Longsor di Gunung Slamet Dibantah Akibat Aktivitas Penambangan
Kementerian Pekerjaan Umum (PU) memobilisasi jembatan darurat dan alat berat untuk mempercepat pemulihan akses terdampak banjir di Pemalang dan Purbalingga, Jawa Tengah. (ANTARA/HO - Kementerian PU)
MerahPutih.com - Sejumlah wilayah di lereng Gunung Slamet, khususnya di Kabupaten Pemalang dan Purbalingga, mengalami longsor.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) memastikan bahwa bencana tanah longsor yang terjadi area gunung tersebut tidak disebabkan oleh aktivitas penambangan.
Kepala Dinas ESDM Jateng Agus Sugiharto menyampaikan, pihaknya secara rutin melakukan upaya mitigasi bencana melalui penyampaian informasi potensi gerakan tanah kepada seluruh bupati/wali kota setiap bulan.
Terutama, sejak memasuki musim penghujan. Informasi tersebut bersumber dari hasil overlay antara peta rawan longsor dengan data prakiraan cuaca dan curah hujan dari BMKG.
Baca juga:
48 Rumah Warga Korban Longsor Cisarua Bakal Direlokasi, Segera Dapat Huntara
"Setiap bulan kami merilis peta potensi gerakan tanah yang dilengkapi tabulasi curah hujan dan tingkat kerawanan, mulai dari rendah hingga tinggi. Ini kami sebarkan sebagai peringatan dini agar daerah bisa meningkatkan kewaspadaan," katanya.
Selain itu, pihaknya juga melakukan penataan kegiatan penambangan serta memberikan surat peringatan kepada seluruh pelaku usaha tambang agar menjalankan aktivitas sesuai ketentuan administratif, teknis, "good mining practice", dan ketentuan lingkungan.
Sosialisasi kepada masyarakat di wilayah rawan bencana juga terus dilakukan agar warga segera mengamankan diri apabila terjadi hujan lebat atau intensitas tinggi dan durasi panjang.
Terkait penyebab longsor di lereng Gunung Slamet, ia menjelaskan bahwa longsoran terjadi pada lereng-lereng terjal di tubuh gunung akibat curah hujan ekstrem yang berlangsung selama beberapa hari.
Kondisi tersebut membuat tanah menjadi jenuh air, sehingga kekuatan dan kestabilan lereng menurun.
"Tanah yang gembur memiliki porositas tinggi. Ketika terisi air hingga mencapai titik jenuh, ditambah kemiringan lereng yang curam, maka kestabilannya terganggu dan terjadi longsor," katanya.
Faktor utama pemicu longsor, meliputi intensitas hujan tinggi, kondisi litologi atau jenis batuan yang mudah lapuk, serta kelerengan yang terjal.
Agus juga menegaskan, lokasi penambangan berada di kaki Gunung Slamet, dengan elevasi lebih rendah sekitar ratusan meter dari mahkota longsoran sehingga tidak berkaitan sebagai pemicu bencana.
"Tidak ada penambangan yang masuk ke tubuh Gunung Slamet. Lokasi tambang berada jauh dari titik longsor," katanya.
Kondisi tersebut klaim ia, berdasarkan hasil tinjauan lapangan dan kajian teknis yang dilakukan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jateng.
Bagikan
Alwan Ridha Ramdani
Berita Terkait
Longsor di Gunung Slamet Dibantah Akibat Aktivitas Penambangan
48 Rumah Warga Korban Longsor Cisarua Bakal Direlokasi, Segera Dapat Huntara
40 Tenaga Kerja Lokal Dikerahkan Buat Pulihkan Sumatera dari Dampak Bencana
Jasad 33 Korban Longsor Cisarua Bandung Belum Ditemukan, Evakuasi Terkendala Hujan
30 Kantong Jenazah Terindentifikasi, 48 Kantong Korban Longsor Cisarua Sudah Ditemukan
DPR Ingatkan Indonesia Darurat Sampah dan Bencana, Baru 25 Persen Sampah Terkelola
Tim SAR Tetapkan Masa Pencarian Korban Longsor Cisarua 14 Hari, Laporan Hilang Capai 108
2 Bhabinkamtibmas Meninggal Saat Hendak Menolong Korban Longsor Cisarua, Kapolri Berduka
Pemerintah Janji Evaluasi Bencana dari Hulu Sampai Hilir, Bakal Bikin Tim Penanggulangan
Kesulitan Akses Alat Berat, Masih Ada Puluhan Korban Tertimbun Longsor di Cisarua Bandung