Kesehatan Mental

Sebelum Burnout makin Parah, Ayo Bertindak

Andreas PranataltaAndreas Pranatalta - Selasa, 17 Januari 2023
Sebelum Burnout makin Parah, Ayo Bertindak

Burnout dapat memengaruhi kesehatan mentalmu. (Foto: Unsplash/Nubelson Fernandes)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

TIDAK bisa dimungkiri, bekerja dari Senin sampai Jumat, atau bahkan akhir pekan, membuatmu amat membutuhkan istirahat demi kesehatan mental yang lebih baik. Jangan sampai kamu burnout, atau kondisi stres berat yang dipicu pekerjaan.

Siapa saja bisa mengalami burnout. Namun, kondisi itu lebih banyak terjadi pada orang yang sering memaksa diri untuk terus bekerja, kurang mendapatkan apresiasi pekerjaan dari atasan, memiliki beban kerja yang berat, atau memiliki pekerjaan yang monoton.

Setiap orang tentu pernah merasa kelelahan dan stres dalam bekerja. Seseorang yang mengalami burnout cenderung akan merasakan atau menampakkan ciri-ciri seperti hilangnya semangat bekerja dan kelelahan. Tetap bekerja tanpa adanya semangat justru malah menguras banyak energi sehingga memicu kelelahan.

Selain itu, burnout juga bisa menyebabkan stres dan frustrasi saat bekerja. Hal itu membuat seseorang menjadi sulit berkonsentrasi, merasa tidak kompeten, dan akhirnya membenci pekerjaan yang sedang ia geluti. Burnout juga menyebabkan performa bekerjamu menurun. Hal tersebut dipicu hilangnya minat terhadap pekerjaan yang sedang digeluti, sehingga hasil yang didapat menjadi kurang memuaskan.

Stres dan frustrasi akan pekerjaan membuatmu bersikap sinis terhadap orang-orang yang kamu ajak bekerja. Pekerjaan yang digeluti dianggap sebagai beban hidup sehingga membuatmu enggan atau berhenti bersosialisasi dengan rekan kerja, teman, maupun anggota keluarga yang terlibat.

Baca juga:

Bagaimana Mengetahui Kamu Sedang Burnout atau Malas?

Jangan Terlalu Keras Bekerja Biar Tidak Burnout
Tentukan prioritas agar tidak terjadi burnout. (Foto: Unsplash/Christian Erfurt)

Seperti dilansir Alodokter, ada beberapa langkah yang bisa kamu lakukan untuk mengatasi burnout.

1. Buat prioritas

Buatlah prioritas pekerjaan dari yang penting ke yang kurang penting. Dengan begitu, kamu tahu mana yang perlu dikerjakan terlebih dahulu, sehingga energi dan waktu tidak terbuang terlalu banyak.

2. Bicarakan dengan atasan

Komunikasikan dengan atasan mengenai kerisauan yang kamu rasakan. Saat kamu diberikan pekerjaan yang terlalu banyak, ungkapkan bahwa pekerjaan tersebut membuatmu terbebani dan membutuhkan bantuan orang lain untuk menyelesaikannya. Jika atasanmu yang menjadi pemicu burnout, coba ajak bicara dengan departemen sumber daya manusia (HRD) mengenai hal tersebut Mungkin, mereka akan memberikan solusi, misalnya memindahkanmu ke tim yang lain.

Baca juga:

Banyak Pilihan di Dating Apps Bikin Burnout

3. Ceritakan kepada orang yang dapat dipercaya

Coba ceritakan keluh kesahmu kepada orang-orang terdekat yang dapat kamu percaya. Meski tidak selalu mendapatkan solusi, cara ini dapat membantu melepaskan emosi negatif dan mengurangi stres pekerjaan.

4. Ubah gaya hidup

Terapkan gaya hidup sehat dengan cara mengonsumsi makanan sehat, rutin berolahraga, dan tidur yang cukup. Hal-hal ini dapat mendukung tubuh yang sehat dan pikiran yang lebih mudah fokus, sehingga menurunkan risiko terjadinya burnout. Kamu juga bisa mencari hobi baru yang belum pernah dilakukan sebelumnya untuk mengatasi burnout.

Burnout dalam pekerjaan tidak hanya berpengaruh pada hasil kerja, tetapi juga meregangkan hubungan dengan orang-orang sekitar dan menurunkan kesehatanmu.

Buat kamu yang ingin mengatasi dan mendapatkan insight mengenai burnout, Merah Putih mengadakan webinar bertajuk Burnout: Do Anything, but Not Everything pada 28 Januari 2023 pukul 10.00-11.00 WIB. Webinar akan menghadirkan Anggi Mayangsari selaku key opinion leader dan Devina Otaria (influencer). Kamu bisa langsung mendengar sharing pengalaman dari para pembicara mengenai burnout dan solusi untuk mengatasinya.

