Kisah Masyarakat Adat Iban Sadap Merawat Alam dan Tradisi lewat Tenun

Dwi AstariniDwi Astarini - Jumat, 06 Februari 2026
Kisah Masyarakat Adat Iban Sadap Merawat Alam dan Tradisi lewat Tenun

Perempuan penenun di Rumah Panjang Sadap. (Foto: @fidel_manna)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MERAHPUTIH.COM — DI sebuah rumah panjang, di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, beberapa perempuan adat, dari usia muda hingga lansia, tekun menjalin helai-helai benang. Ruang besar serupa aula itu menjadi saksi cerita yang tidak ditulis dengan tinta, melainkan dirajut perlahan lewat benang-benang tenun.

Bagi masyarakat adat Dayak Iban, menenun merupakan jalan untuk menjaga identitas, mengingat leluhur, dan merawat hubungan dengan alam. Rumah panjang yang dipenuhi alat tenun dan benang bukanlah pemandangan langka di Desa Sadap. Kegiatan menenun sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian mereka.


?“Bagi kami, tenun bukan sekadar produk kerajinan tangan, melainkan simbol identitas dan ekspresi nilai-nilai kehidupan masyarakat adat Dayak Iban, yang memiliki makna spiritual, sosial, dan kearifan lokal,” ungkap Magareta Mala, salah seorang penggerak Festival Tenun Iban Sadap dalam keterangan resmi yang diterima Merahputih.com.

Motif tenun Iban Sadap menyimpan makna mendalam. Ada kisah tentang alam dan roh leluhur yang diwariskan dari generasi ke generasi. Mala menjelaskan ada empat jenis tenun Iban, yaitu kebat, sungkit, pileh, dan sidan. “Tenun kebat dengan motif sakral menjadi tenun yang wajib dimiliki. Setiap motif tenun kebat mempunyai nilai tertentu, yang digunakan untuk kelahiran, juga suasana sukacita dan dukacita. Motifnya mencakup manusia, hewan, dan benda simbolis,” jelasnya.

Baca juga:

Menjaga Tradisi dan Alam Kalimantan lewat Tenun


?Setiap helai tenun Iban Sadap yang diwarnai secara alami. Di dalamnya tersimpan cerita tentang hutan yang masih dijaga, sungai yang tetap mengalir, dan pengetahuan lokal yang terus hidup. Tenun menjadi pengingat bahwa melestarikan budaya tidak bisa dipisahkan dari melestarikan alam. ?“Ketika melakukan aktivitas menenun, artinya kami juga memelihara bumi. Kami tidak akan memusnahkan tanaman-tanaman yang terkait dengan tenun. Karena, banyak sekali tanaman pewarna yang diambil dari alam di wilayah adat. Seandainya masyarakat sampai kehilangan wilayah adat, itu berarti mereka juga kehilangan tradisi, salah satunya tradisi menenun,” kata Herkulanus Sutomo dari Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Kapuas Hulu.

Nilai pelestarian alam inilah yang ingin dibagikan kepada banyak orang dalam Festival Tenun Iban Sadap yang sukses digelar perdana pada pertengahan Desember lalu. “Kami ingin menyampaikan kepada publik, festival ini merupakan tonggak penting dalam memastikan bahwa tradisi menenun itu masih ada, beserta nilai dan pengetahuannya,” imbuh Tomo, sapaan Herkulanus Sutomo.

“Semua bahan baku untuk menenun disediakan oleh alam. Festival kemarin menunjukkan bahwa untuk membuat tenun, kami tidak bergantung pada siapa pun, kecuali diri sendiri dan alam. Peralatan tenun dibuat dari bambu, pewarna dari berbagai jenis daun, akar, dan kulit kayu,” kata Mala.
?Itulah kenapa masyarakat adat Iban Sadap berkomitmen untuk tetap menjaga wilayah adat, agar tradisi menenun tetap terjaga. Mereka memahami, jika wilayah adat terjaga dengan baik, pengetahuan leluhur akan terus hidup. Karena itu, pengakuan dan perlindungan negara terhadap masyarakat adat, termasuk melalui pengesahan RUU Masyarakat Adat, menjadi penting.


?Penenun Muda Meneruskan Cerita



?Regenerasi dalam melestarikan warisan budaya merupakan tantangan di banyak komunitas adat, termasuk melestarikan tenun Iban. Beruntung, masih ada sejumlah orang muda yang tergerak untuk belajar menenun. Salah satunya Yosefa Kiki Nayah Sari, perempuan muda yang tekun menenun benang demi benang, di sela-sela kesibukannya bekerja.
?

Bagi Yosefa, menenun bukan sekadar keterampilan yang diwariskan, melainkan bagian dari hidup yang ia jalani setiap hari. Dalam satu hari, ia bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk menenun. Kapan pun ketika tak ada kegiatan, ia akan duduk tenang di balik alat tenunnya.


?“Seru kalau menenun ramai-ramai di ruai. Ketika ada teman menenun, saya jadi semangat untuk menenun juga. Seperti berlomba,” kata Yosefa, yang tergerak untuk belajar menenun karena sering melihat ibu dan neneknya menenun.


?“Yosefa diharapkan bisa menjadi contoh bagi rumah panjang lain. Jika makin banyak orang muda yang bergerak, tenun Iban akan semakin terangkat, nilai wastra warisan leluhur juga kian terjaga,” kata Mala, menegaskan.


?Perempuan yang menenun sejak muda ini bersyukur perhatian terhadap pelestarian tenun terus meningkat. Itulah kenapa Mala dan komunitas penenun merancang paket tur tenun yang durasi dan programnya dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Ada paket beberapa hari saja untuk keperluan dokumentasi, ada pula paket bagi mereka yang ingin benar-benar belajar soal tenun Iban Sadap.


