Home Leaderboard 1
Home Leaderboard 1

Kisah Sales Marketing Keluar dari Jeratan Pinjol dan Judol

Dwi AstariniDwi Astarini - Rabu, 17 Juni 2026
Kisah Sales Marketing Keluar dari Jeratan Pinjol dan Judol

N jadi satu dari jutaan orang yang melakukan transaksi dengan pinjaman online. (Foto: unsplash/towfique)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MERAHPUTIH.COM - SUARA notifikasi tagihan yang terus berdatangan pernah menjadi hal yang paling ditakuti N setiap hari. Sebagai seorang sales marketing dengan penghasilan tetap, ia tidak pernah membayangkan hidupnya akan diwarnai kecemasan, rasa malu, hingga tekanan mental akibat utang pinjaman online (pinjol).

Hari ini, N bisa bercerita dengan lebih tenang. Namun, beberapa tahun lalu, hidupnya terasa seperti lingkaran tanpa ujung. Setiap bulan gaji datang, tetapi hampir seluruhnya habis untuk membayar tagihan. Setiap kali satu utang lunas, utang lain sudah menunggu untuk dibayar.

Semua berawal dari satu keputusan yang kemudian mengubah arah hidupnya.

"Saat itu, saya terjerumus pada judi online lalu kenal pinjaman online. Awalnya hanya mencobanya, tapi malah jadi keterusan," ujarnya.

Awalnya, pinjol tampak seperti jalan keluar yang mudah. Proses pengajuan cepat, persyaratan minim, dan dana bisa cair dalam waktu singkat. Saat mengajukan pinjaman pertama, N mengaku tidak benar-benar memahami risiko yang akan dihadapinya.

"Pada saat itu saya hanya paham pinjam berapa dan balikinnya berapa," katanya dalam perbincangan dengan Merahputih.com.

Baca juga:

Pinjaman Online Makin Meningkat, Naik 89 Persen Secara Tahunan

Ia tidak menghitung secara rinci bunga, biaya tambahan, maupun kemungkinan terburuk jika suatu saat mengalami kesulitan membayar. Seperti banyak pengguna lainnya, ia hanya melihat pinjol sebagai solusi sementara. Namun, solusi itu perlahan berubah menjadi masalah.

Pinjaman demi pinjaman mulai digunakan hingga seluruh limit yang tersedia habis. Pada titik tertentu, pemasukannya tidak lagi mampu mengejar tagihan yang terus bertambah.

"Pada saat limitnya sudah terpakai semua, keuangan saya tidak cukup untuk membayar," ujarnya.

Situasi tersebut memaksanya mengambil keputusan yang kemudian menjadi awal dari lingkaran utang. "Jadinya mengambil pinjaman baru untuk menutupi pinjaman berikutnya," kisahnya.

Satu pinjaman digunakan untuk melunasi pinjaman lain. Setelah itu, muncul tagihan baru yang harus dibayar kembali. Siklus tersebut terus berulang tanpa henti.

Sebagai sales marketing, N masih menerima gaji setiap bulan. Namun, jumlahnya tidak lagi cukup untuk menutup seluruh kewajiban yang menumpuk."Kondisi finansial cukup berantakan karena gaji yang saya punya sudah tidak cukup untuk membayar tagihan," katanya.

Di atas kertas, ia masih bekerja dan memiliki penghasilan. Namun, dalam praktiknya, hampir tidak ada ruang untuk menikmati hasil kerja kerasnya. Sebagian besar uang yang diterima langsung habis untuk membayar utang. Tekanan finansial yang terus-menerus akhirnya merembet ke kesehatan mental.

Setiap hari pikirannya dipenuhi pertanyaan yang sama: bagaimana cara membayar tagihan berikutnya?

Baca juga:

Mengenal TKB90 pada Pinjaman Online yang Kian Menyusut



"Pada momen tersebut saya sampai ke psikolog untuk menemukan solusi. Semua berubah, semua pikiran hanya fokus untuk bayar dan cari solusi."

Kecemasan itu perlahan menggerogoti berbagai aspek kehidupan. Hubungan dengan pasangan menjadi renggang. Pertemanan mulai menjauh. Bahkan kepada keluarga sendiri, ia merasa malu untuk bercerita.

"Saya rasa cukup sangat berpengaruh, karena saya menjadi emosional. Ke pasangan sering bertengkar, ke teman jadi agak jauh, dan ke keluarga malu."

Bagi N, beban terberat bukan hanya nominal utang yang harus dibayar. Rasa gagal dan malu yang terus menghantui justru terasa lebih menyiksa.

Pinjol Terlihat Mudah, tapi Menjebak

Pengalaman N bukanlah kasus yang berdiri sendiri.

