MerahPutih Internasional - Atas tuduhan FBI dan pernyataan dari Presiden Barack Obama yang menyudutkan Korea Utara sebagai pelaku serangan kepada Sony, melalui juru bicaranya Korea utara menyatakan telah difitnah oleh Amerika Serikat.
"Amerika Serikat menyebar tuduhan tidak berdasar dan memfitnah kami, kami mengusulkan penyelidikan bersama atas insiden ini," kata juru bicara itu seperti dikutip oleh Korean Central News Agency (KCNA).
Juru bicara itu juga mengancam "konsekuensi serius" jika AS terus mengkaitkan Korea Utara terhadap serangan ini. "Tapi dalam kasus ini kita harus membalas, kita tidak akan melakukan serangan teroris pada orang tidak bersalah di bioskop namun serangan frontal bertahap pada mereka yang bertanggung jawab atas kegiatan bermusuhan pada DPRK (Korea Utara) dan markas mereka," katanya.
Meskipun menyangkal serangan itu, tubuh militer Komisi Pertahanan Nasional Korea Utara mengecam Sony "bersekongkol dengan teroris karena menyakiti martabat kepemimpinan tertinggi", menurut KCNA.
Surat kabar pemerintah Tiongkok, Global Times, juga mengkritik film The Interview, dengan menggambarkannya sebagai "arogansi budaya yang tidak masuk akal" dalam sebuah editorial.
Presiden Barack Obama mengatakan "tidak ada bukti" bahwa Korea Utara telah bertindak dalam tim dengan negara lain setelah China telah menyatakan memberikan bantuan pada AS.
Presiden juga mengatakan bahwa sementara ia bersimpati pada penderitaan Sony, raksasa film telah "melakukan kesalahan" karena membatalkan rilis The Interview.
Sony masih bersemangat dan mengatakan masih berharap untuk dapt merilis film pada platform yang berbeda, mungkin berdasarkan pada permintaan atau bahkan dipasarkan online secara gratis.
"Kami belum menyerah,” kata bos studio, Michael Lynton, “kami telah bertahan dan kami belum mundur," lanjutnya.