Kesehatan

Kisah Ryan White dan Hemofilia

Dwi AstariniDwi Astarini - Senin, 17 April 2023
Kisah Ryan White dan Hemofilia

Ryan White, pasien hemofilia remaja yang terkena AIDS akibat infusi faktor VII. (foto: Youtube_HRSAtube)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

GAMBAR seorang remaja di atas mobil ditampilkan di sebuah TV membuka videoklip Gone Too Soon dari Michael Jackson. "Like a sunset, Dying with the rising of the moon, gone too soon,” kata Jackson menyanyikan lagu yang ia dedikasikan untuk Ryan White, remaja dalam tayang TV tersebut.


Remaja asal Kokomo, Indiana, Amerika Serikat, tersebut awalnya terlihat sama seperti remaja pada umumnya. Namun, ia terlahir dengan hemofilia berat, sebuah kondisi cukup langka yang terjadi pada 1 dari 10.000 kelahiran anak laki-laki.



BACA JUGA:

Kelainan Genetika Sebabkan Hemofilia


Hemofilia adalah gangguan pembekuan darah akibat kekurangan faktor VII dan IX yang disebabkan mutasi genetik. Kondisi ini membuat pengidapnya mengalami pendarahan yang lebih parah daripada orang kebanyakan. Untuk beberapa kasus, hal itu bisa menjadi fatal.


Karena terlahir dengan kondisi hemofilia berat, White secara berkala harus menerima perawatan yang pada era 70-an menjadi metode penanganan hemofilia paling efektif, yakni infusi faktor VII. Infus itu terbuat dari bagian darah yang telah didonorkan dan berfungsi membantu pembekuan darah.


Metode tersebut juga rupanya ampuh untuk mengendalikan kondisi hemofilia yang dialami White. Setidaknya begitu sampai suatu masa di usianya yang ke-13. White merasa kondisi kesehatannya memburuk. Ia mengalami flu, kram perut, dan diare berkepanjangan.


Tak lama setelahnya, White mendapat kabar mengejutkan, ia didiagnosis terkena AIDS. Di masa itu, AIDS masih baru ditemukan dan lekat dengan stigma buruk.

“Aku berakhir di rumah sakit anak-anak di Indianapolis. Di sanalah aku mendapatkan kabar mengejutkan bahwa ternyata aku mengidap AIDS, sebuah penyakit yang baru ditemukan saat itu, penyakit yang penuh dengan stigma buruk. Kabar terburuknya ialah penyakit itu mematikan. Semua gejala yang aku rasakan beberapa bulan sebelumnya rupanya merupakan gejala AIDS. Kala itu, hidupku diprediksi hanya tiga sampai enam bulan lagi,” ujar White dalam buku biografinya yang berjudul Ryan White: My Own Story.

BACA JUGA:'

Pahami Hemofilia, Kondisi Pembekuan Darah Abnormal


“Kau tahu apa? Rupanya aku terpapar AIDS dari benda yang sama dengan yang membuat hidupku membaik, faktor VIII. Penyelamatku kini malah menjadi pembunuhku,” lanjutnya.


Hal itu rupanya tak hanya terjadi pada White. Ada pula beberapa kasus lain yang serupa ditemukan pada akhir 1970-an hingga 1985. Nama Ryan White mulai dikenal masyarkat luas setelah ia mulai berbicara di hadapan orang banyak tentang kisahnya terkena AIDS akibat perawatan hemofilia. Ia juga dikenal atas usahanya untuk menghentikan penyebaran stigma yang tidak benar terkait dengan hemofilia dan AIDS.


Pada masa itu, fenomena terkontaminasinya produk infusi darah memaksa banyak pasien hemofilia untuk menyembunyikan kondisi mereka karena takut akan stigma dan diskriminasi. Mereka yang terinfeksi HIV juga disarankan oleh konsultan mereka untuk tidak memberi tahu siapa pun tentang diagnosis mereka.