Di saat ia berjuang keluar dari jeratan pinjol, penggunaan layanan pinjaman online justru terus meningkat di Indonesia. Dalam rilis terbaru, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat total outstanding pembiayaan pinjaman online mencapai Rp 101,03 triliun pada Maret 2026. Angka tersebut menjadi yang pertama menembus Rp 100 triliun dan tumbuh 26,25 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Data tersebut menunjukkan semakin banyak masyarakat yang memanfaatkan pinjaman digital untuk memenuhi kebutuhan finansial. Namun, di balik pertumbuhan tersebut, terdapat risiko yang sama seperti yang pernah dialami N: kemudahan akses yang tidak selalu diimbangi dengan pemahaman risiko dan kemampuan mengelola keuangan.

Menurut N, kemudahan itulah yang membuat banyak pekerja muda rentan terjebak.

"Pinjol itu sangat mudah untuk pengajuannya, ditambah dengan pergaulan saat ini kebutuhan dan gaya hidup jadi cukup tinggi dengan kondisi gaji yang tidak seimbang."

Ia juga mengakui bahwa tekanan lingkungan dan gaya hidup memiliki pengaruh terhadap keputusan finansial yang diambilnya. "Saya rasa, itu cukup berpengaruh."

Titik balik dalam hidupnya datang ketika ia benar-benar berada di titik terendah. Saat itu, ia sudah tidak mampu lagi membayar tagihan yang terus berdatangan. "Momen pertamanya yakni ketika saya sudah di titik enggak bisa bayar. Setelah itu, banyak masukan dari teman serta pasangan," ujarnya.

Alih-alih terus memendam masalah, N mulai membuka diri kepada orang-orang terdekat. Ia bercerita kepada teman, pasangan, dan mencari bantuan profesional untuk mengatasi tekanan psikologis yang selama ini dipendam sendirian.

"Saya selalu berusaha cerita kepada teman dekat, sampai di fase akhirnya saya ke psikolog untuk bisa menghadapi rasa malu," jelasnya.

Mencari Jalan Keluar



Dari situlah jalan keluar mulai terlihat.

N akhirnya mengambil langkah yang menurutnya paling masuk akal: meminta bantuan keluarga untuk melunasi seluruh utang pinjol yang dimiliki. Nominal yang dipinjam disesuaikan dengan total tagihan yang harus diselesaikan.

"Saya keluar dari jeratan itu dengan meminjam pada keluarga nominal sesuai dengan tagihan pinjol saya, lalu saya cicil setiap bulannya yang make sense dengan penghasilan saya," ujarnya.

Keputusan tersebut memberinya kesempatan untuk mengatur ulang keuangan tanpa dibebani bunga yang terus bertambah. Secara perlahan, kondisi finansialnya mulai pulih.

"Sekarang semua tagihan sudah tertata rapi, uang gaji juga masih sisa jadi bisa buat tabungan," katanya.

Pengalaman pahit tersebut mengubah cara pandangnya terhadap uang, utang, dan gaya hidup. Jika dulu keputusan finansial sering diambil secara spontan, kini ia lebih berhati-hati dan menghitung segala risiko sebelum mengambil cicilan. "Dari pengalaman kemarin saya cukup banyak belajar untuk lebih mengatur keuangan lebih detail dan rapi. Jika mau ambil cicilan, akan saya hitung rapi beserta bunga dan berapa persen dari pendapatan saya per bulan," jelasnya.

Bagi N, pelajaran paling berharga bukan sekadar berhasil melunasi utang. "Lebih menghargai uang dan waktu, serta lebih detail dalam pengaturan keuangan," kata N.

Kini, ketika melihat semakin banyak anak muda menganggap pinjol sebagai solusi cepat untuk masalah keuangan, ia merasa perlu berbagi pengalaman agar orang lain tidak mengalami hal serupa.

Pinjol bukan solusi, pinjol hanya menambah masalah kalian semakin dalam. Sesuaikan gaya hidup dengan kemampuan, bukan memaksakan.



Kisah N menunjukkan jeratan pinjol tidak selalu bermula dari kebutuhan mendesak. Kadang hal itu berawal dari keputusan yang dianggap sepele, kemudahan akses yang terlalu menggoda, atau gaya hidup yang tidak sejalan dengan kemampuan finansial.

Namun, kisah ini juga menunjukkan hal lain yang tak kalah penting: selalu ada kesempatan untuk bangkit. Dengan keberanian mengakui masalah, dukungan orang-orang terdekat, serta kemauan untuk memperbaiki kebiasaan finansial, seseorang dapat keluar dari titik terendahnya.

