Lawan Hoax, Pengamat: Kuncinya Literasi dan Harus Cerdas
Ilustrasi (Foto Ist)
Hoax menjadi fenomena yang meresahkan di masyarakat. Hoax dijadikan 'kendaraan' oleh kelompok tertentu untuk menyebarkan berita bohong yang tidak bertanggung jawab. Ironisnya, hoax ini sulit dibendung seiring dengan kemajuan teknologi informasi berupa media sosial (medsos).
Pengamat medsos dan IT Nukman Luthfie mengungkapkan hoax sudah lama ada sehingga masyarakat sepertinya sudah biasa dengan berita-berita hoax. Bahkan, hoax banyak dijumpai, tidak hanya melalui media, tapi ruang bebas seperti iklan obat kuat, investasi menggandakan uang, dan lain-lain. Sekarang menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak, hoax banyak digunakan untuk kepentingan politik.
"Kuncinya adalah literasi (pemahaman) dan kecerdasan masyarakat dalam menyaring berita atau informasi. Selama ini masyarakat kita tidak biasa kritis dan kesannya gampang menelan konten apapun di media dan medsos, termasuk konten yang tidak berdasar," ujar Nukman di Jakarta, Jumat (27/1).
Nukman menilai literasi masyarakat terhadap informasi baik di media maupun medsos sangat rendah. Hal itu dipengaruhi banyak faktor. Pertama, di medsos orang kadang hanya melihat judulnya saja, tanpa dipahami isi berita, mereka langsung share. Bahkan ada dalam statistik sebuah lembaga hampir 40 persen kontek di medsos tidak pernah dibuka. Fakta inilah yang menjadi salah satu cikal bakal hoax.
"Sebagian konten hoax itu judulnya pasti bombastis, padahal isinya tidak ada apa-apanya. Yang membahayakan itu ketika judul-judul itu tidak benar terus menyebar dan orang yang menerima setuju, terus menyebarkan lagi. Bisa dibayangkan betapa besar dampak hoax tersebut," terang Nukman.
Karena itu, Nukman menyarankan kepada siapapun yang menggunakan medsos untuk lebih cerdas dan arif untuk membaca lebih dulu isi berita sebelum menyebarkan. Selain itu, juga harus cek ricek tentang sumber berita tersebut.
Bagikan
Berita Terkait
[HOAKS atau FAKTA]: Pesawat ATR 42-500 Jatuh karena Power Bank Penumpang Terbakar
[HOAKS atau FAKTA]: Seperti Venezuela, Donald Trump Ancam Tangkap Prabowo jika Lakukan Perusakan Terhadap Alam
[HOAKS atau FAKTA]: Hakim PN Surakarta Pastikan Ijazah Jokowi Palsu
[HOAKS atau FAKTA]: Dedi Mulyadi Disambut Ribuan Orang saat Tiba di Lokasi Bencana Sumatra
[HOAKS atau FAKTA]: Penularan Virus Super Flu Dinilai Lebih Cepat dan Berbahaya dari COVID-19
[HOAKS atau FAKTA]: Bahlil Asyik Berjoget di Tengah Duka Korban Bencana Sumatra
[HOAKS atau FAKTA]: Pemerintah Australia Bagi-bagi Uang untuk Modal Usaha, Dititip Lewat Kementerian Agama
[HOAKS atau FAKTA]: Megawati Kepincut Menkeu Purbaya, Tawari Masuk PDIP dan Dijadikan Ketua Partai
[HOAKS atau FAKTA]: Luhut Binsar Pandjaitan Sebut Kunjungan Dedi Mulyadi ke Sumatra Hanya Cuma Pencitraan
[HOAKS atau FAKTA]: Prabowo Perintahkan Semua Kantor Desa Diaudit, Menkeu Purbaya Didemo Para Kades