MerahPutih.com - Anggota Komisi I DPR, TB Hasanuddin, meragukan kemampuan diplomasi Indonesia untuk menjadi fasilitator dalam konflik yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran yang semakin memanas saat ini.
Politisi PDIP itu menilai, masuknya Indonesia saat ini berada dalam keanggotaan Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian bentukan Presiden AS, Donald Trump, membuat posisi negara kemungkinan jadi kurang netral di mata Iran.
“Sulit rasanya membayangkan Iran bisa menerima dengan mudah," ujar TB Hasanuddin kepada wartawan, Senin (2/3).
TB Hasanuddin juga menekankan, menjadi fasilitator bukanlah sekadar peran simbolik. Ada konsekuensi serius terkait waktu, tenaga, dan anggaran negara.
Baca juga:
Menlu Sugiono Tegaskan DK PBB dan Board of Peace Harus Sejalan soal Palestina
Ia juga meragukan komitmen pemerintah untuk terlibat dalam jangka panjang.
"Dialog tidak hanya satu atau dua kali. Pertanyaannya, apakah presiden atau menteri luar negeri sudah benar-benar siap?" katanya.
Selain itu, ia menilai Indonesia seharusnya fokus mengambil peran mediasi di kawasan sendiri. Misalnya, dalam konflik perbatasan Thailand dan Kamboja, dibanding melibatkan diri di konflik jauh seperti Iran.
Sebelumnya, Prabowo menyatakan kesiapannya menjadi fasilitator dialog di tengah kondisi tegang dan membara di kawasan Timur Tengah menyusul konfirmasi serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran.
Baca juga:
Ego Amerika dan Belum Pernah ke Iran, Bakal Sulitkan Prabowo Jadi Penengah Perang
Prabowo bahkan siap bertolak ke Teheran, Iran. Pemerintah Indonesia menyesalkan perundingan AS dan Iran yang gagal dan berdampak pada eskalasi militer di kawasan Timur Tengah dan perdamaian dunia.
"Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Presiden Republik Indonesia, menyampaikan kesiapan untuk memfasilitasi dialog bagi terciptanya kembali kondisi keamanan yang kondusif dan apabila disetujui kedua belah pihak, Presiden Indonesia bersedia untuk bertolak ke Teheran untuk melakukan mediasi," dikutip dari akun X @Kemlu_RI, Sabtu (28/2). (knu)