Jerman Negara Eropa Pertama 'Hukum' Rusia Pasca-Dekrit Putin
Pekerja terlihat di lokasi konstruksi pipa gas Nord Stream 2, dekat kota Kingisepp, wilayah Leningrad, Rusia, 5 Juni 2019. ANTARA/REUTERS/Anton Vaganov
MerahPutih.com - Kurang dari 24 jam setelah Rusia mengerahkan pasukan militer ke Ukraina Timur, kelompok Eropa Barat mengirimkan pesan tegas berbagai ancaman sanksi ekonomi bagi negara yang dipimpin Presiden Vladimir Putin itu. Jerman menjadi negara yang pertama memberlakukan sanksi ekenomi.
Selasa (22/2) malam waktu setempat, Kanselir Jerman Olaf Scholz langsung memerintahkan penghentian proyek pipa gas Nord Stream 2 Laut Baltik, yang dirancang untuk menggandakan aliran gas Rusia langsung ke negara mereka.
Baca Juga:
150 Ribu Tentara Rusia Kepung Perbatasan Ukraina, AS Coba Upayakan Diplomasi
Proyek energi paling besar membelah Eropa, senilai 11 miliar dolar AS itu telah selesai pada September tahun lalu, tetapi tidak digunakan lagi menunggu sertifikasi dari Jerman dan Uni Eropa.
Keputusan Jerman menghentikan sertifikasi pipa Nord Stream 2 menunjukkan Eropa bersedia menargetkan industri energi besar Rusia, meski berarti harga gas alam akan lebih tinggi untuk konsumen Uni Eropa. Langkah Jerman ini juga menuai pujian dari negara Eropa Barat lainnya.
"Saya salut dengan keputusan kanselir Jerman, Olaf Scholz, untuk membatalkan Nord Stream 2. Dan saya pikir itu adalah langkah berani, dan hal yang benar untuk dilakukan," ungkap Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, dilansir dari CNN, Rabu (23/2).
Amerika Serikat juga menyambut baik pengumuman Scholz, dengan mengatakan Washington telah berkonsultasi dengan pemerintah Jerman semalam. "Ini menunjukkan bahwa Jerman sebenarnya serius untuk mengenakan biaya berat pada Rusia," tulis pernyataan resmi mereka.
Menteri Luar Negeri Ukraina Dmytro Kuleba juga mencuit persetujuannya terhadap sanksi yang diberlakukan Jerman ke Rusia. "Ini adalah langkah yang benar secara moral, politik, dan praktis dalam situasi saat ini," katanya.
"Kepemimpinan sejati berarti keputusan sulit di masa-masa sulit. Langkah Jerman membuktikan hal itu," imbuh Kuleba, dilansir dari Antara.
Pasca-keputusan Jerman, harga gas patokan Eropa naik 9,8 persen pada 78,95 euro per megawatt hour (MWh) pada Selasa (22/2) pukul 16.07 GMT. Meski, Putin berjanji tidak akan mengganggu pasokan gas Eropa, tetapi anak buahnya berkata lain.
Baca Juga:
Rusia dan Ukraina Makin Panas, Jokowi: Perang Tidak Boleh Terjadi
"Selamat datang di dunia baru di mana orang Eropa segera harus membayar 2.000 euro per seribu meter kubik!" kicau Dmitry Medvedev, mantan presiden Rusia dan sekarang wakil ketua Dewan Keamanan Putin, melalui akun sosial medianya. Bahkan, Medvedev menambahkan harga yang ada sekarang akan kembali naik dua kali lipat.
Diberitakan sebelumnya, Presiden Putin telah mengeluarkan dekrit yang mengakui deklarasi kemerdekaan Luhansk dan Donetsk bukan lagi berada di bawah wilayah Ukraina. Pengakuan ini menambah rumit proses perdamaian di kawasan Eropa Timur itu yang berpotensi memicu perang besar abad ini.
"Saya menganggap perlu untuk mengambil keputusan yang sudah lama tertunda. Untuk segera mengakui kemerdekaan dan kedaulatan Republik Rakyat Donetsk (RRD) dan Republik Rakyat Luhansk (RRL)," kata Putin dalam dalam pidatonya Senin (21/22) malam waktu Moskow, seperti dilaporkan Associated Press. (*)
Baca Juga:
Perang di Depan Mata, Putin Deklarasikan Donetsk dan Luhansk Bukan Wilayah Ukraina
Bagikan
Wisnu Cipto
Berita Terkait
China dan Rusia Perkuat Kerja Sama Hadapi Hukum Rimba Global
Prabowo Wanti-wanti Ancaman Perang Dunia III, Indonesia Tetap Terkena Dampaknya
Jerman Ragu Gabung Dewan Perdamaian Gaza Bentukan Trump, Belum Cocok Sama Formatnya
Trump Tetap Salahkan Rusia di Balik Rencana Ambil Greenland
Jadi Tentara Bayaran Rusia, Desersi Brimob Bripda MR ‘Pamer’ Gaji Rubel ke Provos
Bripda Rio Desersi Brimob Aceh Gabung Tentara Rusia Sudah Dipecat Tidak Hormat
Jejak Hitam Bripda MR, Desersi Brimob Aceh yang Gabung Tentara Bayaran Rusia
Trauma 2 Kali Gagal di Fase Grup, Jerman Tolak Label Curacao Lawan Enteng
Tidak Percaya Komitmen Putin, Uni Eropa Sepakat Perkuat Pertahanan di Ukraina
Gandeng GIZ di Berlin, Gubernur DKI Jakarta Pramono Perluas Kerja Sama Mobilitas Hijau