MerahPutih.com - Kementerian Agama Republik Indonesia mengimbau masyarakat untuk tidak memaksakan diri saat melakukan perjalanan mudik menuju kampung halaman pada momentum Idulfitri 1447 Hijriah.
Sebagai bentuk dukungan bagi para pemudik, Kementerian Agama menyiapkan ribuan rumah ibadah yang akan beroperasi selama 24 jam sepanjang periode arus mudik dan arus balik Lebaran 2026.
Tercatat ada 6.859 masjid di seluruh Indonesia yang telah terdaftar dan menyatakan siap berpartisipasi dalam program pelayanan bagi pemudik.
Selain itu, sebanyak 44 rumah ibadah umat Buddha yang tersebar di 11 provinsi—mulai dari wilayah Sumatera, Jawa hingga Kepulauan Nusa Tenggara—serta 32 kabupaten/kota juga siap memberikan layanan bagi para pemudik.
Rumah-rumah ibadah tersebut berada di sepanjang jalur mudik nasional dan disiapkan sebagai tempat singgah sementara bagi masyarakat yang melakukan perjalanan jarak jauh.
Baca juga:
143 Juta Orang Diprediksi Mudik Lebaran 2026, Menhub Minta Masjid Jadi Rest Area
Kehadiran rumah ibadah lintas agama ini diharapkan dapat memperkuat semangat gotong royong sekaligus meningkatkan kepedulian sosial dalam melayani masyarakat selama musim mudik Lebaran.
Menteri Agama, Nasaruddin Umar, menegaskan bahwa rumah ibadah di jalur mudik harus benar-benar siap memberikan pelayanan kepada para pemudik.
“Kita ingin agar rumah-rumah ibadah lintas agama yang berada di jalur mudik benar-benar siap melayani para pemudik. Rumah ibadah tersebut diharapkan dapat dibuka selama 24 jam selama masa mudik, karena para pemudik datang silih berganti sepanjang waktu,” ujar Menag.
Menurutnya, kesiapan tersebut juga perlu disertai pengaturan petugas yang berjaga agar keamanan serta kenyamanan para pemudik tetap terjaga.
“Perlu ada petugas yang berjaga agar keamanan tetap terjamin. Jangan sampai jamaah yang beristirahat justru mengalami kehilangan barang atau hal-hal yang tidak diinginkan,” tegasnya.
Selain tempat beristirahat, pengelola rumah ibadah juga didorong menyediakan fasilitas dasar bagi pemudik. Hal ini menjadi penting mengingat perjalanan mudik tahun ini berlangsung bertepatan dengan bulan Ramadan.
“Jika memungkinkan, disediakan takjil atau makanan berbuka bagi para pemudik, serta minuman atau makanan sederhana untuk sahur. Ini bagian dari pelayanan kemanusiaan dan kepedulian sosial,” kata Menag.
Baca juga:
Kemenag Siapkan 6.859 Masjid Ramah Pemudik, Buka 24 Jam di Jalur Mudik Nasional
Nasaruddin juga menegaskan bahwa layanan yang diberikan sebaiknya bersifat gratis dan tidak dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk kepentingan pribadi.
“Pelayanan ini sebaiknya gratis. Jangan sampai ada pihak yang memanfaatkan situasi dengan meminta bayaran kepada pemudik. Karena itu perlu koordinasi dengan aparat setempat agar layanan ini benar-benar bebas biaya,” ujarnya.
Ia juga mendorong pengelola masjid menyediakan fasilitas tambahan untuk meningkatkan kenyamanan pemudik selama beristirahat.
“Jika memungkinkan, disediakan fasilitas pengisian daya telepon seluler, ruang khusus bagi ibu menyusui, serta layanan sederhana seperti tambal ban atau obat-obatan ringan, bahkan bekerja sama dengan puskesmas terdekat untuk layanan kesehatan dasar,” tambahnya. (Knu)