Kisruh Data Pangan, Pakar Pertanian Desak BPS Rekrut SDM Baru

Noer ArdiansjahNoer Ardiansjah - Sabtu, 28 November 2015
Kisruh Data Pangan, Pakar Pertanian Desak BPS Rekrut SDM Baru

Pemandangan perbukitan yang dijadikan lahan pertanian di kawasan dataran tinggi Dieng, Karang Tengah, Batur, Banjarnegara, Jateng, Senin (23/11). (ANTARA FOTO/Anis Efizudin)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih Bisnis - Pakar ekonomi pertanian Bustanul Arifin mengatakan dalam kisruh data pangan yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) merupakan bagian dari proses berpikir ilmiah. Untuk mendapat data pangan yang valid dan sempurna, masyarakat mesti terlibat aktif dalam memberikan informasi terkait data-data yang dibutuhkan BPS.

"Terus terang saya harus katakan ini adalah proses berpikir ilmiah. Data adalah suatu hasil yang dibutuhkan. Kalau cara mendiagnosa kemudian menganalisis dengan akurasi, dari sinilah kita bisa menyimpulkan. Dari situ peluang untuk terjadinya akurasi data bisa terjadi, dan masyarakat juga ikut terlibat," kata Bustanul Arifin dalam diskusi bertajuk "Mengapa Timpang Data Pertanian?"‎ di Gado-Gado Boplo, Jalan Gereja Theresia, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (28/11).

Alumnnus Institut Pertanian Bogor (IPB) ini menjelaskan bahwa untuk memecahkan suatu persoalan bangsa, salah satunya pertanian adalah akurasi data di lapangan. Hal ini menyangkut proses pembuatan kebijakan terkait sektor tersebut supaya berjalan dengan baik.

"Harus disadari data adalah satu faktor penting dalam satu konstruksi berpikir ilmiah," ujarnya lagi.

Sebagai lembaga yang dapat dipertanggungjawabkan, ia juga menyarakan agar BPS bisa melakukan perekrutan sumber daya manusia (SDM) untuk mencapai data yang akurat sesuai fakta di lapangan.

"Jadi kita minta kepada BPS selaku yang paling bertanggung jawab, kalau mereka membutuhkan tenaga kerja baru, sumber daya manusia silahkan rekrut. Karena memang untuk mengumpulkan data 26 juta petani ini memang besar. Selama ini mereka bermitra dengan pusat (lembaga) tertentu," tegas Buhsanul. (dit)


BACA JUGA:

  1. Kisruh Data Pangan, Kementan dan BPS Jangan Perkeruh Suasana
  2. BPS Yakin Inflasi 2015 Sesuai Target
  3. BPS Akui Data Produksi Beras Nasional Tak Valid
  4. Mulai Tahun Depan, BPS Ubah Perhitungan Produksi Pangan
  5. BPS: Neraca Perdagangan Oktober 2015 Surplus US$1,01 Miliar
#Data Pangan #Ketahanan Pangan #Pertanian #Bustanul Arifin
Bagikan
Ditulis Oleh

Noer Ardiansjah

Tukang sulap.

