Kenalkan Pola Makan Berbeda pada Anak sejak Dini
Otak anak cenderung memaknai satu hal untuk segala kondisi, termasuk makanan. (Pixabay/suju-foto)
MENAJAGA pola makan adalah salah satu bentuk kesadaran tiap orang supaya mengonsumsi makanan sesuai dengan yang diperlukan oleh tubuhnya. Ada pula yang mengenalnya dengan istilah diet. Meski lebih sering dilakukan oleh orang dewasa, nyatanya diet juga bisa mulai dilakukan dan diperkenalkan pada anak sejak dini.
Mengacu dari laman Scary Mommy, diet pada anak bisa jadi hal yang susah-susah gampang. Sebab, tak semua anak memahami tentang diet. Bagaimana bisa membedakan makanan yang baik dan buruk, dan kapan harus memakannya. Otak anak cenderung memaknai satu hal untuk segala kondisi.
Baca Juga:
Spesialis Gizi dan Nutrisi pada Anak dan founder Kids Eat in Color, Jennifer Anderson, menjelaskan bahwa anak secara perlahan-lahan perlu diperkenalkan tentang nutrisi makanan bagi tiap orang. Konsumsi tak selalu hanya baik dan buruk.
"Sebenarnya kata sehat dan baik pada makanan itu tidak terlalu signifikan. Misalnya bisa jadi telur baik bagiku, tapi berbahaya bagi orang yang alergi. Makanan sehat itu sulit dipahami sebenarnya," jelas Anderson, seperti yang diterjemahkan dari Scary Mommy, Jumat (18/11).
Anderson menyampaikan bahwa salah satu cara termudah dalam menyampaikan soal diet pada anak adalah dengan menyisipkan sisi emosional di dalamnya. Misalnya tentang permen manis. Pada anak yang punya keturunan diabetes, tentu hal ini makanan yang buruk. Namun, jangan sampaikan hal itu dengan sudut pandang atau bahasa yang buruk pada anak.
"Kita ingin anak kita punya cara berpikir yang positif dan tidak menghakimi orang lain atau makanan. Tetapi tetap punya pemahaman yang benar atas dirinya sendiri," lanjut Anderson.
Baca Juga:
Reaksi Tak Sesuai Harapan, Mengapa Anak Lebih Percaya Temannya
Tiap anak juga perlu diajarkan tentang gizi makanan untuk setiap orang. Caranya cukup jelaskan dengan mudah bahwa suatu makanan bisa jadi baik untuk kita, tetapi berbahaya pada orang lain. Dengan begitu, anak tidak akan mudah mencap buruk teman atau orang lain ketika memakan sesuatu yang berbeda dengan dirinya.
Konsistensi dalam mengonsumsi makanan juga penting agar anak tidak bingung. Misalnya mereka setiap hari diberikan pemahaman soal makanan sehat dan sayur-sayuran. Lalu, pada saat tertentu, mereka diizinkan makan daging sepuasnya. Hal ini bertolak belakang dan membuat pemahaman seorang anak tentang makanan sehat jadi kabur.
Untuk itu, anak perlu diajari perlahan-lahan dengan bahasa yang mudah. Sebab, seiring bertambahnya usia, mereka akan mengeksplorasi sendiri tentang hal-hal ini dari lingkungannya. (mcl)
Baca Juga:
Alodokter Berbagi Cara Hadapi Kasus Gagal Ginjal Akut pada Anak
Bagikan
Berita Terkait
Sambut Tahun Baru Imlek 2026, Hennessy Hadirkan Koleksi Tahun Kuda nan Berani
Program Keluarga SIGAP Dorong Perubahan Perilaku Lewat Layanan Kesehatan Primer
Usai Banjir Bandang, Warga Aceh Tamiang Banyak Alami Gangguan Kesehatan
AS Kurangi Jumlah Vaksin Wajib untuk Anak-Anak, Timbulkan Kekhawatiran Peningkatan Risiko Penyakit
Gubernur Pramono Tegaskan belum Ditemukan Super Flu di Jakarta
DPR Minta Pemerintah Gerak Cepat Antisipasi Ancaman Super Flu, Dorong Kemenkes Terbitkan Vaksin Pencegah
Waspada Super Flu, 62 Kasus Terkonfirmasi di Indonesia Terbanyak di Jawa Timur
Super Flu Masuk ke Indonesia, Kemenkes Imbau Kenali Gejala dan Terapkan Protokol Kesehatan
Teknologi Bedah Robotik Memungkinkan Tindakan Presisi untuk Kenyamanan Pasien, kini Hadir di Siloam Hospitals Kebon Jeruk
30 Kuliner Khas Riau yang Wajib Dicoba: Cita Rasa Melayu yang Kaya Rempah dan Sulit Dilupakan