Anak Krakatau Masuk Episode Erupsi Strombolian, Kenali 4 Jenis Letusan Gunung Api

Ananda Dimas PrasetyaAnanda Dimas Prasetya - Senin, 07 September 2026
Anak Krakatau Masuk Episode Erupsi Strombolian, Kenali 4 Jenis Letusan Gunung Api

Kronologi 25 Jam Anak Krakatau Erupsi Tanpa Henti. Foto: PVMBG Badan Geologi ESDM

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com - Hasil pengamatan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan Gunung Api Anak Krakatau memasuki episode erupsi Strombolian per Minggu (6/9).

Perubahan episode pada gunung api merupakan hal yang dapat terjadi seiring perubahan aktivitas magma dan gas di dalam tubuh gunung.

Karakter letusan gunung api tidak selalu sama. Ada erupsi yang berlangsung relatif tenang dengan lelehan lava, tetapi ada pula yang menghasilkan ledakan kuat, kolom abu tinggi, hingga aliran piroklastik yang bergerak cepat menuruni lereng.

Perubahan aktivitas tersebut menjadi salah satu hal yang terus diamati oleh ahli vulkanologi. Salah satu parameter yang dikenal untuk menggambarkan kekuatan letusan adalah Volcanic Explosivity Index (VEI) atau Indeks Eksplosivitas Vulkanik.

Baca juga:

Mengenal Letusan Strombolian di Gunung Anak Krakatau, Erupsi Kecil Tapi Bisa Bertahun-tahun

VEI merupakan skala dari 0 hingga 8 yang digunakan untuk mengukur kekuatan sebuah letusan. Sistem ini bersifat logaritmik, sehingga setiap kenaikan satu tingkat menunjukkan peningkatan besaran letusan sekitar 10 kali lipat.

Sebagian besar letusan gunung api berada pada kisaran VEI 0 hingga 2. Namun, angka VEI bukan satu-satunya cara untuk memahami karakter sebuah erupsi.

Jenis letusan juga dapat dibedakan berdasarkan cara magma dan gas keluar dari gunung api. Berikut beberapa jenis erupsi gunung api yang dikenal dalam vulkanologi.

1. Erupsi Hawaii, Lava Mengalir Relatif Tenang

Erupsi Hawaii merupakan salah satu tipe letusan yang relatif paling tenang. Nama tersebut diambil dari karakter erupsi gunung-gunung api di Kepulauan Hawaii.

Letusan ini umumnya menghasilkan lava basaltik yang sangat cair dengan kandungan gas relatif rendah. Alih-alih meledak secara dahsyat, lava lebih banyak mengalir keluar dari rekahan atau lubang erupsi.

Salah satu cirinya adalah air mancur lava yang dapat menyembur hingga ratusan meter. Aktivitas juga dapat berlangsung cukup lama dan secara perlahan membangun gunung api berbentuk perisai yang lebar.

Lava dari erupsi Hawaii umumnya dikenal dalam dua bentuk. Pāhoehoe memiliki permukaan relatif halus dan dapat membentuk pola seperti tali, sedangkan ʻAʻā lebih kasar, tebal, dan bergerak lebih lambat.

2. Erupsi Strombolian, Ledakan dari Gelembung Gas

Berbeda dari erupsi Hawaii, tipe Strombolian ditandai oleh ledakan-ledakan yang terjadi secara berkala.

Erupsi ini terjadi ketika gelembung gas di dalam magma berkumpul dan membesar. Ketika mencapai permukaan, gelembung tersebut pecah akibat perubahan tekanan dan melepaskan energi yang mendorong magma ke udara.

Letusannya dapat menghasilkan suara ledakan yang khas dan melontarkan material vulkanik seperti bom vulkanik serta lapili ke sekitar kawah.

Magma pada erupsi Strombolian umumnya berupa lava basaltik yang lebih kental dibandingkan tipe Hawaii. Material yang terlontar kemudian dapat menumpuk dan membentuk kerucut vulkanik di sekitar pusat erupsi.

Episode Strombolian pada Anak Krakatau menunjukkan bagaimana karakter aktivitas sebuah gunung api dapat berubah dan perlu terus dipantau.

