MERAHPUTIH.COM - ANGGOTA Komisi XI DPR RI Marwan Jafar mendorong Bank Indonesia (BI) untuk lebih aktif mengarahkan industri perbankan nasional agar memprioritaskan pembiayaan pada sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta sektor ekspor. Ia menilai peran strategis BI sebagai otoritas makroprudensial sangat diperlukan untuk mengoreksi kecenderungan perbankan yang selama ini lebih nyaman menyalurkan kredit kepada korporasi besar.
Marwan menyoroti data kinerja perbankan periode 2025 hingga triwulan pertama 2026 yang menunjukkan tren negatif pada sektor kerakyatan. Tercatat penyaluran kredit ke UMKM dan koperasi justru mengalami penurunan dari Rp 79 triliun menjadi Rp 76 triliun.
“Sebagai otoritas yang mengomandoi sektor perbankan, BI seharusnya bisa mendorong bank negara maupun swasta agar tidak hanya fokus pada korporasi besar. Penurunan kredit UMKM ini perlu dijelaskan secara terbuka dan transparan kepada publik, jangan hanya disajikan dalam grafik yang sulit dipahami masyarakat,” ujar Marwan di Jakarta, Jumat (10/4).
Legislator asal Jawa Tengah ini menegaskan penguatan sektor riil merupakan instrumen penting dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional, selain tugas rutin BI dalam menjaga nilai tukar, inflasi, dan cadangan devisa. Ia menyayangkan alokasi anggaran BI untuk program pengembangan UMKM yang hingga kini realisasinya belum mencapai 100 persen.
Baca juga:
Nasib UMKM Diprediksi Bakal Meroket Usai Indonesia-AS Sepakati Tarif Dagang
Selain isu UMKM, Marwan juga mencermati kinerja devisa negara. Meski capaian ekspor-impor saat ini masih stabil, ia meminta BI memberikan penjelasan rinci terkait dengan proyeksi 2026 yang cenderung moderat. Menurutnya, pelaku usaha membutuhkan kepastian arah kebijakan agar dapat menyusun strategi menghadapi perlambatan proyeksi tersebut.
“BI harus lebih serius mendorong perbankan agar berpihak pada UMKM dan eksportir. Penyaluran kredit ke sektor produktif ini sangat penting untuk memperkuat cadangan devisa sekaligus menjaga daya tahan ekonomi nasional secara menyeluruh,” tegasnya.
Lebih jauh Marwan berharap BI tidak hanya terpaku pada stabilitas moneter di atas kertas, tetapi juga hadir memberikan solusi nyata bagi hambatan pembiayaan yang dialami pelaku usaha kecil.
Langkah konkret BI dalam mendorong perbankan diharapkan mampu membalikkan tren penurunan kredit UMKM menjadi pertumbuhan yang positif di sisa 2026.(Pon)
Baca juga:
Harga Plastik di Jakarta Naik hingga 40 Persen, Pelaku UMKM Kena Imbasnya