Berkat suara dan edukasi yang kerap disampaikan White pada 1984, produk darah yang dipanaskan, dengan virus telah dinonaktifkan, mulai tersedia. Hal itu dikombinasikan dengan perbaikan dalam pemeriksaan donor sehingga pada 1986 pasien hemofilia dapat menerima pengobatan yang lebih aman.


Di akhir 1990-an penggunaan faktor pembekuan sintetis (dikenal sebagai rekombinan) mulai tersebar luas di Inggris secara efektif menghilangkan risiko dari virus dan kontaminan lainnya. Sayangnya, White meninggal dunia pada 1990. Prosesi pemakamannya dihadiri oleh banyak orang ternama, musisi Elton John salah satunya.

Sejak kepergiannya, ada banyak hal yang ditinggalkan White, baik untuk AIDS maupun hemofilia. Di masa kini, kedua kondisi tersebut dapat dipahami secara lebih baik dan orang yang mengalaminya pun dapat hidup dengan lebih sejahtera.(dsh)

BACA JUGA:

Mengenal Lebih Dalam Penyakit Hemofilia

#Kesehatan
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Lifestyle
Dokter Citra Poerwa Ungkap Dampak Stres Finansial bagi Kesehatan hingga Sandwich Generation
Dokter Citra Poerwa menjelaskan kaitan stres finansial dengan kesehatan mental dan fisik serta pentingnya skala prioritas bagi sandwich generation.
Soffi Amira - Minggu, 25 Oktober 2026
Dokter Citra Poerwa Ungkap Dampak Stres Finansial bagi Kesehatan hingga Sandwich Generation
Indonesia
Rabu Pagi, Kualitas Udara Jakarta tidak Sehat
Kualitas udara Jakarta berada pada poin 162 dengan tingkat konsentrasi polutan PM 2,5 sebesar 71 mikrogram per meter kubik.
Dwi Astarini - Rabu, 21 Oktober 2026
Rabu Pagi, Kualitas Udara Jakarta tidak Sehat
Fun
We Pause We Rise Ajak Perempuan Kenali Perimenopause, Ahli Ingatkan Gejala Brain Fog
We Pause We Rise menggelar Rose & Bloom untuk mengedukasi perempuan tentang perimenopause dan menopause, termasuk brain fog, kesehatan tulang, dan hipertensi.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 19 Oktober 2026
We Pause We Rise Ajak Perempuan Kenali Perimenopause, Ahli Ingatkan Gejala Brain Fog
Indonesia
Jakarta Catat 58 Kasus DBD per Oktober 2026
Secara kumulatif, jumlah kasus selama Januari hingga Oktober 2026 juga lebih rendah jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Dwi Astarini - Sabtu, 17 Oktober 2026
Jakarta Catat 58 Kasus DBD per Oktober 2026
Lifestyle
Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit
Inovasi F1 telah memberikan dampak yang jauh melampaui lintasan balap.
Dwi Astarini - Kamis, 15 Oktober 2026
 Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit
Berita Foto
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
SPG menunjukkan tampilan antarmuka (user interface/UI) aplikasi U-Buddy saat peluncurannya di Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Didik Setiawan - Rabu, 07 Oktober 2026
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
Indonesia
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
bandara dan pelabuhan internasional di Bali menerapkan peningkatan pengawasan pelaku perjalanan melalui pengawasan deklarasi kesehatan (All Indonesia - SSHP).
Dwi Astarini - Selasa, 06 Oktober 2026
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
Lifestyle
Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Berapa kali celupan yang dibutuhkan untuk memindahkan jumlah bakteri yang kira-kira sama banyaknya dengan ciuman berdurasi 10 detik?
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
 Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Indonesia
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Anak demam tinggi dan sesak napas? Peringatkan bahaya virus influenza tipe A pada anak. Segera bawa ke faskes rujukan terdekat!
Wisnu Cipto - Jumat, 02 Oktober 2026
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Lifestyle
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Dokter Paskah ungkap tiga tantangan pengobatan gagal jantung lanjut di Indonesia, mulai dari literasi masyarakat, keterbatasan dokter hingga mahalnya teknologi.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 01 Oktober 2026
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Bagikan