Mengulik Sejarah Kopi Lewat Novel 'Babad Kopi Parahyangan'

Ikhsan Aryo DigdoIkhsan Aryo Digdo - Senin, 24 Oktober 2022
Mengulik Sejarah Kopi Lewat Novel 'Babad Kopi Parahyangan'

Mengenal sejarah kopi lewat Babad Kopi Parahyangan. (Foto: Babad Kopi Parahyangan)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

SEBUAH buku tebal yang sampulnya didominasi warna cokelat tua dan muda tampak menarik perhatian. Seakan ingin menyampaikan isinya, sampul buku itu melambangkan perpaduan warna kopi yang identik manis dan pahit sekaligus dalam bentuk novel bertajuk Babad Kopi Parahyangan.

Sang penulis, Evi Sri Rezeki melihat sisi lain dari minuman beraroma khas itu yang ingin ia sampaikan dalam novelnya. Novel tersebut hadir dalam empat babak atau tetralogi.

Baca Juga:

Petani Kopi Bersiap, Cup of Excellence 2022/2023 Segera Hadir

Evi mengatakan kecintaannya terhadap kopi telah hadir sejak ia masih kecil. Tumbuh di keluarga yang menyukai kopi membuatnya juga terbiasa dengan minuman berwarna hitam itu. "Jadi ide untuk menggabungkan kedua hal ini sejak awal bukanlah hal yang benar-benar sulit bagi saya," ujar Evi dalam presentasinya pada acara Jakarta International Literacy Festival, Senin (24/10).

Babad Kopi Parahyangan merupakan sebuah karya sastra yang memiliki gaya fiksi sejarah. Artinya, Evi mencoba menggabungkan unsur sejarah dalam rupa fiksi melalui tulisannya. Menurutnya, belum banyak karya di Indonesia yang mengangkat tulisan soal kopi, terutama dari sisi kisah sejarah. Padahal, selama ratusan tahun, kopi sangat dekat dengan sisi kemanusiaan.

"Ketika saya melakukan riset literatur tentang kopi, aku menemukan banyak data yang sejujurnya membuat saya merasa trauma," tutur Evi berusaha mendeskripsikan betapa kopi menjadi saksi bisu dari kehidupan Nusantara di masa kerja paksa (cultuurstelsel).

Babad Kopi Parahyangan hadir dalam dalam empat babak atau tetralogi. (Foto: Babad Kopi Parahyangan)

Novel tetralogi Evi terbagi ke dalam periode waktu masing-masing. Mulai dari zaman kolonial kependudukan Belanda di Nusantara, sampai dengan era sekarang. Dalam penggarapannya, Evi menelusuri berbagai data dan dokumen dari zaman penjajahan di Indonesia dulu, baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

Ia menemukan fakta bahwa kopi telah banyak berperan dalam kehidupan manusia dari berbagai sisi. Untuk membuat ceritanya lebih mengalir dan emosional, Evi juga mengunjungi perkebunan Kopi di Jawa Barat secara langsung. Ia secara khusus memilih perkebunan kopi tua yang berada di area Bogor dan Pangalengan, Bandung. Ia ingin berbagi kisah tentang bagaimana kehidupan orang-orang di sana dulu.

Baca Juga:

Meski Kondisi Pandemi, SCAI Sukses Menggelar Banyak Program di Semester Pertama 2021

"Kopi bukan hanya hadir sebagai komoditas. Tetapi juga terhubung dengan kehidupan sosial manusia dulu. (Karena kompleks), sehingga saya harus memetakan antara social relationship mapping, power mapping, dan kinship mapping," jelas Evi lebih jauh tentang bagaimana ia bisa menggabungkan unsur sejarah menjadi sebuah kisah fiksi.

Meski terinspirasi dari berbagai kisah sejarah, Evi menegaskan bahwa seluruh tokoh di novelnya merupakan karakter fiktif. Ada tiga karakter yang memainkan peran penting dalam cerita ini. Pertama ada sosok Karim, seorang pemuda Minang yang merupakan penjelajah. Ia mengelilingi berbagai daerah dan sampailah di Parahyangan. Di sana, ia melihat dan bercerita tentang pengalamannya terjun langsung dalam pengolahan kopi.

Evi memperkenalkan Babad Kopi Parahyangan pada Jakarta International Literacy Festival. (Foto: merahputih.com/Marcella)

Karakter kedua adalah Kang Asep. Ia merupakan orang Sunda yang hidup berdampingan dengan kopi. Kang Asep merupakan sosok yang hendak mendobrak stereotip orang pribumi itu dianggap malas dan bodoh. Ia juga menunjukkan melalui kisahnya tentang tekanan hidup yang kala itu dihadapi oleh pekerja kopi.

Karakter ketiga adalah orang asing dan pribumi. Peran mereka adalah menunjukkan kepada pembaca bahwa hubungan penduduk Nusantara dengan warga negara asing tidak sesederhana itu. Tidak selalu hitam dan putih.

Melalui novel tetralogi terbitan Marjin Kiri ini, Evi berharap ia dapat membagikan kesadaran pada pembaca. Ia menganggap kita perlu belajar dari sejarah. Maka dari itu, ia berharap kerja paksa dan tekanan dalam bekerja tidak lagi berlangsung sampai sekarang. Meski bentuknya bukan kerja paksa seperti zaman penjajahan, tetapi penekanan terhadap tenaga kerja masih ramai dilakukan dan membuat orang lain merasa kesulitan.

