Parenting

Jangan Dibiasakan deh, Mom Shaming Bisa Lukai Perasaan Ibu

Dwi AstariniDwi Astarini - Kamis, 18 November 2021
Jangan Dibiasakan deh, Mom Shaming Bisa Lukai Perasaan Ibu

Lebih dari 80 persen ibu di Indonesia pernah mengalami mom shaming. (foto: Pexels/cottonbro)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

‘KOK jadi ibu malas sekali sih. MPASI anak dikasi yang instan’. Komentar semacam itu jamak terdengar di Indonesia. Beberapa orang bahkan menganggap ujaran itu lumrah saja. Padahal, komentar demikian menjurus ke mom shaming loh.

Menurut Urban Dictionary, mom shaming adalah perilaku mengkritik atau mempermalukan seorang ibu atas pilihan cara asuh. Hal itu dilakukan karena pilihannya berbeda dengan pilihan pelaku.

Mom shaming mirip dengan bullying, tapi korbannya ialah seorang ibu. Hal ini paling sering terjadi pada ibu baru atau ibu muda.

BACA JUGA:

Bahaya 'Baby Shaming' Mengintai Psikologis Bunda

Menurut psikolog Vera Itabiliana, SPsi, MPsi, tidak semua bentuk kritik dikategorikan sebagai mom shaming. Mom shaming harus dilihat dari dua sisi, dari sisi yang memberikan pernyataan dan yang mendengarkannya.

Ia melanjutkan, kritik yang bersifat membangun tidak bisa disebut sebagai mom shaming meskipun cara penyampaiannya terkesan menghakimi.

moms
Mulai dari pola pengasuhan hingga perubahan bentuk tubuh bisa jadi topik mom shaming. (foto: unsplash/kelly sikkema)

“Dibutuhkan kepekaan dari sisi yang mendengarkan untuk menyaring omongan orang lain,” ujar Vera. Selain itu, Vera juga menyarankan untuk membaca raut wajah orang yang berbicara. Jika raut wajah menunjukkan rasa tidak suka, bisa jadi ucapan yang dilontarkan merupakan mom shaming.

Ucapan yang tergolong mom shaming umumnya punya ciri-ciri tertentu, di antaranya:

- Intonasi, gaya menulis, dan pemilihan kata terkesan menyudutkan dan menghakimi.

- Biasanya dilakukan di ranah umum (tapi bisa juga secara personal).

- Tujuannya ialah mempermalukan karena menganggap diri lebih baik.

Dalam survei yang dilakukan platform inspirasi gaya hidup dari Bukalapak, Bukareview, terhadap 208 ibu milennial, sebanyak 88 persen ibu pernah mengalami mom shaming.

Survei itu juga mengungkap mayoritas (38 persen) pelaku mom shaming justru merupakan saudara atau anggota keluarga. Sebanyak 18,5 persen menerimanya dari orangtua, sedangkan 17 persen di-mom shaming oleh mertua. Warganet (11,5 persen), teman atau rekan kerja (11 persen), tetangga (5 persen), dan suami (1,6 persen) juga disebut sebagai pihak yang acap melakukan mom shaming.

Mengenai topik yang menjadi bahan mom shaming, hampir separuh responden (49 persen) mengaku dikritik untuk urusan cara mendidik atau disiplin anak. Topik-topik lain yang bisa jadi mom shaming menurut survei, yakni cara merawat anak (34 persen), nutrisi dan makanan anak (33 persen), serta pilihan menggunakan jasa baby sitter, daycare, atau bantuan keluarga (32 persen). Selain itu, proses melahirkan caesar atau normal serta pilihan memberi ASI atau susu formula juga jadi topik mom shaming (8 persen). Topik lain yang juga kerap menyinggung ibu yakni mengenai perubahan fisik setelah melahirkan (8 persen).

BACA JUGA:

Ibu Jagoan Penyintas Postpartum Depression Inisiator Crystal Clear Moms

Dari survei tersebut juga diketahui bahwa banyak ibu yang menganggap mom shaming sebagai hal yang lumrah. Lebih dari 90 persen responden merasa mom shaming semakin marak terjadi. Mom shaming bisa terjadi kapan saja dan di mana saja. Pecakapan pribadi dinilai paling sering berisikan mom shaming (54 persen). Responden juga mengaku mengalami mom sahimng di ranah umum, seperti chat grup (32,7 persen), sedangkan 8 persen lainnya mengalami lewat komentar di media sosial.

Beberapa orang mungkin tak menyadari telah melakukan mom shaming. Kalimat yang dinilai biasa saja ternyata bisa menyakiti perasaan ibu lain yang mendengarnya. Hal itu berdampak pada kesehatan mental ibu. Korban mom shaming akan mengalami kecemasan berlebih dan tidak percaya diri terhadap kemampuannya dalam mengurus anak. Korban juga akan menyalahkan diri sendiri tentang pola asuh yang diambil, hingga menganggap dirinya tidak pantas disebut ibu.

moms
Mom shaming terjadi karena menganggap menjadi ibu merupaka persaingan. (foto: sharon-mccutcheon/unsplash)

Lebih jauh, Vera mengatakan mom shaming bisa berefek panjang. Ibu juga rentan merasa terisolasi, merasa dirinya salah, dan tidak ada yang mendukungnya. “Efek mom shaming bisa membekas lama, makanya harus cepat diatasi agar ibu tidak sampai depresi,” tegasnya.

