MERAHPUTIH.COM - RENCANA pembangunan transportasi berbasis rel di Bali mulai memasuki tahap persiapan yang lebih serius. PT Kereta Api Indonesia (Persero) bersama Pemerintah Provinsi Bali dan Pemerintah Kabupaten Badung telah menyepakati pengembangan perkeretaapian di Pulau Dewata. Kesepakatan tersebut ditandatangani pada Selasa (1/9).
Rencana yang disiapkan akan menghubungkan kawasan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Badung dengan sejumlah kawasan pariwisata di Bali Selatan hingga Canggu. Koridor yang dikaji memiliki panjang sekitar 13,1 kilometer. Jalurnya mencakup Bandara Ngurah Rai, Kuta, Legian, Seminyak hingga Canggu. Pengembangan direncanakan dilakukan dalam dua fase.
Fase pertama mencakup rute Bandara Ngurah Rai–Legian dengan panjang sekitar 6,6 kilometer. Selanjutnya, fase kedua melanjutkan jalur dari Legian menuju Seminyak hingga Canggu sepanjang sekitar 6,5 kilometer.
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin mengatakan kerja sama dengan pemerintah daerah menjadi langkah awal untuk mempelajari secara menyeluruh kebutuhan dan kelayakan perkeretaapian di Bali. Menurutnya, pengembangan transportasi berbasis rel harus mempertimbangkan karakter wilayah Bali, kebutuhan masyarakat, aktivitas pariwisata, serta keterhubungan dengan moda transportasi lainnya.
Baca juga:
“Bali memiliki karakter mobilitas dan pengembangan wilayah yang khas. Karena itu, kebutuhan, potensi, integrasi antarmoda, hingga kelayakan pengembangan perkeretaapian perlu dipelajari secara menyeluruh,” ujar Bobby, dikutip Rabu (2/8).
Dalam kesepakatan tersebut, KAI dan pemerintah daerah akan melakukan inventarisasi data, menyusun kajian kelayakan dan/atau detail engineering design (DED), menyiapkan integrasi antarmoda, serta melakukan koordinasi dengan kementerian, lembaga dan pemangku kepentingan terkait. Artinya, posisi proyek saat ini masih berada pada tahap persiapan dan kajian, belum masuk konstruksi.
Meski pembangunan fisik belum dimulai, pemerintah daerah telah menyiapkan tahapan berikutnya. Studi kelayakan ditargetkan dapat diselesaikan pada Maret 2027. Setelah itu, proyek diharapkan dapat bergerak menuju tahapan pembangunan. Groundbreaking direncanakan berlangsung pada 2027. Sementara itu, pengoperasian fase pertama rute Bandara Ngurah Rai–Legian ditargetkan mulai 2028. Adapun keseluruhan koridor hingga Canggu ditargetkan dapat beroperasi pada 2029.
Jika target tersebut terealisasi, masyarakat dan wisatawan akan memiliki alternatif transportasi baru untuk bergerak di kawasan Bali Selatan yang selama ini menjadi salah satu pusat aktivitas pariwisata. Pengembangan moda berbasis rel tersebut juga diarahkan untuk menjawab persoalan mobilitas Bali yang semakin padat.
Moda yang direncanakan dikembangkan di koridor tersebut merupakan trem listrik berbasis baterai. Konsep tersebut dirancang agar transportasi berbasis rel dapat berintegrasi dengan kawasan perkotaan dan pariwisata yang dilaluinya. Layanan trem diproyeksikan mampu mengangkut hingga sekitar 60 ribu penumpang per hari. Waktu tunggu antarperjalanan juga dirancang sekitar 10 menit.
Dengan kehadiran moda tersebut, pemerintah berharap ketergantungan terhadap kendaraan pribadi dapat ditekan sekaligus membantu mengurangi kepadatan lalu lintas di kawasan wisata Bali Selatan.
Meski demikian, sejumlah pekerjaan masih harus diselesaikan sebelum proyek benar-benar masuk tahap konstruksi, mulai dari pematangan trase, kajian kelayakan, desain teknis, kebutuhan lahan, hingga integrasi dengan moda transportasi yang sudah tersedia. Kesepakatan KAI, Pemprov Bali, dan Pemkab Badung sendiri berlaku selama lima tahun sejak ditandatangani.
Dengan demikian, progres proyek kereta Bali saat ini sudah memasuki tahap persiapan kajian, sedangkan pembangunan fisik masih menunggu hasil studi kelayakan dan tahapan perizinan lainnya. Jika seluruh proses berjalan sesuai target, pembangunan diharapkan mulai terlihat pada 2027, dengan layanan perdana ditargetkan beroperasi pada 2028.(knu)
Baca juga: