MerahPutih.com - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) belum berani membuka kembali operasional sejumlah bandara yang terdampak sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Pemerintah memilih menahan penerbangan sampai kondisi udara benar-benar dinyatakan aman bagi operasional pesawat.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengatakan keputusan untuk membuka kembali bandara tidak akan dilakukan hanya demi mengejar normalisasi penerbangan.
Menurutnya, Minggu (6/9), selama sebaran abu vulkanik masih tinggi dan hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi belum aman, operasional pesawat tidak akan dipaksakan.
Apabila memang sebaran masih banyak, kemudian paper test-nya masih positif, maka kami tidak akan memaksakan bandara tersebut dibuka atau pengoperasian pesawat dilakukan,
Menteri Perhubungan RI, Dudy Purwagandhi.
Kemenhub terus memantau aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau, termasuk pergerakan abu vulkanik yang dapat berdampak terhadap ruang udara dan keselamatan penerbangan.
Baca juga:
467 Penerbangan Terdampak
Gangguan akibat sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau sebelumnya berdampak pada ratusan penerbangan.
Data Direktorat Jenderal Perhubungan Udara mencatat sebanyak 467 penerbangan terdampak, yang terdiri dari 409 penerbangan domestik dan 58 penerbangan internasional.
Untuk mengurangi dampak gangguan penerbangan, pemerintah membuka opsi pengalihan penerbangan melalui sejumlah bandara alternatif.
Beberapa bandara yang disiapkan sebagai alternatif antara lain Kertajati, Semarang, Surabaya, dan Yogyakarta.
Baca juga:
Keselamatan Jadi Syarat Utama
Meski pemerintah menyiapkan sejumlah opsi untuk mengurangi dampak terhadap penerbangan, Dudy menegaskan keputusan akhir tetap bergantung pada kepastian aspek keselamatan.
Menurutnya, bandara baru akan dibuka kembali apabila kondisi keselamatan penerbangan telah dapat dipastikan.
Kita akan membuka kalau memang kita jamin bahwa kondisi keselamatan itu sudah bisa kita ketahui dengan pasti,
Menteri Perhubungan RI, Dudy Purwagandhi.
(Knu)