Kesehatan

Mana yang Benar, Sikat Gigi Sesudah atau Sebelum Sarapan?

Hendaru Tri HanggoroHendaru Tri Hanggoro - Jumat, 16 September 2022
Mana yang Benar, Sikat Gigi Sesudah atau Sebelum Sarapan?

Email juga dapat melemah jika setelah makan kamu langsung menyikat gigi. (Foto: Freepik/Master1305)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

"BANGUN tidur, ku terus mandi. Tidak lupa menggosok gigi." Selama puluhan tahun, lagu kanak-kanak berjudul "Bangun Tidur" ini terus tertinggal di telinga. Lagu itu mengajak kanak-kanak untuk segera aktif pada pagi hari. Lagu ini tak cocok untuk kaum rebahan dan 'night owl', kaum begadang, yang habis bangun tidur, justru tidur lagi.

Dan selama puluhan tahun pula, lagu ini menanamkan kebiasaan umum pada pagi hari. Bangun, mandi, lalu gosok gigi. Arkian barulah merapikan tempat tidur atau mungkin sarapan. Lalu setelah sarapan, haruskah kita menggosok gigi lagi? Atau kita mau mencoba mengubah kebiasaan itu? Sarapan dulu, baru gosok gigi?

Konsensus yang diterima secara universal adalah bahwa kita harus menyikat gigi dua kali sehari. Namun, apa yang tidak ditentukan oleh konsensus itu adalah kapan tepatnya kamu harus menyikat gigi.

Sebagian orang memilih mencoba pola kedua : sarapan dulu, baru gosok gigi. Alasannya, menyikat gigi sebelum makan tampaknya kontraproduktif. Namun, jawaban yang tepat adalah kamu harus mempertahankan pola pertama seperti dalam lagu itu : menyikat gigi sebelum sarapan.

Baca juga:

Sikat Gigi Harus Dua Kali Sehari

sikat gigi setelah atau sebelum makan
Menurut dokter gigi, semuanya bermuara pada plak dan produk sampingan asam. (Foto: Freepik/Drazen Zigic)

"Menurut dokter gigi, semuanya bermuara pada plak dan produk sampingan asam. Saat kamu menyikat gigi pada pagi hari, kamu menghilangkan semua biofilm plak yang terakumulasi saat tidur," tulis realsimple.com. Inilah zat yang menyebabkan napasmu berbau 'naga' pada pagi hari.

Kamu sebaiknya menghilangkan plak dari permukaan gigi kira-kira setiap 12 jam. Jadi menyikat gigi dan lidah tepat saat bangun tidur adalah hal yang ideal. Menyikat gigi sebelum makan juga dapat melapisi gigi dengan pelindung terhadap asam dalam makananmu.

Jika makan tanpa menyikat gigi, itu sama saja kamu makan dengan semua plak di gigimu. Yang berarti juga kamu makan lebih banyak bakteri dan produk asam. Ketika kamu menyikat gigi tepat setelah makan, asam yang ada di mulut akan terbawa lebih menyebar dalam mulut.

Selain itu, email juga dapat melemah jika setelah makan kamu langsung menyikat gigi. Kebiasaan itu dapat meningkatkan risiko demineralisasi email yang bisa menjadi masalah jika kamu sudah berisiko mengalami kerusakan gigi.

Pengecualian aturan menyikat gigi sebelum sarapan adalah jika makananmu mengandung banyak gula, seperti donat atau sereal manis. Membiarkan gula menempel lama adalah hal terburuk untuk gigimu. Jadi menyikat gigi setelahnya dapat membantu mencegah gigi berlubang.

Baca juga:

Atasi Masalah dan Malas Sikat Gigi dengan Produk Kekinian

sikat gigi
Menyikat gigi dan lidah tepat saat bangun tidur adalah hal yang ideal. (Foto: Freepik/Lookstudio)

Namun, perlu diingat, sarapan ada yang bersifat asam seperti buah, jus jeruk, dan kopi. Jadi, perhatikan pula mana yang lebih sering kamu konsumsi untuk sarapan.

Jika kamu benar-benar tidak tahan berangkat kerja dengan nafas berbau kopi, Direktur Kedokteran Gigi, Angelique Freking, di Park Slope Dentistry Seventh Avenue, New York City, AS, merekomendasikan untuk berkumur dengan air untuk membantu menghilangkan asam.

Selain itu, jika kamu benar-benar ingin menyikat gigi setelah sarapan, cobalah setidaknya menunggu beberapa saat setelah makan agar asamnya menetralisir. Air liur butuh 30 sampai 45 menit untuk remineralisasi dan mengembalikan email ke keadaan sebelumnya.