Evi Sri Rezeki merupakan sosok penulis Indonesia yang telah menerbitkan beberapa novel. Sebelum tetralogi Babad Kopi Parahyangan, ia pernah menulis fiksi remaja bertajuk Cine Us dan Twiries, Sell Your Soul!, dan Twins Universe. (mcl)

Baca Juga:

Pemerintah Apresiasi Gelaran Cup of Excellence di Indonesia dan Pertama di Asia

#Kopi #Buku
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Berita Terkait

Indonesia
Café & Brasserie Expo 2026 di NICE PIK 2: Ajang Terbesar untuk Pelaku dan Pencinta Industri Kopi
Kunjungi Café & Brasserie Expo (CBE) 2026 pada 9-11 Oktober 2026 di NICE PIK 2. Temukan pameran kopi, pelatihan barista, peluang bisnis kafe, dan promo spesial BCA.
Angga Yudha Pratama - Kamis, 08 Oktober 2026
Café & Brasserie Expo 2026 di NICE PIK 2: Ajang Terbesar untuk Pelaku dan Pencinta Industri Kopi
Fun
Komik PGI Mulai Naik Harga 1 November 2026, Ini Daftar Manga yang Perlu Diketahui
PGI akan menyesuaikan harga komik mulai 1 November 2026. Simak daftar manga yang saat ini dibanderol Rp 65.000 di Phoenix Anime Store.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 08 Oktober 2026
Komik PGI Mulai Naik Harga 1 November 2026, Ini Daftar Manga yang Perlu Diketahui
Indonesia
Viral Bedah Buku Feby Indriani Dibubarkan, Polisi Endus Dugaan Penistaan Agama
Pembubaran diskusi buku Feby Indriani di Bogor berbuntut panjang! Polda Metro Jaya turun tangan usut dugaan penistaan agama dan ancaman SARA.
Wisnu Cipto - Jumat, 25 September 2026
Viral Bedah Buku Feby Indriani Dibubarkan, Polisi Endus Dugaan Penistaan Agama
Lifestyle
Karya Raya 2026, ketika Karya Bertumbuh, Anak Ikut Bertumbuh
Dengan membawa tema Garden of Kindness: Where Creativity Grows on You, Karya Raya menegaskan pertumbuhan bukan hanya tentang banyaknya karya yang dihasilkan.
Dwi Astarini - Kamis, 24 September 2026
Karya Raya 2026, ketika Karya Bertumbuh, Anak Ikut Bertumbuh
Berita Foto
Kebun Kopi Sangga Buana dan Upaya Menjaga Ruang Hijau Jakarta
Petugas memilah biji kopi dari kebun kopi Sangga Buana di Kawasan Karang Tengah, Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Rabu (23/9/2026).
Didik Setiawan - Rabu, 23 September 2026
Kebun Kopi Sangga Buana dan Upaya Menjaga Ruang Hijau Jakarta
Lifestyle
Lewat ‘#HaHa Leadership’, Ita Sembiring Ajak Melihat Kepemimpinan dari Sisi yang Lebih Ringan
Ita mengajak pembaca melakukan sesuatu yang sering kali tidak mudah dilakukan seorang pemimpin, yakni becermin pada diri sendiri sambil tertawa.
Dwi Astarini - Jumat, 18 September 2026
Lewat ‘#HaHa Leadership’, Ita Sembiring Ajak Melihat Kepemimpinan dari Sisi yang Lebih Ringan
Fun
Dari Kebun Keluarga di Garut, 'Cing Cangkeling' Roemah Koffie Bawa Karakter Buah dan Gula Merah
Cing Cangkeling merupakan kopi single origin Mandalagiri, Garut, dari varietas Yellow Bourbon dengan notes stone fruit, anggur, beri, dan gula merah.
Ananda Dimas Prasetya - Jumat, 18 September 2026
Dari Kebun Keluarga di Garut, 'Cing Cangkeling' Roemah Koffie Bawa Karakter Buah dan Gula Merah
Lifestyle
Kisah Keluarga Petani dari Mandalagiri Garut dalam Biji Kopi Cing Cangkeling Roemah Koffie
Berbeda dari sekadar menghadirkan varian kopi baru, Roemah Koffie membawa cerita kebun keluarga yang dirawat dan dikembangkan petani kopi asal Garut.
Dwi Astarini - Jumat, 18 September 2026
Kisah Keluarga Petani dari Mandalagiri Garut dalam Biji Kopi Cing Cangkeling Roemah Koffie
Indonesia
Baznas Bantah Biayai Penerbitan Buku Islam Ala Prabowo Pakai Dana ZIS
Baznas RI menegaskan dana zakat, infak, dan sedekah (ZIS) tidak digunakan dalam penerbitan buku Islam Ala Prabowo.
Wisnu Cipto - Selasa, 08 September 2026
Baznas Bantah Biayai Penerbitan Buku Islam Ala Prabowo Pakai Dana ZIS
Indonesia
Buku Islam Ala Prabowo Ramai Diperbincangkan, Ini Pengarang, Deskripsi dan Harganya
Buku yang diterbitkan oleh Atmosphere Publishing House memiliki ketebalan sekitar 346 halaman dan pertama kali dirilis pada April 2025.
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 07 September 2026
Buku Islam Ala Prabowo Ramai Diperbincangkan, Ini Pengarang, Deskripsi dan Harganya
Bagikan