Kisah Perantau Minang yang Selamat dari Kerusuhan Wamena dengan Pura-pura Mati

Zulfikar SyZulfikar Sy - Rabu, 02 Oktober 2019
Kisah Perantau Minang yang Selamat dari Kerusuhan Wamena dengan Pura-pura Mati

Erizal (42) merupakan salah seorang perantau Minang yang berhasil selamat dari kerusuhan di Wamena.(ANTARA/Laila S)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

SALAH seorang perantau Minang Erizal selamat saat kerusuhan di Wamena dengan berpura-pura mati. Pria berumur 42 tahun ini berasal dari Sungai Rampan, Koto Nan Tigo IV Koto Hilie, Batang Kapas, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat.

"Alhamdulillah saya berhasil selamat dari peristiwa waktu itu, namun sayang anak dan istri saya meninggal dunia karena terbakar," kata Erizal saat memulai menceritakan kisahnya di kantor ACT Sumbar di Ulak Karang, Padang, Selasa (2/10), dikutip Antara.

Baca Juga:

Jangan Larut dalam Ketakutan, Kapolda Papua Undang Warga Balik ke Wamena



Menurut keterangan dari Zal, ketika itu ia sedang berada di sebuah kios tempatnya bekerja dan melihat sejumlah orang berkerumun mendatangi beberapa kios, termasuk ke kios tempatnya bekerja.

"Jumlah mereka sekitar 30-an orang dan kami sama sekali tidak mengenal mereka," ujarnya.

IMG-20191001-WA0126
Suasana pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh tim gabungan kesehatan dari Dinas Kesehatan, dan TNI/Polri kepada pengungsi asal Wamena di Koramil Wamena, Kabupaten Jayawijaya. (ANTARA News Papua/HO/Paminto Widodo)



Ia beserta istri, anak, dan beberapa orang lainnya mencoba menyelamatkan diri, namun terkepung di dalam rumah yang ada di belakang kios tersebut.

Kerumunan tersebut mengetahui keberadaan mereka dan memaksa untuk membuka pintu.

"Salah seorang kemenakan saya yang bernama Yoga mencoba menahan pintu, namun mereka berhasil mendobraknya, sehingga kami dilempari, ditembaki dengan panah dan kami semua sudah pasrah mati," katanya.

Ia melanjutkan, kemenakannya yang bernama Yoga tersebut beserta anak dan istrinya meninggal dunia karena ditikam dengan parang oleh mereka.

Sedangkan ia berhasil menyelamatkan diri karena berpura-pura mati di dalam rumah tersebut, namun ia tetap terkena luka bakar.

Baca Juga:

PSI Minta Aparat Hentikan Kekerasan di Wamena Agar Konflik Tak Meluas


"Karena setelah kami ditikam, rumah itu dibakar namun saya cepat bangkit dan menyelamatkan diri tapi tetap saja kepala dan tangan saya terbakar," sambungnya.

Ia mencoba meminta bantuan kepada teman-teman yang ada di Kodim, namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa dikarenakan mobil tidak bisa masuk ke sana.

"Dua jam setelah itu barulah bantuan datang, saya langsung dibawa ke rumah sakit diobati pihak medis karena mengalami luka bakar di beberapa badan saya," ujarnya.

Arsip - Warga mengungsi di Markas Polres Jayawijaya saat terjadi demonstrasi yang berakhir rusuh di Wamena, Jayawijaya, Papua, Senin (23/9/2019). (ANTARA FOTO/Marius Wonyewun)
Warga mengungsi di Markas Polres Jayawijaya saat terjadi demonstrasi yang berakhir rusuh di Wamena, Jayawijaya, Papua, Senin (23/9). (ANTARA FOTO/Marius Wonyewun)



Erizal mempunyai dua orang anak, anak pertama bernama James Lugian Rizal (13) tengah sekolah di SMP Serambi Mekah, Padang Panjang dan anak keduanya telah meninggal dunia beserta istri tercinta.

Ia mengatakan merantau ke Wamena sudah sekitar enam tahun lebih pergi berdagang mencari hidup, menafkahi keluarga dan mencari biaya untuk menyekolahkan anaknya.

"Selama enam tahun lebih di sana, hubungan saya dengan penduduk asli Papua baik-baik saja, kami tidak pernah ada konflik apa pun," sambung dia.

Bahkan saat terjadi kericuhan pada 23 September 2019 penduduk di sana ikut membantu menyelamatkan mereka dari kericuhan.

