Mengenal Letusan Strombolian di Gunung Anak Krakatau, Erupsi Kecil Tapi Bisa Bertahun-tahun

Angga Yudha PratamaAngga Yudha Pratama - Senin, 07 September 2026
Mengenal Letusan Strombolian di Gunung Anak Krakatau, Erupsi Kecil Tapi Bisa Bertahun-tahun

Ilustrasi gunung Anak Krakatau. (BNPB)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

Merahputih.com - Letusan Gunung Anak Krakatau saat ini kembali memasuki fase erupsi tipe strombolian dipicu oleh naiknya magma sangat cair dengan tekanan gas yang tergolong sedang.

Transisi menuju letusan strombolian ini secara langsung menandakan bahwa meski fase letusan panjang nan menegangkan sudah mereda, potensi munculnya erupsi-erupsi kecil bersusulan masih sangat tinggi ke depannya.

Baca juga:

Erupsi Gunung Anak Krakatau Mereda Setelah 25 Jam Mengamuk, Bahaya Belum Usai

Buat kamu yang rajin memantau aktivitas vulkanik, karakteristik erupsi strombolian memang terkenal unik karena sifat ledakannya yang relatif ringan namun durasinya bisa luar biasa panjang.

Fase letusan Gunung Anak Krakatau kali ini lebih banyak didominasi oleh semburan material pijar, sehingga wajar jika pemerintah melakukan pemantauan ketat untuk mengantisipasi rentetan erupsi strombolian yang muncul secara sporadis ini.

Perubahan perilaku gunung legendaris ini sudah dipantau secara intensif oleh para ahli. Kepala Badan Geologi, Lana Saria, memberikan penegasan terkait perubahan mode letusan ini.

Pasca-berakhirnya episode tersebut, aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau bertransisi kembali ke karakteristik erupsi strombolian yang ditandai dengan perekaman tiga kali gempa letusan/erupsi strombolian,

jelas Lana Saria.

Sebenarnya, Apa Itu Letusan Strombolian?

Status

Biar kamu kebayang, istilah 'Strombolian' ini sebenarnya dipinjam dari nama sebuah gunung api kecil di pulau vulkanik antara Sisilia dan Italia, yakni Gunung Stromboli.

Gunung ini saking rajinnya meletus mengeluarkan cahaya pijar setiap 20 menit selama ratusan tahun, sampai-sampai dijuluki sebagai 'Mercusuar Mediterania'.

Secara sains, tipe letusan ini tergolong berenergi rendah. Ia nggak bikin tiang asap (kolom letusan) yang menjulang sampai berkilometer ke langit terus menerus.

Alih-alih membahayakan dengan awan panas (piroklastika), letusan ini lebih suka memuntahkan lava kental, lapili, dan bom vulkanik, bebatuan pijar yang terlontar puluhan hingga ratusan meter layaknya kembang api balistik raksasa, lalu jatuh menumpuk di sekitar kawah.

Kenapa Erupsi Ini Bisa Awet Bertahun-tahun?

Rahasia di balik awetnya letusan ini ada pada gelembung gas raksasa yang disebut slug.

Gas ini terbentuk jauh di kedalaman 3 km dari perut bumi, merayap naik lewat pipa kepunden, lalu pecah di permukaan sehingga tekanannya lepas.

Proses "reset" alami ini bikin sistem kawah nggak rusak. Makanya, erupsi bisa terjadi berulang-ulang tanpa menghancurkan gunungnya.

Sebagai contoh nyata, Gunung Paricutin pernah erupsi terus-terusan dari 1943 sampai 1952, Gunung Erebus di Antartika meletus selama puluhan tahun, dan Gunung Stromboli aslinya bahkan sudah erupsi ribuan tahun!

Ciri-ciri Tipe Letusan Strombolian

Untuk memudahkan identifikasi, berikut adalah karakteristik utama yang wajib kamu tahu soal letusan tipe ini:

  • Material Lontaran: Rajin memuntahkan material padat seperti bom vulkanik, lapili, abu, dan fragmen scoria (bebatuan basal berongga yang mirip abu tebal).

  • Waktu Berkala: Ledakan dan letusan terjadi pada interval waktu yang hampir sama dan berulang.

  • Minim Lava Mengalir: Erupsi murni strombolian sangat jarang menghasilkan aliran lava cair panjang di awal, aliran lava tenang biasanya baru muncul di akhir fase pembentukan kerucut gunung.

  • Dapur Pacu: Didorong oleh tekanan gas yang rendah dengan kondisi magma yang sangat cair.

Baca juga:

Bahaya Lontaran Batu Pijar dan Hujan Abu Anak Krakatau Masih Mengintai

Meskipun dentuman letusan Strombolian ini terdengar lebih berisik ketimbang tipe letusan Hawaiian, faktanya gaya erupsi ini tergolong tidak terlalu berbahaya asalkan kita berada di luar zona bahaya lontaran material pijarnya.