Baca juga:

Letusan Krakatau 1883: Kronologi Erupsi Dahsyat yang Menewaskan 36.417 Orang

3. Erupsi Vulkanian, Ledakan Lebih Eksplosif

Erupsi Vulkanian mengambil nama dari Gunung Vulcano di Italia. Tipe ini memiliki karakter letusan yang lebih eksplosif dibandingkan Strombolian.

Penyebabnya adalah magma yang lebih kental sehingga gas lebih sulit keluar. Tekanan kemudian terakumulasi di dalam gunung api hingga akhirnya memecahkan material yang menutup saluran magma.

Ketika tekanan tersebut dilepaskan, terjadi ledakan yang dapat melontarkan abu dan fragmen lava ke udara. Kolom erupsinya bahkan dapat mencapai ketinggian sekitar 5 hingga 10 kilometer.

Material yang dihasilkan erupsi Vulkanian umumnya memiliki komposisi andesitik hingga dasitik, yang lebih kental dibandingkan lava basaltik pada erupsi Hawaii dan Strombolian.

4. Erupsi Peléan, Bisa Menghasilkan Aliran Piroklastik

Tipe Peléan mengambil nama dari Gunung Pelée di Martinique. Jenis erupsi ini dikenal berbahaya karena dapat menghasilkan aliran piroklastik, yakni campuran gas panas, abu, dan fragmen batuan yang meluncur cepat mengikuti lereng gunung.

Salah satu cirinya adalah pertumbuhan kubah atau tonjolan lava di bagian puncak. Ketika struktur tersebut tidak lagi mampu bertahan, kubah dapat runtuh dan menghasilkan aliran piroklastik.

Material panas tersebut dapat bergerak dengan kecepatan sangat tinggi dan menghancurkan apa pun yang berada di jalurnya.

Erupsi Gunung Pelée pada 1902 menjadi salah satu contoh paling mematikan. Letusan tersebut menghancurkan kota Saint-Pierre dan menyebabkan puluhan ribu orang meninggal dunia.

Baca juga:

2 Langkah BNPB Kurangi Persebaran Abu Vulkanik Letusan Gunung Anak Krakatau

VEI Membantu Menggambarkan Kekuatan Letusan

Selain mengenali karakter letusan, para ahli juga menggunakan VEI untuk menggambarkan tingkat eksplosivitas sebuah erupsi.

Skala ini memiliki rentang 0 sampai 8. VEI 0 menggambarkan letusan dengan tingkat eksplosivitas sangat rendah, sedangkan VEI 8 berada pada tingkat letusan paling dahsyat.

Namun, kekuatan letusan tidak selalu berarti dampaknya pasti lebih besar bagi manusia. Lokasi gunung, kepadatan penduduk, arah angin, durasi erupsi, serta jenis material yang dikeluarkan juga menentukan risiko yang ditimbulkan.

Karena itu, perubahan episode erupsi seperti yang terjadi pada Anak Krakatau menjadi bagian penting dalam pemantauan gunung api.

Perubahan karakter aktivitas magma dan gas dapat memberikan informasi bagi petugas untuk menentukan langkah mitigasi dan menyampaikan peringatan kepada masyarakat di wilayah yang berpotensi terdampak. (Tka)

#Letusan Vulkanik #Gunung Anak Krakatau #Gunung Krakatau #Anak Gunung Krakatau Banten #Erupsi Anak Krakatau #Sejarah Letusan Krakatau
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Berita Terkait