Ia berharap konflik tersebut bisa segera terselesaikan, sehingga tidak banyak lagi korban jiwa yang berjatuhan dan para perantau Minang di sana bisa segera dipulangkan dari Wamena. (*)

Baca Juga:

Polisi Tuding KNPB Sebagai Dalang Kerusuhan di Wamena

#Papua #Kerusuhan Massa
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan
Follow Me

Berita Terkait

Indonesia
Bos OPM Komplain Serangan Udara, Panglima TNI: Separatis Harus Ditumpas
Bos OPM Egianus Kogoya komplain serangan pesawat Super Tucano di Nduga. Panglima TNI Agus Subiyanto tegaskan separatis wajib ditumpas habis!
Wisnu Cipto - Senin, 28 September 2026
Bos OPM Komplain Serangan Udara, Panglima TNI: Separatis Harus Ditumpas
Indonesia
Panglima TNI Senang 8 Senjata Disita Dari OPM, Termasuk SS1 V1
Delapan pucuk senjata yang disebut Agus termasuk jenis SS1 V1 yang sebelumnya direbut OPM dari satuan TNI.
Alwan Ridha Ramdani - Minggu, 27 September 2026
Panglima TNI  Senang 8 Senjata  Disita Dari OPM, Termasuk SS1 V1
Indonesia
4 Anggota OPM Tewas Dalam Kontak Senjata di Intan Jaya Papua Tengah
Personel TNI juga menyita sejumlah barang dari lokasi, antara lain satu pucuk SS2 V1, satu senjata api laras panjang dengan alat bidik Trijicon
Alwan Ridha Ramdani - Jumat, 25 September 2026
 4 Anggota OPM Tewas Dalam Kontak Senjata di Intan Jaya Papua Tengah
Indonesia
Kekerasan KKB Terus Berulang, DPR Desak Pemerintah Gerak Cepat
Pemerintah didesak untuk memperkuat perlindungan terhadap warga sipil di Papua.
Yusuf Abdillah - Minggu, 20 September 2026
Kekerasan KKB Terus Berulang, DPR Desak Pemerintah Gerak Cepat
Indonesia
Penculikan Warga Oleh KKB Papua, 7 Korban masih Dicari
Aparat bersama tokoh masyarakat terus melakukan upaya untuk menemukan dan mengevakuasi korban lainnya.
Dwi Astarini - Selasa, 15 September 2026
Penculikan Warga Oleh KKB Papua, 7 Korban masih Dicari
Indonesia
Penyanderaan KKB Papua, 1 Korban Ditemukan Meninggal dengan Tubuh Kurus
Yosina ditemukan bersama Demerina Uamang, 23, salah satu dari sembilan perempuan yang sebelumnya menjadi korban penculikan pada 17 Agustus 2026.
Dwi Astarini - Selasa, 15 September 2026
Penyanderaan KKB Papua, 1 Korban Ditemukan Meninggal dengan Tubuh Kurus
Indonesia
20 Hari Bertahan di Hutan, Korban Penculikan KKB Akhirnya Dievakuasi ke Timika
Korban ditemukan dalam kondisi lemah di Kampung Bela 1, Distrik Alama, Kabupaten Mimika.
Dwi Astarini - Selasa, 15 September 2026
20 Hari Bertahan di Hutan, Korban Penculikan KKB Akhirnya Dievakuasi ke Timika
Indonesia
Alasan Mendagri Tito Rumuskan Ulang Definisi Orang Asli Papua
Hingga saat ini masih terjadi perbedaan pandangan di tingkat daerah mengenai kriteria Orang Asli Papua dalam UU Otsus Papua.
Wisnu Cipto - Senin, 14 September 2026
Alasan Mendagri Tito Rumuskan Ulang Definisi Orang Asli Papua
Indonesia
3 Tersangka Pengeroyokan Pedagang Cermin Saat Kerusuhan Pejompongan Diancam 12 Tahun Penjara
Bambang Setiawan merupakan pedagang cermin yang menjadi korban dalam kerusuhan di kawasan Pejompongan setelah demonstrasi pada 27 Agustus 2026 dan akhirnya meninggal dunia.
Alwan Ridha Ramdani - Sabtu, 12 September 2026
3 Tersangka Pengeroyokan Pedagang Cermin Saat Kerusuhan Pejompongan Diancam 12 Tahun Penjara
Indonesia
Polisi Telusuri Badan Hukum Pemberi Dana Kerusuhaan di Pejompongan Tewaskan Pedagang Cermin
Polisi kini mendalami pihak yang berada di balik permintaan pengerahan massa sekaligus menyiapkan pendanaan.
Alwan Ridha Ramdani - Sabtu, 12 September 2026
Polisi Telusuri Badan Hukum Pemberi Dana Kerusuhaan di Pejompongan Tewaskan Pedagang Cermin
Bagikan