Bagi N, kemenangan terbesar bukanlah ketika seluruh utangnya lunas. Kemenangan terbesar ialah ketika ia berhasil mengambil kembali kendali atas hidupnya.(Far)



Baca juga:

Fakta Baru Ex Marinir Satria Kumbara Jadi Tentara Bayaran di Rusia Karena Telilit Utang Pinjol dan Judol

#Pinjaman Online #Judi Online #OJK
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Febrian Adi

part-time music enthusiast. full-time human.
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Indonesia
KPK Buka Peluang Periksa Perry Warjiyo terkait Kasus Dugaan Korupsi Dana CSR BI dan OJK
KPK membuka peluang untuk memeriksa eks Gubernur BI, Perry Warjiyo. Hal itu terkait kasus dugaan korupsi CSR BSI dan OJK.
Soffi Amira - Selasa, 28 Juli 2026
KPK Buka Peluang Periksa Perry Warjiyo terkait Kasus Dugaan Korupsi Dana CSR BI dan OJK
Indonesia
Terbukti Dipakai Judi Online, 880 Penerima Bansos Sukoharjo Dicoret
Dinsos Sukoharjo mencoret 880 penerima bansos Desil 1–2 karena terdeteksi judi online. Kebijakan DTSEN menonaktifkan penerima KIS Desil 6–10 mulai 2026.
Wisnu Cipto - Senin, 27 Juli 2026
Terbukti Dipakai Judi Online, 880 Penerima Bansos Sukoharjo Dicoret
Indonesia
Terungkap, Tersangka Teror Bom SDN 15 Pagi Jagakarsa Sebelumnya Sering Didatangi Penagih Pinjol
MY (34), tersangka teror bom SDN Srengseng Sawah 15 Pagi, diketahui terlilit utang pinjol, koperasi, hingga rentenir.
Wisnu Cipto - Rabu, 15 Juli 2026
 Terungkap, Tersangka Teror Bom SDN 15 Pagi Jagakarsa Sebelumnya Sering Didatangi Penagih Pinjol
Indonesia
OJK Pangkas Pemutihan SLIK Jadi 3 Hari dari Sebulan Setelah Lunas, Biar Gampang Ajukan Utang Baru
OJK memangkas waktu pemutihan data SLIK menjadi maksimal 3 hari kerja setelah pelunasan kredit dari sebelumnya sebulan.
Wisnu Cipto - Selasa, 07 Juli 2026
OJK Pangkas Pemutihan SLIK Jadi 3 Hari dari Sebulan Setelah Lunas, Biar Gampang Ajukan Utang Baru
Indonesia
Hindari Gambir dan Kantor OJK Siang Ini, Ada Demo Dikawal 400 Polisi
Sebanyak 413 personel gabungan disiagakan untuk mengawal dua aksi unjuk rasa di Gambir dan Sawah Besar, Jakarta Pusat, Selasa (7/7). Polisi imbau masyarakat hindari lokasi untuk cegah kemacetan.
Wisnu Cipto - Selasa, 07 Juli 2026
Hindari Gambir dan Kantor OJK Siang Ini, Ada Demo Dikawal 400 Polisi
Indonesia
OJK Apresiasi Dukungan Bank Jakarta Perkuat Ekonomi Kreatif Lewat Program PED
OJK mengapresiasi dukungan Bank Jakarta dalam Program Pengembangan Ekonomi Daerah yang memperkuat ekosistem ekonomi kreatif dan inklusi keuangan di DKI Jakarta.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 06 Juli 2026
OJK Apresiasi Dukungan Bank Jakarta Perkuat Ekonomi Kreatif Lewat Program PED
Indonesia
Meta Setuju Bentuk Tim Berantas Spam Komen Judol di FB dan Instagram
Meta bersama Kemkomdigi bentuk tim khusus untuk memberantas spam komentar judi online di Facebook dan Instagram. Lonjakan spam naik 128 persen dalam dua pekan terakhir.
Wisnu Cipto - Selasa, 30 Juni 2026
Meta Setuju Bentuk Tim Berantas Spam Komen Judol di FB dan Instagram
Indonesia
Transaksi Judol Naik 128% Selama Piala Dunia, Komdigi Ungkap Dalangnya Bot Brasil-India
: Komdigi ungkap lonjakan 128% konten judi online selama Piala Dunia 2026. Bot berbasis Brasil dan India gunakan spam komentar di medsos. Publik diminta lapor ke aduankonten.id.
Wisnu Cipto - Senin, 29 Juni 2026
Transaksi Judol Naik 128% Selama Piala Dunia, Komdigi Ungkap Dalangnya Bot Brasil-India
Indonesia
Spam Komen Judol Banjiri FB dan Instagram 2 Pekan Terakhir, Komdigi Sinyalir Modus Baru
Temuan terbanyak terjadi di Facebook dan Instagram yang berada di bawah naungan Meta.
Wisnu Cipto - Senin, 29 Juni 2026
Spam Komen Judol Banjiri FB dan Instagram 2 Pekan Terakhir, Komdigi Sinyalir Modus Baru
Indonesia
287 WNA Jadi Tersangka Jaringan Judol Hayam Wuruk Plaza, WNI Hanya 4 Orang
Sebanyak 287 WNA dan 4 WNI menjadi tersangka jaringan judi online internasional di Hayam Wuruk Plaza Tower, Jakarta. Mayoritas tersangka berasal dari Vietnam.
Wisnu Cipto - Jumat, 26 Juni 2026
287 WNA Jadi Tersangka Jaringan Judol Hayam Wuruk Plaza, WNI Hanya 4 Orang
Bagikan