Mengintip Proses Pengolahan Kopi

P Suryo RP Suryo R - Senin, 18 November 2019
Mengintip Proses Pengolahan Kopi

Berbagai metode digunakan untuk menghasilkan kopi yang enak setelah dipanen. (Foto: Pexels/Francesco Ungaro)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

APAKAH kamu peminum kopi atau bukan, jelas akan setuju dengan pendapat kebanyakan orang yang mengatakan kalau kopi adalah salah satu jenis minuman yang sangat digemari dan dicari orang-orang di berbagai belahan dunia.

Kopi sudah menjadi dari bagian dari gaya hidup dan tradisi masyarakat Indonesia. Sajian kopi hadir di setiap waktu kehidupan manusia, bahkan menjadi semacam perekat dari kehidupan bersosial.

Baca Juga:

Unik Banget, Budaya Ngopi Suku Sasak dengan Campuran Beras dan Kelapa


Jenis kopi, asal kebun dimana kopi itu bertumbuh, teknik pengolahan, proses pascapanen yang dilakukan dan teknik sangrai adalah bagian yang akan melahirkan cerita unik dalam setiap cangkir kopi. Tidak banyak penggila kopi yang tahu proses unik itu lahir. Tidak ada salahnya mencari tahu, apalagi di Indonesia proses pascapanen biji kopi beragam antara daerah satu dengan daerah yang lain. Proses pascapanen kopi suatu negara terutama penghasil kopi utama dengan negara lainpun tak sama.

Proses pascapanen kopi sendiri adalah proses pengolahan buah kopi (cherry) yang baru dipetik dan mengeringkannya dari buah basah ke buah kering (gabah) sampai menjadi biji kopi (green bean). Ada dua jenis pascapanen yang dikenal selama ini, yaitu metode basah dan metode kering. Metode basah sering dikenal dengan proses pencucian kopi karena media air dipakai untuk menghilangkan daging buah sebelum dijemur. Sementara metode kering hanya menjemur buah tanpa dicuci.

Kedua teknik dasar tersebut menciptakan beberapa teknik baru yang melahirkan karakter dan keunikan rasa yang berbeda-beda. Pada dasarnya, proses ini memiliki tujuan akhir agar menghasilkan biji yang siap diroasting atau biasa disebut dengan green bean.

Berikut ini adalah cerita dan proses pengolahan kopi pascapanen. Apa saja sih proses pascapanen biji kopi yang selama ini dilakukan oleh beberapa daerah di Indonesia dan beberapa negara penghasil kopi utama?


1. Proses awal

kopi
Umumnya proses yang biasanya dilakukan adalah mencuci bersih buah kopi. (Foto: Pexels/Livier Garcia)


Proses pencucian penuh (full washed) adalah paling popular dilakukan dengan tujuan untuk menghasilkan rasa dan aroma kopi yang original. Setelah dikupas, biji kopi difermentasi dalam wadah atau karung selama 12 jam sampai 48 jam tergantung pada leburnya lendir pada biji kopi tersebut. Lalu biji kopi dicuci sampai bersih dari lendir lalu dijemur. Proses pengeringannya paling cepat, sekitar 10 hari, proses ini dapat dengan mudah ditemukan di daerah Dairi, Sumatra Utara.

Kemudian proses giling basah adalah salah satu ciri khas proses pasca panen dari Indonesia, seperti daerah perkebunan kopi di Ijen, Banyuwangi, Jawa Timur. Proses ini sebenarnya adalah produk kultural karena berkaitan dengan perilaku masyarakat. Mirip dengan pencucian penuh, hanya berbeda pada proses pencucian yang hanya sampai pada pemisahan kulit luarnya. Biji kopi yang masih terbungkus lapisan getah dikeringkan bersama getahnya. Pengeringannya hanya sampai kadar air turun sekitar 30-35% saja lalu dikupas lagi sampai benar-benar berbentuk biji. Setelah dikupas, biji ini dikeringkan lagi. Proses ini mengurangi tingkat keasaman dan membentuk karakter bodi lebih kuat. Kopi yang diolah dengan cara ini memiliki cita rasa yang berubah-ubah. Kopi yang digiling dalam keadaan basah juga gampang terkena cacat

Baca Juga:

Cupping Coffee Seni Mengenal Kopi

2. Pengeringan

kopi
Kopi dikeringkan dengan berbagai metode. (Foto: Pexels/Maria Gulyaeva)

Natural proses (natural process), merupakan proses pengeringan buah kopi secara utuh beserta kulitnya tanpa dikupas terlebih dahulu. Proses ini termasuk proses tertua yang masih dilakukan sampai sekarang dan juga paling sederhana dikerjakan hanya saja waktunya lebih lama. Penjemuran dengan matahari butuh waktu selama 20 sampai 30 hari untuk mencapai kadar air minimal 12% dalam biji kopi. Proses ini bertujuan agar biji kopi dapat menyerap kandungan yang terdapat dalam kulit buahnya agar menghasilkan rasa fruity. Metode ini diadopsi beberapa negara Amerika Tengah, seperti Panama yang hasil kopinya sudah sangat terkenal di dunia.