?“Beberapa waktu lalu, mahasiswa dari Kuala Lumpur datang karena ingin memahami tenun secara utuh. Ia tinggal cukup lama, menyelami sejarah, proses, dan pulang dengan pengalaman dan hasil tenun buatan sendiri,” kata Mala, yang kerap menerima kunjungan dari pencinta wastra dari luar pulau. ?Namun, sebenarnya yang paling diharapkan bukanlah banyaknya pengunjung, melainkan kesediaan untuk belajar dan menghargai proses.

“Memperkenalkan tenun memerlukan waktu panjang sebelum sampai pada titik ketika orang datang bukan hanya untuk melihat, melainkan untuk memahami,” tutupnya.(*)?

Baca juga:

Kisah di Balik Keindahan Tenun Garut

#Fashion #Kain Tenun #Kalimantan
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Olahraga
Jersey Tim Indonesia di Asian Games 2026 Bawa Dua Warisan Budaya Nusantara
Jersey Tim Indonesia untuk Asian Games Aichi-Nagoya 2026 mengangkat motif Gorga khas Toba dan Limar dari Sumatera Selatan.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 03 September 2026
Jersey Tim Indonesia di Asian Games 2026 Bawa Dua Warisan Budaya Nusantara
Indonesia
TNI Terjunkan 442 Pasukan Tim Afla ke Titik Karhutla, Saat Ini Latihan Turun Tali dari Heli
Tim Alfa merupakan pasukan khusus bentukan TNI yang terdiri dari gabungan tiga matra Kopassus TNI AD, Korpasgat TNI AU, Korps Marinir TNI AL, serta Kostrad TNI AD.
Wisnu Cipto - Rabu, 02 September 2026
TNI Terjunkan 442 Pasukan Tim Afla ke Titik Karhutla, Saat Ini Latihan Turun Tali dari Heli
Indonesia
Cegah Titik Baru Api, BNPB Jaga Ketat Wilayah Terdampak Karhutla
Satuan tugas pemerintah telah memulai operasi penjagaan melalui jalur darat maupun udara.
Dwi Astarini - Selasa, 01 September 2026
Cegah Titik Baru Api, BNPB Jaga Ketat Wilayah Terdampak Karhutla
Berita Foto
Menhut Raja Antoni Tegaskan Penegakan Hukum Karhutla, 6 Perusahaan Kalimantan Kena Sanksi
Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Antoni menghadiri Rakor Penanganan Karhutla di Palembang, Sumatera Selatan, Senin (31/8/2026).
Didik Setiawan - Senin, 31 Agustus 2026
Menhut Raja Antoni Tegaskan Penegakan Hukum Karhutla, 6 Perusahaan Kalimantan Kena Sanksi
Indonesia
Brunei Mulai Terserang Kabut Asap, Ribuan Titik Panas Kalimantan Muncul dalam 3 Hari
Angin barat daya membawa asap pekat dari Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat hingga menutup langit Brunei.
Wisnu Cipto - Senin, 31 Agustus 2026
Brunei Mulai Terserang Kabut Asap, Ribuan Titik Panas Kalimantan Muncul dalam 3 Hari
Indonesia
Karhutla Makin Jadi Perhatian, Pemerintah Pantau Pergerakan Asap hingga Lintas Negara
KLH/BPLH mengerahkan puluhan helikopter, pesawat, dan ribuan personel untuk menangani karhutla di Kalimantan dan Sumatera serta memantau asap lintas batas.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 31 Agustus 2026
Karhutla Makin Jadi Perhatian, Pemerintah Pantau Pergerakan Asap hingga Lintas Negara
Indonesia
Orang Utan Ditemukan Pingsan di Ladang Sawit Ketapang, Diduga Terpapar Asap Kebakaran
Orang utan bernama Sempurna ditemukan pingsan di ladang sawit Ketapang, Kalimantan Barat. Ia mendapat oksigen dan infus setelah diduga terkena ISPA.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 31 Agustus 2026
Orang Utan Ditemukan Pingsan di Ladang Sawit Ketapang, Diduga Terpapar Asap Kebakaran
Indonesia
4,2 Juta Jiwa Terdampak Karhutla, DPR Desak Penguatan Pencegahan
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, kabut asap akibat karhutla telah berdampak terhadap lebih dari 4,2 juta jiwa di tujuh provinsi.
Dwi Astarini - Senin, 31 Agustus 2026
4,2 Juta Jiwa Terdampak Karhutla, DPR Desak Penguatan Pencegahan
Indonesia
BNPB Pastikan Penanganan Karhutla Dilakukan Terpadu, Masyarakat Diminta Waspada
BNPB memastikan pemerintah terus menangani karhutla secara terpadu. Masyarakat diminta tidak membakar lahan, waspada titik api, dan menggunakan masker.
Ananda Dimas Prasetya - Jumat, 28 Agustus 2026
BNPB Pastikan Penanganan Karhutla Dilakukan Terpadu, Masyarakat Diminta Waspada
Indonesia
Kemenhut Sanksi 6 PT Kebakaran 1.511 Hektar di Kalimantan, Cuma 1 Korporasi Izinnya Dibekukan
Kemenhut jatuhkan sanksi kepada enam perusahaan akibat kebakaran 1.511 hektare di Kalimantan. Hanya PT MPK yang izinnya dibekukan, sementara lainnya wajib lakukan pemulihan.
Wisnu Cipto - Selasa, 25 Agustus 2026
Kemenhut Sanksi 6 PT Kebakaran 1.511 Hektar di Kalimantan, Cuma 1 Korporasi Izinnya Dibekukan
Bagikan