#Krakatau #Gunung Krakatau #Gunung Anak Krakatau #Erupsi Anak Krakatau #Sejarah Letusan Krakatau #Anak Gunung Krakatau Banten
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Angga Yudha Pratama

Seorang jurnalis profesional, reporter senior, editor berita, dan asisten redaktur yang telah berkarya di industri media online nasional selama lebih dari satu dekade. Selalu mengedepankan akurasi, objektivitas, dan kualitas informasi dalam setiap karyanya berbekal dari pengalaman langsung bertahun-tahun melakukan peliputan di lapangan, penulisan berita, penyuntingan artikel, hingga pengelolaan konten digital. Keahlian tersebut membuat pemahaman secara menyeluruh proses produksi konten digital modern, mulai dari pencarian data, wawancara narasumber, verifikasi fakta, penulisan artikel, optimasi SEO, editing naskah, hingga publikasi berita sesuai kode etik jurnalistik. Lebih spesifik, pemahaman mengenai strategi optimasi SEO dan Digital Content untuk mesin pencari juga menjadi fokus saat ini di tengah disrupsi media. Keahlian itu meliputi SEO writing, content writing, copywriting, keyword research, semantic SEO, search intent, on page SEO, optimasi, artikel google, struktur heading SEO, evergreen content, optimasi readability, meta description hingga internal linking.
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Indonesia
3 Gunung Api di Indonesia Berstatus Siaga, BNPB Minta Warga Hindari Zona Bahaya
BNPB mengingatkan bahaya Gunung Anak Krakatau, Merapi, dan Semeru yang berstatus Level III atau Siaga. Simak radius larangan aktivitasnya.
Ananda Dimas Prasetya - Sabtu, 31 Oktober 2026
3 Gunung Api di Indonesia Berstatus Siaga, BNPB Minta Warga Hindari Zona Bahaya
Indonesia
Gunung Anak Krakatau Aktif Pekan Lalu, Terjadi 26 Letusan dalam Sehari! Simak Peringatan PVMBG
Gunung Anak Krakatau erupsi 31 kali pada 5-9 Oktober 2026, dengan 26 letusan dalam sehari. Status masih Siaga, radius 5 km wajib dihindari.
Frengky Aruan - Senin, 12 Oktober 2026
Gunung Anak Krakatau Aktif Pekan Lalu, Terjadi 26 Letusan dalam Sehari! Simak Peringatan PVMBG
Indonesia
Jumat Malam Anak Krakatau Erupsi Beruntun Lagi, Jedanya Cuma 6 Menit
Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda mengalami erupsi beruntun dua kali pada Jumat malam (9/10) dengan jeda hanya 6 menit. Radius 2 km disterilkan!
Wisnu Cipto - Jumat, 09 Oktober 2026
Jumat Malam Anak Krakatau Erupsi Beruntun Lagi, Jedanya Cuma 6 Menit
Indonesia
Dua Pulau Baru Anak Krakatau Mendadak Muncul Pasca Erupsi, Ini Penjelasan Badan Geologi
Penasaran dengan fenomena munculnya dua pulau baru Anak Krakatau di Selat Sunda pasca erupsi beruntun? Cek fakta dan penjelasan resmi dari Badan Geologi di sini!
Angga Yudha Pratama - Kamis, 24 September 2026
Dua Pulau Baru Anak Krakatau Mendadak Muncul Pasca Erupsi, Ini Penjelasan Badan Geologi
Indonesia
Daratan Baru 32,8 Hektare Muncul di Dekat Gunung Anak Krakatau, Ini Penjelasan Badan Geologi
Daratan baru seluas 32,8 hektare muncul di sekitar Gunung Anak Krakatau setelah erupsi. Badan Geologi menjelaskan dugaan asal material pembentukannya.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 24 September 2026
Daratan Baru 32,8 Hektare Muncul di Dekat Gunung Anak Krakatau, Ini Penjelasan Badan Geologi
Indonesia
Jenazah ABK Kapal Ditumpangi Jurnalis Hilang di Selat Sunda Dijemput Bupati di Bandara Soekarno Hatta
Jenazah langsung dibawa ke kediaman almarhum di Kampung Pagedongan, Desa Sukajadi, Kecamatan Carita, Pandeglang.
Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 24 September 2026
Jenazah ABK Kapal Ditumpangi Jurnalis Hilang di Selat Sunda Dijemput Bupati di Bandara Soekarno Hatta
Indonesia
Kru Kapal Jurnalis Hilang Ditemukan di Enggano, Jenazah Diberangkatkan ke Banten Pakai Pesawat
Berdasarkan hasil pemeriksaan DNA operasi DVI Pusdokkes Polri terhadap jenazah yang ditemukan di Pulau Enggano, secara genetik dengan kode PM/62/P.Enggano/01, teridentifikasi sebagai Sukarman,
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 23 September 2026
Kru Kapal Jurnalis Hilang Ditemukan di Enggano, Jenazah Diberangkatkan ke Banten Pakai Pesawat
Berita Foto
Tabur Bunga untuk Jurnalis dan Awak Kapal yang Hilang Kontak di Pantai Pagedongan
Keluarga jurnalis yang hilang kontak melakukan tabur bunga di bibir Pantai Kampung Pagedongan, Carita, Pandeglang, Banten, Jumat (18/9/2026).
Didik Setiawan - Jumat, 18 September 2026
Tabur Bunga untuk Jurnalis dan Awak Kapal yang Hilang Kontak di Pantai Pagedongan
Indonesia
Setelah 10 Hari, Operasi Pencarian Jurnalis Hilang Dihentikan
Sepanjang operasi digelar, tim SAR gabungan secara umum tidak menemukan tanda-tanda keberadaan korban maupun awak kapal di seluruh sektor penyisiran.
Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 17 September 2026
Setelah 10 Hari, Operasi Pencarian Jurnalis Hilang Dihentikan
Indonesia
Tinggi Anak Krakatau Capai 150 M Setelah Erupsi, PVMBG Jamin Longsor Tidak Picu Tsunami
Tinggi Gunung Anak Krakatau capai 150 meter usai erupsi September 2026, namun dipastikan aman dari potensi tsunami.
Wisnu Cipto - Kamis, 17 September 2026
Tinggi Anak Krakatau Capai 150 M Setelah Erupsi, PVMBG Jamin Longsor Tidak Picu Tsunami
Bagikan