MerahPutih.com - Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, mengajak umat Islam dan seluruh masyarakat Indonesia menjadikan momentum Tahun Baru 1 Muharam 1448 Hijriah sebagai sarana memperkuat persatuan, kepedulian sosial, dan semangat pengabdian kepada bangsa.
Menurut Menag, makna hijrah tidak hanya dimaknai sebagai perpindahan secara fisik, tetapi juga perubahan sikap dan cara pandang menuju kehidupan yang lebih baik.
“Hijrah mengajak kita untuk berpindah dari sikap saling curiga menuju saling percaya, dari perpecahan menuju persatuan, dari sikap apatis menuju kepedulian, serta dari orientasi pada kepentingan pribadi menuju pengabdian yang lebih luas bagi masyarakat, bangsa, dan kemanusiaan,” ujar Menag di Jakarta, Senin (15/6).
Hijrah Relevan Hadapi Tantangan Zaman
Nasaruddin Umar menilai nilai-nilai hijrah tetap relevan untuk menjawab berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat modern saat ini.
Di tengah era disrupsi yang ditandai menguatnya sikap individualistik, beragam perbedaan pandangan, serta persoalan sosial yang semakin kompleks, semangat hijrah perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk membangun dialog yang sehat, memperkuat toleransi, dan merawat persaudaraan kebangsaan.
"Di tengah era disrupsi yang ditandai oleh menguatnya sikap individualistik, perbedaan pandangan, dan berbagai tantangan sosial yang kompleks, nilai-nilai hijrah perlu kita wujudkan dalam bentuk kesediaan untuk membangun dialog, memperkuat toleransi, dan merawat persaudaraan kebangsaan," tegas Menag.
Baca juga:
Menag menekankan bahwa keberagaman bukanlah hambatan bagi kemajuan bangsa.
Sebaliknya, perbedaan harus menjadi modal sosial yang dapat memperkuat persatuan dan mendorong terciptanya kemaslahatan bersama.
“Bangsa yang besar bukanlah bangsa yang bebas dari perbedaan, melainkan bangsa yang mampu menjadikan perbedaan sebagai kekuatan untuk melangkah demi kemaslahatan bersama,” lanjutnya.
Meneladani Hijrah Rasulullah SAW
Menurut Nasaruddin Umar, semangat tersebut merupakan bentuk peneladanan terhadap peristiwa hijrah Rasulullah SAW yang diperingati setiap Tahun Baru Hijriah.
Ia menjelaskan, hijrah Rasulullah mengajarkan bahwa kemajuan peradaban tidak hanya dibangun melalui kekuatan dan kecakapan, tetapi juga melalui nilai persaudaraan, keadilan, serta kepedulian terhadap sesama.
Nilai-nilai itulah yang perlu terus dihidupkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini.
Baca juga:
Menteri Agama: Tahun Baru Islam Jadi Inspirasi Memperbaiki Diri dan Harapan Baru
Dalam pesannya, Menag juga mengajak masyarakat untuk memulai perubahan dari diri sendiri.
Menurutnya, masa depan yang lebih baik lahir dari keberanian untuk berubah dan terus memperbaiki diri, bukan hanya dari harapan semata.
Pandangan tersebut, kata dia, sejalan dengan firman Allah dalam Surah Ar-Ra’d ayat 11 yang menegaskan bahwa Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.
Semangat hijrah adalah semangat untuk terus bertumbuh, memperbaiki kualitas diri, memperkuat integritas, serta menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi sesama. Dengan semangat itu, umat akan semakin kuat menghadapi berbagai tantangan zaman dan semakin mampu berkontribusi bagi kemajuan bangsa,
Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar.
(Knu)