Honey process, merupakan proses yang banyak dipakai di Amerika Tengah dan beberapa daerah di Indonesia, seperti di daerah Gunung Patuha, Ciwidey, Jawa Barat. Prosesnya mirip dengan natural process. Bedanya adalah sebelum dijemur, buah dikupas tanpa membuang cangkang (mucilage/cultivar) dengan getahnya. Getah tersebut adalah faktor kunci dari honey process.

Ketika kopi dijemur, kandungan gula dan keasaman pada getah menghasilkan karakter manis yang sangat tinggi dengan keasaman yang seimbang. Getah mucilage yang lengket menyerupai madu yang membuat penamaan istilah proses ini. Karakter rasa dipengaruhi oleh level ketebalan getah yang menempel dan meresap pada biji saat dijemur. Proses pengeringan dengan matahari sekitar 15 sampai 20 hari dan dapat menghasilkan kopi dengan rasa sedikit asam dan sedikit manis. Honey process diklasifikasi menjadi 3 jenis; yellow, red dan black honey.

3. Pulp Raisin (Kupas Kismis)

kopi
Natural process menjemur dengan sinar matahari. (Foto: MP/Leonard)


Proses pasca panen ini mirip dengan proses natural. Pada proses kupas kismis, buah kopi dijemur tidak sampai kering. Buah kopi yang baru setengah kering dan mirip kismis (daging dan kulit buah masih lembek) lalu dikupas. Proses ini merupakan penyempurnaan dari proses natural untuk daerah-daerah yang paparan sinar mataharinya terbatas. Agar terhindar dari proses fermentasi kulit dan daging buah berlebih pada biji kopi, maka proses tersebut perlu dihentikan pada saat manis ideal telah tercapai. Proses ini membutuhkan ketelitian yang baik, karena penentuan masa pengupasan kulit buah harus disesuaikan dengan titik optimal tersebut. Negara Amerika Latin, seperti Brasil menggunakan metode pascapanen pada perkebunan kopinya.


4. Dua kali pencucian

kopi
Terkadang ada pula digunakan proses dua kali pencucian. (Foto: Pexels/Jessica Lewis)

Proses pencucian dua kali ini (double washed) diawali dengan ceri kopi langsung dipisahkan dengan biji kopi. Biji kopi yang masih dilapisi lendir (mucilage coated seeds) ditempatkan di tangki tempat proses fermentasi. Biji kopi ini didiamkan selama 12 hingga 24 jam tergantung lamanya fermentasi terjadi. Fermentasi berguna untuk memudahkan lepasnya lendir dan juga memberi karakter pada rasa kopi.

Fermentasi kedua dilakukan setelah kopi yang sudah difermentasi dibersihkan kembali. Kurang lebih langkah fermentasi pertama diulang kembali di tahap ini dengan durasi fermentasi 12 hingga 24 jam. Proses fermentasi kedua ini mengurangi kadar gula pada kopi dan memberikan karakter pada buah. Saat tahap ini selesai, kopi harus dimendapatkan proses agitasi lagi supaya lendirnya benar-benar hilang. Proses double washed biasa dilakukan oleh perkebunan kopi di Kenya, Afrika Timur. (lgi)

Baca Juga:

Ayam Bakar Saus Kopi, Gimana Ya Rasanya?

