MerahPutih.com - Hasil pengamatan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan Gunung Api Anak Krakatau memasuki episode erupsi Strombolian per Minggu (6/9).
Perubahan episode pada gunung api merupakan hal yang dapat terjadi seiring perubahan aktivitas magma dan gas di dalam tubuh gunung.
Karakter letusan gunung api tidak selalu sama. Ada erupsi yang berlangsung relatif tenang dengan lelehan lava, tetapi ada pula yang menghasilkan ledakan kuat, kolom abu tinggi, hingga aliran piroklastik yang bergerak cepat menuruni lereng.
Perubahan aktivitas tersebut menjadi salah satu hal yang terus diamati oleh ahli vulkanologi. Salah satu parameter yang dikenal untuk menggambarkan kekuatan letusan adalah Volcanic Explosivity Index (VEI) atau Indeks Eksplosivitas Vulkanik.
Baca juga:
Mengenal Letusan Strombolian di Gunung Anak Krakatau, Erupsi Kecil Tapi Bisa Bertahun-tahun
VEI merupakan skala dari 0 hingga 8 yang digunakan untuk mengukur kekuatan sebuah letusan. Sistem ini bersifat logaritmik, sehingga setiap kenaikan satu tingkat menunjukkan peningkatan besaran letusan sekitar 10 kali lipat.
Sebagian besar letusan gunung api berada pada kisaran VEI 0 hingga 2. Namun, angka VEI bukan satu-satunya cara untuk memahami karakter sebuah erupsi.
Jenis letusan juga dapat dibedakan berdasarkan cara magma dan gas keluar dari gunung api. Berikut beberapa jenis erupsi gunung api yang dikenal dalam vulkanologi.
1. Erupsi Hawaii, Lava Mengalir Relatif Tenang
Erupsi Hawaii merupakan salah satu tipe letusan yang relatif paling tenang. Nama tersebut diambil dari karakter erupsi gunung-gunung api di Kepulauan Hawaii.
Letusan ini umumnya menghasilkan lava basaltik yang sangat cair dengan kandungan gas relatif rendah. Alih-alih meledak secara dahsyat, lava lebih banyak mengalir keluar dari rekahan atau lubang erupsi.
Salah satu cirinya adalah air mancur lava yang dapat menyembur hingga ratusan meter. Aktivitas juga dapat berlangsung cukup lama dan secara perlahan membangun gunung api berbentuk perisai yang lebar.
Lava dari erupsi Hawaii umumnya dikenal dalam dua bentuk. Pāhoehoe memiliki permukaan relatif halus dan dapat membentuk pola seperti tali, sedangkan ʻAʻā lebih kasar, tebal, dan bergerak lebih lambat.
2. Erupsi Strombolian, Ledakan dari Gelembung Gas
Berbeda dari erupsi Hawaii, tipe Strombolian ditandai oleh ledakan-ledakan yang terjadi secara berkala.
Erupsi ini terjadi ketika gelembung gas di dalam magma berkumpul dan membesar. Ketika mencapai permukaan, gelembung tersebut pecah akibat perubahan tekanan dan melepaskan energi yang mendorong magma ke udara.
Letusannya dapat menghasilkan suara ledakan yang khas dan melontarkan material vulkanik seperti bom vulkanik serta lapili ke sekitar kawah.
Magma pada erupsi Strombolian umumnya berupa lava basaltik yang lebih kental dibandingkan tipe Hawaii. Material yang terlontar kemudian dapat menumpuk dan membentuk kerucut vulkanik di sekitar pusat erupsi.
Episode Strombolian pada Anak Krakatau menunjukkan bagaimana karakter aktivitas sebuah gunung api dapat berubah dan perlu terus dipantau.
Baca juga:
Letusan Krakatau 1883: Kronologi Erupsi Dahsyat yang Menewaskan 36.417 Orang
3. Erupsi Vulkanian, Ledakan Lebih Eksplosif
Erupsi Vulkanian mengambil nama dari Gunung Vulcano di Italia. Tipe ini memiliki karakter letusan yang lebih eksplosif dibandingkan Strombolian.
Penyebabnya adalah magma yang lebih kental sehingga gas lebih sulit keluar. Tekanan kemudian terakumulasi di dalam gunung api hingga akhirnya memecahkan material yang menutup saluran magma.
Ketika tekanan tersebut dilepaskan, terjadi ledakan yang dapat melontarkan abu dan fragmen lava ke udara. Kolom erupsinya bahkan dapat mencapai ketinggian sekitar 5 hingga 10 kilometer.
Material yang dihasilkan erupsi Vulkanian umumnya memiliki komposisi andesitik hingga dasitik, yang lebih kental dibandingkan lava basaltik pada erupsi Hawaii dan Strombolian.
4. Erupsi Peléan, Bisa Menghasilkan Aliran Piroklastik
Tipe Peléan mengambil nama dari Gunung Pelée di Martinique. Jenis erupsi ini dikenal berbahaya karena dapat menghasilkan aliran piroklastik, yakni campuran gas panas, abu, dan fragmen batuan yang meluncur cepat mengikuti lereng gunung.
Salah satu cirinya adalah pertumbuhan kubah atau tonjolan lava di bagian puncak. Ketika struktur tersebut tidak lagi mampu bertahan, kubah dapat runtuh dan menghasilkan aliran piroklastik.
Material panas tersebut dapat bergerak dengan kecepatan sangat tinggi dan menghancurkan apa pun yang berada di jalurnya.
Erupsi Gunung Pelée pada 1902 menjadi salah satu contoh paling mematikan. Letusan tersebut menghancurkan kota Saint-Pierre dan menyebabkan puluhan ribu orang meninggal dunia.
Baca juga:
2 Langkah BNPB Kurangi Persebaran Abu Vulkanik Letusan Gunung Anak Krakatau
VEI Membantu Menggambarkan Kekuatan Letusan
Selain mengenali karakter letusan, para ahli juga menggunakan VEI untuk menggambarkan tingkat eksplosivitas sebuah erupsi.
Skala ini memiliki rentang 0 sampai 8. VEI 0 menggambarkan letusan dengan tingkat eksplosivitas sangat rendah, sedangkan VEI 8 berada pada tingkat letusan paling dahsyat.
Namun, kekuatan letusan tidak selalu berarti dampaknya pasti lebih besar bagi manusia. Lokasi gunung, kepadatan penduduk, arah angin, durasi erupsi, serta jenis material yang dikeluarkan juga menentukan risiko yang ditimbulkan.
Karena itu, perubahan episode erupsi seperti yang terjadi pada Anak Krakatau menjadi bagian penting dalam pemantauan gunung api.
Perubahan karakter aktivitas magma dan gas dapat memberikan informasi bagi petugas untuk menentukan langkah mitigasi dan menyampaikan peringatan kepada masyarakat di wilayah yang berpotensi terdampak. (Tka)