Berita Terkait

Indonesia
Rehabilitasi Sawah Rusak Rp 5 Triliun, DPR Minta Pengawasan Ketat
Bencana banjir dan longsor merusak lahan pertanian juga menghancurkan hasil panen, benih yang telah ditanam, serta sarana produksi pertanian lainnya.
Dwi Astarini - Kamis, 15 Januari 2026
Rehabilitasi Sawah Rusak Rp 5 Triliun, DPR Minta Pengawasan Ketat
Indonesia
Mentan Amran Targetkan Rehabilitasi Lebih dari 100 Ribu Hektare Lahan Pertanian di Aceh hingga Sumbar
Program ini diharapkan mampu memulihkan produktivitas pertanian sekaligus menjaga keberlanjutan ketahanan pangan nasional, khususnya di wilayah terdampak.
Dwi Astarini - Rabu, 14 Januari 2026
Mentan Amran Targetkan Rehabilitasi Lebih dari 100 Ribu Hektare Lahan Pertanian di Aceh hingga Sumbar
Indonesia
Mentan Amran Minta Tambahan Anggaran Pemulihan Pertanian Sumatera Rp 5,1 Triliun
Luas sawah terdampak bencana banjir 3 provinsi di Sumatera 107,4 ribu hektare, termasuk di antaranya 44,6 ribu hektare padi dan jagung gagal panen.
Wisnu Cipto - Rabu, 14 Januari 2026
Mentan Amran Minta Tambahan Anggaran Pemulihan Pertanian Sumatera Rp 5,1 Triliun
Indonesia
Beras Wajib Satu Harga di Seluruh Indonesia, Bulog Dapat Margin 7 Persen
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengapresiasi keputusan pemerintah yang memberikan dukungan margin penugasan tersebut sebagai bentuk penguatan terhadap peran Bulog.
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 12 Januari 2026
Beras Wajib Satu Harga di Seluruh Indonesia, Bulog Dapat Margin 7 Persen
Indonesia
Presiden Prabowo Ungkap Keprihatianan, Sebut Banyak Kekayaan Negara yang Bocor karena tak Pandai Mengelola
Prabowo menilai kebocoran kekayaan nasional menjadi persoalan lama, yang sudah ia rasakan sejak jauh sebelum menjabat presiden.
Dwi Astarini - Rabu, 07 Januari 2026
Presiden Prabowo Ungkap Keprihatianan, Sebut Banyak Kekayaan Negara yang Bocor karena tak Pandai Mengelola
Indonesia
Update Harga Pangan Nasional 2 Januari: Cabai Rawit Merah Makin 'Pedas', Telur Ayam Ras Ikut Naik
Sektor daging juga mengalami tekanan harga, di mana daging sapi kualitas I dijual rata-rata Rp142.350 per kg
Angga Yudha Pratama - Jumat, 02 Januari 2026
Update Harga Pangan Nasional 2 Januari: Cabai Rawit Merah Makin 'Pedas', Telur Ayam Ras Ikut Naik
Indonesia
Update Harga Komoditas Pangan Jumat (26/12): Cabai Rawit Merah Makin 'Pedas' di Kantong!
Untuk kelompok cabai lainnya, cabai merah besar mencapai Rp49.800 per kg, cabai merah keriting Rp50.700 per kg, dan cabai rawit hijau tercatat seharga Rp54.050 per kg
Angga Yudha Pratama - Jumat, 26 Desember 2025
Update Harga Komoditas Pangan Jumat (26/12): Cabai Rawit Merah Makin 'Pedas' di Kantong!
Indonesia
Wagub Rano Karno Jamin Ketersediaan Pangan Jakarta Aman, Subsidi Ayam Segera Meluncur
Guna meredam gejolak harga tersebut, pemerintah akan segera mengambil langkah taktis
Angga Yudha Pratama - Senin, 22 Desember 2025
Wagub Rano Karno Jamin Ketersediaan Pangan Jakarta Aman, Subsidi Ayam Segera Meluncur
Indonesia
Harga Pangan 12 Desember: Cabai Rawit Tembus Rp 80 Ribu Per Kg, Telur dan Bawang Ikut Meroket
Komoditas gula dan minyak goreng pun mengalami peningkatan harga
Angga Yudha Pratama - Jumat, 12 Desember 2025
Harga Pangan 12 Desember: Cabai Rawit Tembus Rp 80 Ribu Per Kg, Telur dan Bawang Ikut Meroket
Indonesia
Harga Pangan Strategis Terbaru 11 Desember: Cabai Rawit, Bawang Merah Hingga Beras Meroket
PIHPS juga mencatat kenaikan signifikan pada jenis cabai lainnya
Angga Yudha Pratama - Kamis, 11 Desember 2025
Harga Pangan Strategis Terbaru 11 Desember: Cabai Rawit, Bawang Merah Hingga Beras Meroket
Bagikan