Minyak Jelantah Program Makan Bergizi Gratis Jadi Bioavtur, Legislator Ingatkan Transparansi dan Pengelolaan Limbah
Ilustrasi minyak jelantah yang kini bisa dijual ke Pertamina. Foto Freepik
Merahputih.com - Anggota Komisi IX DPR RI, Nurhadi, menyambut baik pemanfaatan minyak jelantah dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai bahan baku bioavtur. Langkah ini dinilai mendukung ekonomi hijau dan menciptakan nilai tambah. Namun, Nurhadi menekankan pentingnya transparansi dalam pengelolaan hasil penjualan minyak jelantah tersebut.
Menurut Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, program MBG rata-rata menggunakan 800 liter minyak goreng per bulan, dengan 550 liter (71%) di antaranya menjadi jelantah. Minyak jelantah ini berpotensi dijual atau diekspor dengan harga sekitar Rp 7.000 per liter.
"Jadi ya kita dukung, dan kita harus fair, kalau memang programnya baik, ya kita apresiasi. Tapi kalau ada catatan, tentu harus dievaluasi,” tambahnya.
Baca juga:
Pakar Minta Angka Kecukupan Gizi dalam Program MBG Prioritaskan Keanekaragaman Pangan
Meskipun mendukung gagasan BGN, Nurhadi mengingatkan pemerintah untuk memastikan alur dan tujuan penjualan minyak jelantah transparan.
Ia mempertanyakan apakah hasilnya akan menjadi tambahan pemasukan bagi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan bagaimana dana tersebut akan digunakan agar tidak terjadi penyalahgunaan.
Nurhadi dengan tegas melarang penggunaan kembali minyak jelantah MBG untuk konsumsi masyarakat. Ia menilai tindakan tersebut sama saja memperlakukan masyarakat rentan sebagai sasaran limbah pangan, menegaskan bahwa bantuan pangan harus aman dan bermartabat.
Nurhadi juga mendorong pemerintah untuk merancang program khusus pengelolaan limbah dari MBG. Mengingat skalanya yang nasional dan berlangsung setiap hari, MBG berpotensi menghasilkan limbah dalam jumlah besar dan beragam, tidak hanya minyak jelantah, tetapi juga sisa makanan, sampah organik, dan anorganik.
Pengelolaan limbah yang terstruktur ini dianggap krusial agar program MBG tidak hanya optimal dari aspek gizi, tetapi juga lingkungan.
Baca juga:
Anggaran MBG Tahun Depan Naik Jadi Rp 300 Triliun, Luhut: Diperluas ke Seluruh Indonesia
Pengelolaan limbah MBG yang baik diharapkan mampu memperkuat ekonomi sirkular nasional, menciptakan lapangan kerja baru, menekan pencemaran lingkungan, dan berpotensi menambah penerimaan negara dari sektor daur ulang serta energi terbarukan.
Nurhadi menyimpulkan bahwa pengelolaan limbah yang tepat akan menjadikan MBG tidak hanya bermanfaat bagi gizi anak-anak, tetapi juga bagi program ekonomi hijau.
Bagikan
Angga Yudha Pratama
Berita Terkait
Politikus Daerah Kritik Ketimpangan Gaji dan Pengangkatan Pegawai Dapur MBG dan Guru Honorer
Wakil Ketua Komisi IX DPR Usul 2 Skenario Pembagian MBG selama Ramadan
Dugaan Siswa Fiktif Terima MBG Gegerkan Sampang, Legislator Tegaskan Wajib Diusut
BPOM Apresiasi SPPG Polri, Makanan Anak Diuji Layaknya Hidangan VIP
BPOM Tinjau SPPG Polri, Standar Keamanan Pangan Dinilai Unggul
[HOAKS atau FAKTA]: Gara-Gara Banyak Siswa yang Keracunan, Menkeu Purbaya Minta MBG Diganti Uang Tunai
[HOAKS atau FAKTA]: Kebijakan Makan Bergizi Gratis Ditolak Digelar saat Bulan Puasa karena Bertentangan dengan Nilai Agama
Kenyang Belum Seberapa, Plafon Sudah Menyapa: Siswa SD Ketiban Langit-Langit Saat Santap MBG
Video Makanan MBG Dibagikan Pakai Plastik Viral, Ini Penjelasan Resmi SPPG
Polemik SPPG Sragen Selesai, Dapur MBG Dipindah dari Lokasi Dekat Kandang Babi