MERAHPUTIH.COM - BADAN Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengatakan tengah memperketat penjagaan di wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Langkah tersebut dilakukan untuk mencegah perluasan area kebakaran serta kemunculan titik api baru.
"Kami mulai melakukan penjagaan di daerah-daerah yang terdampak sehingga tidak ada lagi penambahan titik-titik api akibat dilakukan oknum yang tidak bertanggung jawab," kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan, dikutip Selasa (1/9).
Ia mengatakan satuan tugas pemerintah telah memulai operasi penjagaan melalui jalur darat maupun udara. Dalam upaya tersebut, BNPB melakukan penyekatan di area terdampak karhutla yang telah dikendalikan untuk mencegah api meluas ke kawasan yang belum terbakar. Selain itu, BNPB juga menyiagakan personel di titik-titik yang telah berhasil dipadamkan untuk mengantisipasi kemunculan kembali api pada malam hari.
Hal itu, lanjut Berton, dilakukan beriringan dengan upaya pemadaman karhutla yang terus dijalankan BNPB bersama berbagai unsur lainnya yang dilakukan melalui dua strategi, yakni operasi darat dan udara.
Baca juga:
BNPB Ungkap 7.377 Titik Panas di Kalimantan Barat, Karhutla Makin Mengkhawatirkan
Operasi darat meliputi patroli, pemetaan titik panas dan titik api di lapangan (ground checking), pemadaman api secara langsung, pembasahan lahan gambut, serta pendinginan. Satuan Tugas (Satgas) Darat juga membangun sumur dan kanal baru untuk menyediakan sumber air yang lebih dekat dengan titik api maupun titik panas.
Sementara itu, operasi udara melibatkan armada untuk melakukan water bombing dan operasi modifikasi cuaca (OMC). Data per 30 Agustus 2026 menunjukkan sebanyak 53 armada udara telah dikerahkan untuk menangani karhutla, yang terdiri atas 19 armada untuk patroli dan OMC, serta 34 armada untuk water bombing.
Pada periode yang sama, sebanyak 2,3 juta liter air telah digunakan untuk operasi water bombing di wilayah terdampak. Sementara itu, dalam operasi modifikasi cuaca, Satgas Udara telah menyemaikan 5.600 kilogram natrium klorida (NaCl) ke titik-titik awan untuk memicu hujan. "Tentu kami akan melakukan berbagai upaya, termasuk pemadaman maupun tentunya pendinginan ketika nantinya sudah selesai dilakukan pemadaman," ujarnya.
Pemerintah berkomitmen untuk terus memperkuat sinergi operasi darat dan udara, termasuk melalui penambahan personel serta dukungan peralatan. “BNPB dan pemerintah daerah akan memperkuat satuan tugas darat dengan penambahan personel dan dukungan peralatan,” kata Berton.
Berdasarkan data pemantauan BNPB per 30 Agustus 2026, jumlah titik panas di sejumlah wilayah Kalimantan menunjukkan perkembangan yang beragam. Di Kalimantan Barat, jumlah titik panas meningkat menjadi 7.377 titik atau bertambah 3.553 titik. Sementara itu, jumlah titik panas di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah relatif menurun.
Adapun jumlah titik api di tiga provinsi di Kalimantan tersebut masih mengalami kenaikan, dengan Kalimantan Barat mencatat penambahan terbanyak, yakni 88 titik api.
Sementara itu, di tiga provinsi terdampak karhutla di Sumatra, yakni Riau, Jambi, dan Sumatra Selatan, terpantau terjadi penurunan jumlah titik panas dan titik api. Meski demikian, Sumatra Selatan masih mencatat penambahan 209 titik panas sehingga totalnya mencapai 1.013 titik.(Asp)
Baca juga:
IGD di Pontinak Dipadati Warga Terkena Pneumonia Akibat Terpapar Asap Karhutla