MerahPutih.com - Kementrian Agama (Kemenag) kembali menjadi sorotan publik karena kerap mengeluarkan pernyataan dan kebijakan yang kontroversial. Kemenag juga dinilai kurang terbuka kepada insan pers dan publik.
Banyak insan pers yang mengeluh karena sulit mewawancara sebagian besar pejabat Kemenag. Hal ini yang menjadi indikasi kurang terbukanya Kemenag kepada publik.
Seorang wartawan senior yang bertugas meliput berbagai isu, program dan kebijakan Kemenag juga mengakui sulitnya berkomunikasi dengan sebagian pejabat Kemenag. Menurutnya, selama bertugas di Kemenag, sejumlah pejabat di sana kurang komunikatif.
Baca Juga:
Penjelasan Kemenag Soal Pernyataan Fachrul Razi Radikalisme Disebar Orang 'Good Looking'
"Itu sudah berlangsung lama. Beberapa pejabat di sana (Kemenag) sangat sulit dihubungi ketika ingin kami wawancarai," kata wartawan itu, yang tidak ingin disebut namanya, di Jakarta, Jumat (11/9).
Sejak era Menteri Lukman Hakim Saifuddin, Kemenag sudah meniadakan ruangan wartawan atau press room. Kebijakan Kemenag ini juga menuai protes dari banyak wartawan.
Dugaan Kemenag tidak terbuka kepada insan pers dan publik semakin menguat terlebih pejabat-pejabat Kemenag banyak yang sulit dihubungi untuk diwawancara.
"Jadi kita di sini kayak rombongan liar, tidak ada fasilitas press room. Mereka (Humas Kemenag) beralasan kalau di sana tidak ada wartawan, padahal kami minim informasi agenda kegiatan Kemenag," ujar wartawan lainnya berinisial BA.
Sebenarnya para jurnalis yang bertugas di Kemenag tidak diam dengan kondisi tersebut. Mereka sudah berusaha untuk memberikan masukan kepada Humas Kemenag agar Kemenag terbuka kepada insan pers dan publik.
"Tapi apa yang kami lakukan seakan tidak mereka pedulikan, seperti mereka punya agenda sendiri, di era keterbukaan informasi seperti sekarang ini, masih ada lembaga negara yang seperti ini," kata HAM, seorang wartawan media cetak.
Meskipun pejabat di Kemenag kurang terbuka, namun wartawan yang biasa meliput di Kemenag tetap ingin lembaga tersebut menjadi lembaga yang betul-betul menjalankan slogannya yaitu "Ikhlas Beramal".
"Yang paling sulit dihubungi itu menurut kita Dirjen Haji dan Umrah, itu sudah dari dulu. Bagaimana mungkin seorang Dirjen Haji dan Umrah yang begitu penting mengurus persoalan haji, sangat sulit dikontak apalagi diwawancara. Kami berharap ada perubahan pola komunikasi di Kemenag, agar lebih baik kedepannya," kata BU menambahkan.
Baca Juga:
Kemenag dengan cakupan tanggung jawab besar seharusnya mampu menyajikan informasi yang tepat kepada masyarakat. Proses penyampaian pesan yang hanya satu arah sama saja dengan menutup diri, padahal saat ini merupakan era masyarakat informasi.
"Saluran informasi yang tidak sampai kepada masyarakat dengan baik, ditambah pernyataan Menag Fachrul Razi yang terus mengangkat isu radikalisme, semakin menambah citra buruk Kemenag," kata AZR, wartawan media online.
Sebelumnya, dalam rapat kerja bersama Komisi VIII DPR RI. Para anggota dewan juga mencecar pola komunikasi yang dilakukan oleh pejabat di Kemenag. Salah satu kritik datang dari anggota Komisi VIII, Iskan Qolba Lubis yang mempertanyakan peranan Kehumasan di Kemenag.
Menurut Iskan, kurangnya peran kehumasan ini penyebab menteri agama kerap melontarkan pernyataan kontroversial. (Pon)
Baca Juga: