MERAHPUTIH.COM — PRESIDEN Prabowo bertemu Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung di Cheong Wa Dae, Rabu (4/1). Kedua pemimpin negara tersebut sepakat memperluas kemitraan bilateral mereka dalam ketahanan energi dan pertahanan.
Seperti dilansir The Korea Times, kedua negara menandatangani nota kesepahaman (MoU) di 16 sektor, termasuk mineral kritis dan energi terbarukan, sejalan dengan pertemuan puncak antara Presiden Jae-myung dan Presiden Prabowo dalam kunjungan kenegaraan ke Seoul. Namun, kesepakatan yang sangat dinantikan terkait pembelian jet tempur KF-21 buatan Korea oleh Indonesia belum diumumkan kali ini. Pengumuman tersebut diperkirakan akan dilakukan dalam beberapa bulan mendatang.
Presiden Korsel menyebut pasokan stabil gas alam cair (LNG), batu bara, dan sumber energi penting lainnya dari Indonesia memberikan rasa aman yang besar di tengah gangguan rantai pasokan energi global akibat konflik di Timur Tengah. “Kemitraan kami merupakan berkah bagi kedua negara di tengah ketidakpastian global dan berbagai tantangan. Sangat penting bagi kami untuk memperluas kerja sama dalam ketahanan energi guna meminimalkan dampak krisis ini terhadap perekonomian dan kehidupan masyarakat,” kata Jae-myung.
Sejalan dengan hal tersebut, kedua negara memasukkan mineral kritis, energi bersih, serta teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon (carbon capture and storage/CCS), yang semuanya terkait dengan kerja sama energi, ke MoU yang ditandatangani setelah pertemuan di Cheong Wa Dae.
Pertemuan puncak ini memberikan dorongan penting untuk menjadikan hubungan bilateral semakin luar biasa, merujuk pada peningkatan hubungan Seoul–Jakarta menjadi kemitraan strategis komprehensif khusus, yang merupakan peningkatan dari kemitraan strategis khusus yang disepakati pada 2017. “Saya sangat menantikan pencapaian apa yang akan dihasilkan dari langkah-langkah berikutnya bersama Indonesia,” tambah Jae-myung.
Baca juga:
Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung Sambut Presiden Prabowo di Blue House
Presiden Prabowo menegaskan kemitraan Korea–Indonesia semakin penting di tengah peningkatan ketidakpastian global, seraya menambahkan bahwa kedua negara saling melengkapi.
“Korea memiliki kemampuan industri dan teknologi yang maju, sedangkan Indonesia memiliki sumber daya yang melimpah dan pasar yang besar. Kita harus terus memperkuat hubungan ini, dan saya percaya perlu untuk meningkatkan kemitraan strategis khusus yang dibentuk pada 2017 ke tingkat yang lebih tinggi, dengan memperluasnya menjadi kerja sama yang lebih komprehensif,” kata Prabowo.
Dalam pertemuan itu juga dibahas perdmaian dan stabilitas keamanan dunia. Menurut Jae-myung, sebagai negara kekuatan menengah (middle powers), Indonesia dan Korsel dapat berkontribusi bersama bagi komunitas internasional. Senada, Prabowo menekankan menjaga perdamaian dan stabilitas membutuhkan keamanan dan pertahanan yang kuat, sebuah poin yang disepakati kedua pemimpin.
MoU yang ditandatangani kedua negara mencakup berbagai bidang seperti mineral kritis, pengembangan teknologi digital, layanan kesehatan berbasis kecerdasan buatan, energi bersih, CCS, industri jasa pabrik lepas pantai, serta perlindungan kekayaan intelektual.
Pertemuan puncak tersebut kemudian diikuti jamuan makan siang resmi yang menghormati tradisi keagamaan dan budaya Indonesia, sekaligus menonjolkan keharmonisan kedua negara. Menu yang disajikan mencakup hidangan Korea yang dibuat dengan bahan halal, dipadukan dengan saus sambal dan salad gado-gado untuk mencerminkan selera Indonesia, serta kopi Mandheling, yang melambangkan persatuan kedua negara.
Presiden Prabowo juga menerima Order of Mugunghwa, medali kehormatan tertinggi di Korea Selatan, sebagai pengakuan atas kontribusinya dalam mendukung kegiatan perusahaan Korea di Indonesia serta mempromosikan hubungan persahabatan kedua negara.(dwi)
Baca juga:
Presiden Korea Selatan akan Terima Presiden Prabowo, Bahas Pembelian KF-21