Mengenal Proses Autofagi untuk Detoksifikasi
Autofagi bisa menurunkan berat badan. (Foto: Unsplash/Pablo Merchan Montes)
KAMU mungkin masih asing dengan istilah autofagi yang merupakan mekanisme alami tubuh dan diketahui dapat meningkatkan kualitas kesehatan. Mekanisme ini meningkatkan kemampuan sel tubuh untuk melawan racun penyebab penyakit dan menjaga organ tubuh tetap berfungsi baik.
Mengutip laman Alodokter, autofagi adalah proses alami tubuh untuk membuang sel-sel yang rusak dan tidak berfungsi, sekaligus menggantinya dengan sel-sel baru yang sehat.
Triliunan sel yang ada dalam tubuh, tentu dapat rusak dan mengalami penurunan fungsi seiring berjalannya waktu. Pemicunya beragam, mulai dari usia hingga kondisi kesehatan tertentu.
Jika sel-sel tersebut dibiarkan tumbuh dan berkembang, maka akan menimbulkan gangguan kesehatan, termasuk meningkatnya risiko terkena kanker. Oleh karena itu, peran autofagi diperlukan. Autofagi diibaratkan seperti tombol reset atau detoks tubuh yang akan meregenerasi sel-sel tubuh.
Baca juga:
Autofagi bisa dilakukan secara alami, tetapi ada sejumlah faktor yang diketahui dapat mempercepat prosesnya. Salah satu yang paling efektif adalah puasa, termasuk metode diet puasa intermiten.
Saat berpuasa, tubuh tidak mendapatkan asupan makanan selama berjam-jam dan membuat sel-sel tubuh menjadi 'kelaparan'. Di sinilah proses autofagi bekerja untuk menghancurkan sel yang sudah rusak dan menggantinya dengan yang baru.
Saat mengaktifkan mekanisme autofagi melalui puasa dan membuat tubuh berada pada fase ketosis, umumnya akan muncul beberapa gejala tertentu, seperti penurunan nafsu makan, munculnya bau keton (bau seperti buah atau bau logam), rasa lelah, dan penurunan berat badan.
Baca juga:
Regenerasi sel berkat autofagi dapat memberikan beragam manfaat bagi kesehatan, seperti menurunkan risiko terjadinya kanker, membantu meningkatkan fungsi otak dalam menginggat, membantu menurunkan berat badan, membantu meningkatkan kesehatan jantung, hingga meningkatkan proses pembentukan energi.
Namun untuk melakukan autofagi dengan metode puasa tidak anjurkan bagi kamu yang memiliki diabetes, berusia tua, perempuan sedang hamil, atau riwayat gangguan makan.
Oleh karena itu agar lebih sehat, hindari melakukan puasa tanpa terkendali hanya untuk memicu autofagi, tetapi terapkanlah cara sehat lain, misalnya dengan mengatur diet dan olahraga secara teratur.
Selain itu, disarankan juga untuk mengonsumsi makanan tertentu seperti kunyit, jahe, bawang putih, kayu manis, teh hijau, dan kopi. (and)
Baca juga:
Bagikan
Andreas Pranatalta
Berita Terkait
DPR Minta Pemerintah Gerak Cepat Antisipasi Ancaman Super Flu, Dorong Kemenkes Terbitkan Vaksin Pencegah
Waspada Super Flu, 62 Kasus Terkonfirmasi di Indonesia Terbanyak di Jawa Timur
Super Flu Masuk ke Indonesia, Kemenkes Imbau Kenali Gejala dan Terapkan Protokol Kesehatan
Teknologi Bedah Robotik Memungkinkan Tindakan Presisi untuk Kenyamanan Pasien, kini Hadir di Siloam Hospitals Kebon Jeruk
SDM Dokter belum Terpenuhi, Kemenkes Tunda Serahkan RS Kardiologi Emirate ke Pemkot Solo
Program Pemutihan BPJS Kesehatan Berlangsung di 2025, ini Cara Ikut dan Tahapannya
Prodia Hadirkan PCMC sebagai Layanan Multiomics Berbasis Mass Spectrometry
Senang Ada Temuan Kasus Tb, Wamenkes: Bisa Langsung Diobati
Momen Garda Medika Hadirkan Fitur Express Discharge Permudah Layanan Rawat Jalan
Cak Imin Imbau Penunggak Iuran BPJS Kesehatan Daftar Ulang Biar Bisa Diputihkan