOAKS atau FAKTA]: Vaksin mRNA, TBC, dan Malaria Disebarkan Lewat Udara, Efeknya Memicu Sesak Napas
Informasi tersebut diunggah akun Facebook “Jefri Papahnya Aqiela”
Frengky Aruan - Minggu, 25 Mei 2025
[HOAKS atau FAKTA]: Vaksin mRNA, TBC, dan Malaria Disebarkan Lewat Udara, Efeknya Memicu Sesak Napas
Bagikan