Merahputih.com - Letusan Gunung Anak Krakatau saat ini kembali memasuki fase erupsi tipe strombolian dipicu oleh naiknya magma sangat cair dengan tekanan gas yang tergolong sedang.
Transisi menuju letusan strombolian ini secara langsung menandakan bahwa meski fase letusan panjang nan menegangkan sudah mereda, potensi munculnya erupsi-erupsi kecil bersusulan masih sangat tinggi ke depannya.
Baca juga:
Erupsi Gunung Anak Krakatau Mereda Setelah 25 Jam Mengamuk, Bahaya Belum Usai
Buat kamu yang rajin memantau aktivitas vulkanik, karakteristik erupsi strombolian memang terkenal unik karena sifat ledakannya yang relatif ringan namun durasinya bisa luar biasa panjang.
Fase letusan Gunung Anak Krakatau kali ini lebih banyak didominasi oleh semburan material pijar, sehingga wajar jika pemerintah melakukan pemantauan ketat untuk mengantisipasi rentetan erupsi strombolian yang muncul secara sporadis ini.
Perubahan perilaku gunung legendaris ini sudah dipantau secara intensif oleh para ahli. Kepala Badan Geologi, Lana Saria, memberikan penegasan terkait perubahan mode letusan ini.
Pasca-berakhirnya episode tersebut, aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau bertransisi kembali ke karakteristik erupsi strombolian yang ditandai dengan perekaman tiga kali gempa letusan/erupsi strombolian,
jelas Lana Saria.
Sebenarnya, Apa Itu Letusan Strombolian?

Biar kamu kebayang, istilah 'Strombolian' ini sebenarnya dipinjam dari nama sebuah gunung api kecil di pulau vulkanik antara Sisilia dan Italia, yakni Gunung Stromboli.
Gunung ini saking rajinnya meletus mengeluarkan cahaya pijar setiap 20 menit selama ratusan tahun, sampai-sampai dijuluki sebagai 'Mercusuar Mediterania'.
Secara sains, tipe letusan ini tergolong berenergi rendah. Ia nggak bikin tiang asap (kolom letusan) yang menjulang sampai berkilometer ke langit terus menerus.
Alih-alih membahayakan dengan awan panas (piroklastika), letusan ini lebih suka memuntahkan lava kental, lapili, dan bom vulkanik, bebatuan pijar yang terlontar puluhan hingga ratusan meter layaknya kembang api balistik raksasa, lalu jatuh menumpuk di sekitar kawah.
Kenapa Erupsi Ini Bisa Awet Bertahun-tahun?
Rahasia di balik awetnya letusan ini ada pada gelembung gas raksasa yang disebut slug.
Gas ini terbentuk jauh di kedalaman 3 km dari perut bumi, merayap naik lewat pipa kepunden, lalu pecah di permukaan sehingga tekanannya lepas.
Proses "reset" alami ini bikin sistem kawah nggak rusak. Makanya, erupsi bisa terjadi berulang-ulang tanpa menghancurkan gunungnya.
Sebagai contoh nyata, Gunung Paricutin pernah erupsi terus-terusan dari 1943 sampai 1952, Gunung Erebus di Antartika meletus selama puluhan tahun, dan Gunung Stromboli aslinya bahkan sudah erupsi ribuan tahun!
Ciri-ciri Tipe Letusan Strombolian
Untuk memudahkan identifikasi, berikut adalah karakteristik utama yang wajib kamu tahu soal letusan tipe ini:
-
Material Lontaran: Rajin memuntahkan material padat seperti bom vulkanik, lapili, abu, dan fragmen scoria (bebatuan basal berongga yang mirip abu tebal).
-
Waktu Berkala: Ledakan dan letusan terjadi pada interval waktu yang hampir sama dan berulang.
-
Minim Lava Mengalir: Erupsi murni strombolian sangat jarang menghasilkan aliran lava cair panjang di awal, aliran lava tenang biasanya baru muncul di akhir fase pembentukan kerucut gunung.
-
Dapur Pacu: Didorong oleh tekanan gas yang rendah dengan kondisi magma yang sangat cair.
Baca juga:
Bahaya Lontaran Batu Pijar dan Hujan Abu Anak Krakatau Masih Mengintai
Meskipun dentuman letusan Strombolian ini terdengar lebih berisik ketimbang tipe letusan Hawaiian, faktanya gaya erupsi ini tergolong tidak terlalu berbahaya asalkan kita berada di luar zona bahaya lontaran material pijarnya.