Merahputih Nasional- Pihak Universitas Muslim Indonesia (UMI) berencana akan memecat (Drop Out) para mahasiswanya yang melakukan aksi unjuk rasa menolak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).
Menanggapi hal tersebut analis Komunikasi politik dari Universitas Indonesia, Effendi Ghazali, menilai tindakan rektorat UMI dipandang tidak tepat.
"Mereka nilainya tidak jelek. Jadi lebih baik mereka mendrop out pemerintah karena telah menaikan harga bbm," sindir Effendi saat diskusi publik Kilas Balik Gerakan Rakyat Menolak Kenaikan BBM, di Pulau Dua, Selasa (9/12).
Penggiat demokrasi tersebut menambahkan ketimbang mengeluarkan mahasiswa dari kampus UI lebih baik pemerintah yang di drop out. Sebab kebijakan pemerintah Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-Kalla) menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dinilai tidak jelas.
?
?"Data mutakhir dari mana pengalihan kenaikan harga bbm untuk pengalihan rakyat miskin. Lebih baik men drop out pemerintah dari pada mendrop out mahasiswa," tambah Effendi menegaskan.
?Masih kata Effendi pihaknya juga mendesak pemerintah untuk mengingat salah satu ucapan dari Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK, Abraham Samad, yang pernah mengatakan ada potensi kerugian negara sebesar 7000 trilliun. Pernyataan itu kata Effendi, seharusnya menjadi perhatian pemerintah.?
?"Itu hasil penelitian metodologi KPK dan itu studi. Seandainya pemerintah mengambil lima persen aja dari potensi kerugian tersebut setidaknya pemerintah sudah mendapatkan 350 trilliun. Ini ilmiah dalam kontek memperingati hari korupsi nasional," demikian Effendi.