Kamu bisa mendaftar secara gratis melalui https://bit.ly/DaftarWebinarBurnout, dan dapatkan hadiah menarik serta e-certificate. (and)

Baca juga:

Waspada Emotional Burnout Mengganggu Kesehatan Mental

#Kesehatan Mental
Bagikan
Ditulis Oleh

Andreas Pranatalta

Stop rushing things and take a moment to appreciate how far you've come.

Berita Terkait

ShowBiz
Yacko Rilis 'Unbreakable Me', Jadi Anthem Perempuan Bangkit dan Lawan Trauma
Yacko merilis 'Unbreakable Me', anthem tentang pemulihan kesehatan mental perempuan. Lagu ini juga jadi bagian kampanye di Sydney Marathon 2026.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 29 April 2026
Yacko Rilis 'Unbreakable Me', Jadi Anthem Perempuan Bangkit dan Lawan Trauma
Lifestyle
Jangan Dianggap Sepele, Stigma Menstruasi Bisa Ganggu Kesehatan Mental
Psikiater mengungkap stigma dan ejekan saat menstruasi bisa memicu tekanan mental. Perempuan didorong berani membela diri dan memahami kondisi.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 23 April 2026
Jangan Dianggap Sepele, Stigma Menstruasi Bisa Ganggu Kesehatan Mental
Lifestyle
Bukan Sekadar PMS, PMDD Bisa Berdampak Serius hingga Picu Depresi Berat
PMDD adalah gangguan menjelang haid yang lebih berat dari PMS. Psikiater ingatkan gejalanya bisa picu depresi hingga butuh penanganan serius.
Ananda Dimas Prasetya - Selasa, 21 April 2026
Bukan Sekadar PMS, PMDD Bisa Berdampak Serius hingga Picu Depresi Berat
Indonesia
Kemenkes Kritik Film ‘Aku Harus Mati’, Khawatirkan Perilaku Meniru
Menurut pihak Kemenkes, baliho itu berpotensi memicu peniruan tindakan bunuh diri, terutama di tengah tren kenaikan signifikan angka kematian di Indonesia.
Dwi Astarini - Selasa, 07 April 2026
Kemenkes Kritik Film ‘Aku Harus Mati’, Khawatirkan Perilaku Meniru
Indonesia
Promosi Film Horor "Aku Harus Mati" Dinilai Berdampak Buruk Bagi Kesehatan Mental Anak dan Remaja P
Sekitar 10 persen remaja mengalami gangguan kesehatan mental. Pada remaja dengan kerentanan psikologis seperti mereka, baliho film semacam "Aku Harus Mati" bisa memunculkan gagasan yang membahayakan.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 07 April 2026
Promosi Film Horor
Indonesia
Hasil CKG, Ratusan Ribu Anak Diketahui Alami Cemas dan Depresi
Saat ini pemerintah juga mempercepat pemenuhan tenaga psikolog klinis di Puskesmas yang jumlahnya masih terbatas,
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 09 Maret 2026
Hasil CKG, Ratusan Ribu Anak Diketahui Alami Cemas dan Depresi
Dunia
Kemenkes: 4 dari 1.000 Orang Mengalami Skizofrenia
Sekitar 2 persen orang dewasa di Indonesia mengalami masalah kesehatan mental.
Wisnu Cipto - Kamis, 08 Januari 2026
Kemenkes: 4 dari 1.000 Orang Mengalami Skizofrenia
Olahraga
Raphael Varane Ngaku Alami Depresi saat Masih di Real Madrid, Paling Parah setelah Piala Dunia 2018!
Raphael Varane mengaku dirinya mengalami depresi saat masih membela Real Madrid. Ia menceritakan itu saat wawancara bersama Le Monde.
Soffi Amira - Rabu, 03 Desember 2025
Raphael Varane Ngaku Alami Depresi saat Masih di Real Madrid, Paling Parah setelah Piala Dunia 2018!
Indonesia
2 Juta Anak Alami Gangguan Kesehatan Mental, Kemenkes Buka Layanan healing 119.id Cegah Potensi Bunuh Diri
Kemenkes membuka layanan healing 119.id bagi warga yang mengalami stres, depresi atau memiliki keinginan bunuh diri.
Wisnu Cipto - Kamis, 30 Oktober 2025
2 Juta Anak Alami Gangguan Kesehatan Mental, Kemenkes Buka Layanan healing 119.id Cegah Potensi Bunuh Diri
Indonesia
Hasil Cek Kesehatan Gratis: 2 Juta Anak Indonesia Alami Gangguan Kesehatan Mental
Tercatat, ada sekitar 20 juta rakyat Indonesia didiagnosis mengalami gangguan kesehatan mental dari data pemeriksaan kesehatan jiwa gratis yang dilakukan.
Wisnu Cipto - Kamis, 30 Oktober 2025
Hasil Cek Kesehatan Gratis: 2 Juta Anak Indonesia Alami Gangguan Kesehatan Mental
Bagikan