MerahPutih.com - Di tengah duka dan kebutuhan mendesak masyarakat Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pascagempa berkekuatan magnitudo 7,7 pada 15 Agustus 2026, Yayasan JHL Merah Putih Kasih melalui JHL Group menyalurkan bantuan kemanusiaan senilai Rp 1,3 miliar.
Bantuan tersebut berupa bahan makanan pokok, terpal, pakaian, selimut, dan berbagai kebutuhan dasar lainnya. Distribusinya menyasar masyarakat terdampak di tujuh wilayah, yakni Manggarai Timur, Manggarai Barat, Manggarai, Ende, Nagekeo, Sikka/Maumere, dan Ngada/Bajawa.
Berdasarkan catatan BNPB hingga 19 Agustus, sebanyak 71 orang meninggal dunia, sementara sekitar 40 ribu warga masih mengungsi. Aktivitas gempa susulan juga masih terjadi.
Kondisi tersebut membuat kebutuhan pangan, tempat berlindung, pakaian, dan perlengkapan dasar tetap menjadi kebutuhan mendesak bagi masyarakat terdampak.
Baca juga:
JHL Merah Putih Kasih: Bantuan untuk Masyarakat Flores
Pembina Yayasan JHL Merah Putih Kasih Jerry Hermawan Lo mengatakan, Kamis (20/8), bantuan tersebut merupakan bentuk solidaritas kepada masyarakat Flores NTT yang tengah menghadapi masa sulit.
Ketika rumah kehilangan atap dan keluarga kehilangan rasa aman, yang dibutuhkan bukan sekadar kata-kata, tetapi kehadiran. Rp 1,3 miliar ini mungkin tidak menghapus duka mereka, tetapi kami berharap bisa membuat saudara-saudara kita di Flores, NTT merasa bahwa mereka tidak sendirian,
Pembina Yayasan JHL Merah Putih Kasih, Jerry Hermawan Lo.
Menurut Jerry, perhatian terhadap korban bencana tidak boleh berhenti ketika pemberitaan mulai berkurang. Ia menilai proses pemulihan masyarakat membutuhkan waktu lebih panjang daripada sekadar masa tanggap darurat.
“Bencana tidak selesai ketika kamera media meninggalkan lokasi. Bencana selesai ketika kehidupan masyarakat kembali berjalan. Karena itu, kepedulian harus bertahan selama masyarakat masih membutuhkan," ujar Founder JHL Group.
Baca juga:
Bantuan Disesuaikan dengan Kebutuhan Pengungsi

Ketua Relawan JHL Merah Putih Kasih, Eduardus Noe Ndopo Mbete, mengatakan bantuan disusun berdasarkan kebutuhan masyarakat di lapangan, terutama warga yang masih bertahan di pengungsian.
Menurutnya, kehilangan akibat bencana tidak hanya menyangkut kerusakan rumah, tetapi juga hilangnya berbagai kebutuhan yang menunjang kehidupan sehari-hari.
“Orang yang kehilangan rumah tidak hanya kehilangan bangunan. Mereka kehilangan tempat tidur, tempat berlindung, dan rasa aman. Karena itu kami membawa hal-hal yang paling dekat dengan kebutuhan mereka: makanan, terpal, pakaian, selimut, dan kebutuhan dasar lainnya," ungkapnya.
Eduardus menegaskan bantuan tersebut sekaligus menjadi pesan bahwa masyarakat Flores NTT tidak menghadapi bencana seorang diri.
Kami mungkin datang membawa bantuan, tetapi yang ingin kami bawa lebih dari sekadar barang. Kami ingin mereka tahu bahwa ketika satu bagian Indonesia terluka, bagian Indonesia yang lain harus datang untuk menopangnya,
Ketua Relawan JHL Merah Putih Kasih, Eduardus Noe Ndopo Mbete.
Dorong Solidaritas Berlanjut

Di tengah upaya tersebut, Yayasan JHL Merah Putih Kasih menilai keterlibatan masyarakat dan sektor swasta tetap penting untuk memperluas jangkauan bantuan.
Peran tersebut dinilai semakin penting, terutama ketika kebutuhan dasar warga masih tinggi dan proses pemulihan belum selesai.
Bagi JHL Merah Putih Kasih, bantuan tersebut bukan sekadar aksi sosial, melainkan bagian dari ikhtiar untuk memastikan masyarakat Flores NTT dapat melewati masa sulit dengan sedikit lebih kuat.
Sebab, dalam situasi bencana, solidaritas bukan tentang siapa yang mampu memberi paling banyak. Solidaritas adalah tentang memastikan mereka yang sedang kehilangan tidak merasa ditinggalkan. (*)