Indonesia
Abu Vulkanik Anak Krakatau Berkurang, Sekolah di Jakarta Kembali Tatap Muka Mulai Rabu 9 September 2026
Sekolah di Jakarta kembali menggelar pembelajaran tatap muka mulai 9 September 2026 setelah sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau berkurang.
Ananda Dimas Prasetya - Selasa, 08 September 2026
Abu Vulkanik Anak Krakatau Berkurang, Sekolah di Jakarta Kembali Tatap Muka Mulai Rabu 9 September 2026
Indonesia
Abu Vulkanik Anak Krakatau Mengarah ke Laut Hindia, Lampung hingga Jakarta Lebih Kondusif
BNPB menyebut abu vulkanik Gunung Anak Krakatau cenderung bergerak ke Laut Hindia. Lampung, Banten, Jawa Barat hingga Jakarta lebih kondusif.
Ananda Dimas Prasetya - Selasa, 08 September 2026
Abu Vulkanik Anak Krakatau Mengarah ke Laut Hindia, Lampung hingga Jakarta Lebih Kondusif
Indonesia
Polri Siapkan 299 Personel dan 10 K9 Antisipasi Kondisi Darurat Gunung Anak Krakatau
Polri menyiapkan 299 personel, 10 unit K9, tim SAR hingga logistik untuk mengantisipasi kemungkinan kondisi darurat akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Ananda Dimas Prasetya - Selasa, 08 September 2026
Polri Siapkan 299 Personel dan 10 K9 Antisipasi Kondisi Darurat Gunung Anak Krakatau
Indonesia
Erupsi Anak Krakatau Berakhir, Pemerintah Imbau Warga Pulau Sebesi Tetap Waspada
Fase erupsi menerus Gunung Anak Krakatau selama 25 jam telah berakhir. Warga Pulau Sebesi diminta tetap waspada dan menghindari informasi hoaks.
Ananda Dimas Prasetya - Selasa, 08 September 2026
Erupsi Anak Krakatau Berakhir, Pemerintah Imbau Warga Pulau Sebesi Tetap Waspada
Indonesia
PJJ Diterapkan akibat Abu Vulkanik, DPR Minta Sekolah Pastikan Siswa Tetap Belajar Efektif
Wakil Ketua Komisi X DPR RI Lalu Hadrian Irfani mendukung PJJ di Jakarta, Jawa Barat, dan Banten akibat dampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Ananda Dimas Prasetya - Selasa, 08 September 2026
PJJ Diterapkan akibat Abu Vulkanik, DPR Minta Sekolah Pastikan Siswa Tetap Belajar Efektif
Indonesia
OMC Dimulai, BMKG Berupaya Percepat Pembersihan Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau
BMKG bersama BNPB dan pihak terkait menggelar OMC sejak 7 September 2026 untuk mempercepat pembersihan atmosfer dari abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Ananda Dimas Prasetya - Selasa, 08 September 2026
OMC Dimulai, BMKG Berupaya Percepat Pembersihan Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau
Indonesia
Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Mengancam Kelompok Rentan, Pramono Minta Harga Masker Tak Dipermainkan
Sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau mengancam kelompok rentan. Pramono Anung meminta pedagang tak memainkan harga masker.
Ananda Dimas Prasetya - Selasa, 08 September 2026
Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Mengancam Kelompok Rentan, Pramono Minta Harga Masker Tak Dipermainkan
Indonesia
Bandara Ngurah Rai Kembali Layani Penerbangan ke Jakarta dan Bandung, 7 Maskapai Beroperasi
Bandara Ngurah Rai kini kembali dibuka, setelah ditutup akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. Sejumlah maskapai sudah melayani penerbangan.
Soffi Amira - Selasa, 08 September 2026
Bandara Ngurah Rai Kembali Layani Penerbangan ke Jakarta dan Bandung, 7 Maskapai Beroperasi
Indonesia
Belum Reda, Gunung Anak Krakatau 3 Kali Erupsi Sejak Pagi
Gunung Anak Krakatau kembali erupsi tiga kali pada Selasa pagi dengan amplitudo 44–48 mm. Puluhan gempa vulkanik tercatat, status tetap Level III (Siaga) dengan potensi letusan susulan tinggi.
Wisnu Cipto - Selasa, 08 September 2026
Belum Reda, Gunung Anak Krakatau 3 Kali Erupsi Sejak Pagi
Indonesia
Bandara Soetta, Halim dan Husein Sudah Dibuka, Kapasitas Aprov Diatur Bertahap
Pengaturan arus penerbangan pada fase awal pemulihan mempertimbangkan kondisi operasional di lapangan, termasuk kebutuhan untuk mempercepat keberangkatan pesawat
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 08 September 2026
Bandara Soetta, Halim dan Husein Sudah Dibuka, Kapasitas Aprov Diatur Bertahap
Bagikan