Kalau benar-benar ingin mengontrol plak, kamu dapat menyikat gigi 30 menit sebelum dan setelah sarapan. Banyak yang harus ditanyakan, tetapi dokter gigi setuju bahwa itu adalah pilihan terbaik untuk mengurangi penumpukan plak dan erosi asam. Sambil secara efektif menghilangkan semua sisa makanan dari sarapan.

"Pada akhirnya, konsistensi adalah kunci dari kebiasaan baik. Saya akan memilih menyikat gigi secara konsisten setelah sarapan dibandingkan menyikat gigi secara tidak konsisten sebelum sarapan," kata Freking seperti dikutip Real Simple.

Jadi, pesan dalam lagu "Bangun Tidur" itu masih relevan sampai sekarang, ya. (aru)

Baca juga:

Rajin Sikat Gigi Tetap Bau Mulu? Waspadai Penyakit Berikut

#Sikat Gigi #Kesehatan #Gigi
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Hendaru Tri Hanggoro

Berkarier sebagai jurnalis sejak 2010 dan bertungkus-lumus dengan tema budaya populer, sejarah Indonesia, serta gaya hidup. Menekuni jurnalisme naratif, in-depth, dan feature. Menjadi narasumber di beberapa seminar kesejarahan dan pelatihan jurnalistik yang diselenggarakan lembaga pemerintah dan swasta.
Show More

Berita Terkait

Lifestyle
Dokter Citra Poerwa Ungkap Dampak Stres Finansial bagi Kesehatan hingga Sandwich Generation
Dokter Citra Poerwa menjelaskan kaitan stres finansial dengan kesehatan mental dan fisik serta pentingnya skala prioritas bagi sandwich generation.
Soffi Amira - Minggu, 25 Oktober 2026
Dokter Citra Poerwa Ungkap Dampak Stres Finansial bagi Kesehatan hingga Sandwich Generation
Indonesia
Rabu Pagi, Kualitas Udara Jakarta tidak Sehat
Kualitas udara Jakarta berada pada poin 162 dengan tingkat konsentrasi polutan PM 2,5 sebesar 71 mikrogram per meter kubik.
Dwi Astarini - Rabu, 21 Oktober 2026
Rabu Pagi, Kualitas Udara Jakarta tidak Sehat
Fun
We Pause We Rise Ajak Perempuan Kenali Perimenopause, Ahli Ingatkan Gejala Brain Fog
We Pause We Rise menggelar Rose & Bloom untuk mengedukasi perempuan tentang perimenopause dan menopause, termasuk brain fog, kesehatan tulang, dan hipertensi.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 19 Oktober 2026
We Pause We Rise Ajak Perempuan Kenali Perimenopause, Ahli Ingatkan Gejala Brain Fog
Indonesia
Jakarta Catat 58 Kasus DBD per Oktober 2026
Secara kumulatif, jumlah kasus selama Januari hingga Oktober 2026 juga lebih rendah jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Dwi Astarini - Sabtu, 17 Oktober 2026
Jakarta Catat 58 Kasus DBD per Oktober 2026
Lifestyle
Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit
Inovasi F1 telah memberikan dampak yang jauh melampaui lintasan balap.
Dwi Astarini - Kamis, 15 Oktober 2026
 Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit
Berita Foto
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
SPG menunjukkan tampilan antarmuka (user interface/UI) aplikasi U-Buddy saat peluncurannya di Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Didik Setiawan - Rabu, 07 Oktober 2026
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
Indonesia
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
bandara dan pelabuhan internasional di Bali menerapkan peningkatan pengawasan pelaku perjalanan melalui pengawasan deklarasi kesehatan (All Indonesia - SSHP).
Dwi Astarini - Selasa, 06 Oktober 2026
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
Lifestyle
Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Berapa kali celupan yang dibutuhkan untuk memindahkan jumlah bakteri yang kira-kira sama banyaknya dengan ciuman berdurasi 10 detik?
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
 Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Indonesia
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Anak demam tinggi dan sesak napas? Peringatkan bahaya virus influenza tipe A pada anak. Segera bawa ke faskes rujukan terdekat!
Wisnu Cipto - Jumat, 02 Oktober 2026
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Lifestyle
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Dokter Paskah ungkap tiga tantangan pengobatan gagal jantung lanjut di Indonesia, mulai dari literasi masyarakat, keterbatasan dokter hingga mahalnya teknologi.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 01 Oktober 2026
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Bagikan