#Kopi #Biji Kopi #Panen Raya
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Berita Terkait

Berita Foto
Roemah Koffie Bawa Aroma Kopi Nusantara ke Trade Expo Indonesia 2026
Pengunjung mencicipi segelas kopi di Booth Roemah Koffie di Gelaran Trade Expo Indonesia 2026, ICE BSD, Tangerang, Banten, Sabtu (17/10/2026).
Didik Setiawan - Sabtu, 17 Oktober 2026
Roemah Koffie Bawa Aroma Kopi Nusantara ke Trade Expo Indonesia 2026
Indonesia
Café & Brasserie Expo 2026 di NICE PIK 2: Ajang Terbesar untuk Pelaku dan Pencinta Industri Kopi
Kunjungi Café & Brasserie Expo (CBE) 2026 pada 9-11 Oktober 2026 di NICE PIK 2. Temukan pameran kopi, pelatihan barista, peluang bisnis kafe, dan promo spesial BCA.
Angga Yudha Pratama - Kamis, 08 Oktober 2026
Café & Brasserie Expo 2026 di NICE PIK 2: Ajang Terbesar untuk Pelaku dan Pencinta Industri Kopi
Berita Foto
Kebun Kopi Sangga Buana dan Upaya Menjaga Ruang Hijau Jakarta
Petugas memilah biji kopi dari kebun kopi Sangga Buana di Kawasan Karang Tengah, Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Rabu (23/9/2026).
Didik Setiawan - Rabu, 23 September 2026
Kebun Kopi Sangga Buana dan Upaya Menjaga Ruang Hijau Jakarta
Fun
Dari Kebun Keluarga di Garut, 'Cing Cangkeling' Roemah Koffie Bawa Karakter Buah dan Gula Merah
Cing Cangkeling merupakan kopi single origin Mandalagiri, Garut, dari varietas Yellow Bourbon dengan notes stone fruit, anggur, beri, dan gula merah.
Ananda Dimas Prasetya - Jumat, 18 September 2026
Dari Kebun Keluarga di Garut, 'Cing Cangkeling' Roemah Koffie Bawa Karakter Buah dan Gula Merah
Lifestyle
Kisah Keluarga Petani dari Mandalagiri Garut dalam Biji Kopi Cing Cangkeling Roemah Koffie
Berbeda dari sekadar menghadirkan varian kopi baru, Roemah Koffie membawa cerita kebun keluarga yang dirawat dan dikembangkan petani kopi asal Garut.
Dwi Astarini - Jumat, 18 September 2026
Kisah Keluarga Petani dari Mandalagiri Garut dalam Biji Kopi Cing Cangkeling Roemah Koffie
Fun
Bukan Sekadar Kopi, Roemah Koffie Meracik Rasa dan Kisah Nusantara
Dari Rambadia hingga Cublak Suweng, kopi Indonesia dibawa Roemah Koffie ke panggung dunia. Klik untuk detail kisahnya!
Wisnu Cipto - Minggu, 06 September 2026
Bukan Sekadar Kopi, Roemah Koffie Meracik Rasa dan Kisah Nusantara
Kuliner
Dari Tanah hingga Cangkir, Roemah Koffie Merayakan Karakter Kopi Indonesia
Dari satu pulau ke pulau lain, bahkan dari satu daerah ke daerah lain, secangkir kopi dapat membawa pengalaman rasa sekaligus cerita yang berbeda.
Dwi Astarini - Sabtu, 05 September 2026
Dari Tanah hingga Cangkir, Roemah Koffie Merayakan Karakter Kopi Indonesia
Berita Foto
Pecinta Kopi Berburu Cita Rasa Khas Nusantara di Indonesia Coffee Expo 2026
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mencicipi segelas kopi saat mengunjungi pameran Indonesia Coffee Expo 2026 di JICC, Jakarta, Jumat (4/9/2026).
Didik Setiawan - Jumat, 04 September 2026
Pecinta Kopi Berburu Cita Rasa Khas Nusantara di Indonesia Coffee Expo 2026
Kuliner
Menyesap Rasa, Menjalin Kisah dalam Seduhan Kopi
Sejak kopi bisa dinikmati rakyat secara umum, tradisi ngopi berkembang dari warung kopi sederhana di desa hingga kedai modern kekinian di kota besar.
Dwi Astarini - Minggu, 30 Agustus 2026
Menyesap Rasa, Menjalin Kisah dalam Seduhan Kopi
Fun
Rp 70 Ribu dapat 2 Kopi Spesial hingga Buy One Get One, Grand Opening Roemah Koffie Agora Mall Tawarkan Sejumlah Promo
Roemah Koffie menghadirkan sejumlah promo saat grand opening gerai ke-15 di Agora Mall. Salah satunya Buy One Get One dan promo dua kopi seharga Rp70 ribu.
Ananda Dimas Prasetya - Selasa, 11 Agustus 2026
Rp 70 Ribu dapat 2 Kopi Spesial hingga Buy One Get One, Grand Opening Roemah Koffie Agora Mall Tawarkan Sejumlah Promo
Bagikan