Bagi pelaku mom shaming, khususnya yang memang berniat untuk menghakimi atau mempermalukan, menjadi seorang ibu dilihat seperti ajang perlombaan untuk menunjukkan siapa yang paling baik dan paling benar.

Padahal, kenyataannya, menjadi ibu bukan tentang siapa yang benar dan salah. Menjadi ibu merupakan sebuah proses berkembang dan belajar bersama. Setiap ibu punya pengalaman, kesulitan, dan kebutuhan yang berbeda.

Di saat yang sama, kehadiran media sosial malah memperburuk fenomena mom shaming. Siapa saja bisa jadi melontarkan kritik sambil bersembunyi di balik akun anonim. Beberapa influencer parenting seperti Gadis Sadiqah, Rahne Putri, dan Annisa Steviani pun pernah mengalaminya. “Saat pertama jadi ibu, tadinya mau curhat kondisi, malah diwejangi macam-macam. Saya lagi capai, jadinya malah makin down,” kata Rahne.(dwi)

#Parenting #Kesehatan Mental
Bagikan
Ditulis Oleh

Dwi Astarini

Love to read, enjoy writing, and so in to music.

Berita Terkait

ShowBiz
Yacko Rilis 'Unbreakable Me', Jadi Anthem Perempuan Bangkit dan Lawan Trauma
Yacko merilis 'Unbreakable Me', anthem tentang pemulihan kesehatan mental perempuan. Lagu ini juga jadi bagian kampanye di Sydney Marathon 2026.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 29 April 2026
Yacko Rilis 'Unbreakable Me', Jadi Anthem Perempuan Bangkit dan Lawan Trauma
Lifestyle
Jangan Dianggap Sepele, Stigma Menstruasi Bisa Ganggu Kesehatan Mental
Psikiater mengungkap stigma dan ejekan saat menstruasi bisa memicu tekanan mental. Perempuan didorong berani membela diri dan memahami kondisi.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 23 April 2026
Jangan Dianggap Sepele, Stigma Menstruasi Bisa Ganggu Kesehatan Mental
Lifestyle
Bukan Sekadar PMS, PMDD Bisa Berdampak Serius hingga Picu Depresi Berat
PMDD adalah gangguan menjelang haid yang lebih berat dari PMS. Psikiater ingatkan gejalanya bisa picu depresi hingga butuh penanganan serius.
Ananda Dimas Prasetya - Selasa, 21 April 2026
Bukan Sekadar PMS, PMDD Bisa Berdampak Serius hingga Picu Depresi Berat
Indonesia
Kemenkes Kritik Film ‘Aku Harus Mati’, Khawatirkan Perilaku Meniru
Menurut pihak Kemenkes, baliho itu berpotensi memicu peniruan tindakan bunuh diri, terutama di tengah tren kenaikan signifikan angka kematian di Indonesia.
Dwi Astarini - Selasa, 07 April 2026
Kemenkes Kritik Film ‘Aku Harus Mati’, Khawatirkan Perilaku Meniru
Indonesia
Promosi Film Horor "Aku Harus Mati" Dinilai Berdampak Buruk Bagi Kesehatan Mental Anak dan Remaja P
Sekitar 10 persen remaja mengalami gangguan kesehatan mental. Pada remaja dengan kerentanan psikologis seperti mereka, baliho film semacam "Aku Harus Mati" bisa memunculkan gagasan yang membahayakan.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 07 April 2026
Promosi Film Horor
Indonesia
Hasil CKG, Ratusan Ribu Anak Diketahui Alami Cemas dan Depresi
Saat ini pemerintah juga mempercepat pemenuhan tenaga psikolog klinis di Puskesmas yang jumlahnya masih terbatas,
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 09 Maret 2026
Hasil CKG, Ratusan Ribu Anak Diketahui Alami Cemas dan Depresi
Fun
Popok Tipis Anti Bocor Bantu Dorong Kebebasan Gerak dan Tumbuh Kembang Anak
MAKUKU perkenalkan popok comfort fit. Hadirkan teknologi SAP dan 360 Leak Protection, dirancang mendukung kebebasan gerak anak.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 12 Februari 2026
Popok Tipis Anti Bocor Bantu Dorong Kebebasan Gerak dan Tumbuh Kembang Anak
Dunia
Kemenkes: 4 dari 1.000 Orang Mengalami Skizofrenia
Sekitar 2 persen orang dewasa di Indonesia mengalami masalah kesehatan mental.
Wisnu Cipto - Kamis, 08 Januari 2026
Kemenkes: 4 dari 1.000 Orang Mengalami Skizofrenia
Olahraga
Raphael Varane Ngaku Alami Depresi saat Masih di Real Madrid, Paling Parah setelah Piala Dunia 2018!
Raphael Varane mengaku dirinya mengalami depresi saat masih membela Real Madrid. Ia menceritakan itu saat wawancara bersama Le Monde.
Soffi Amira - Rabu, 03 Desember 2025
Raphael Varane Ngaku Alami Depresi saat Masih di Real Madrid, Paling Parah setelah Piala Dunia 2018!
Indonesia
2 Juta Anak Alami Gangguan Kesehatan Mental, Kemenkes Buka Layanan healing 119.id Cegah Potensi Bunuh Diri
Kemenkes membuka layanan healing 119.id bagi warga yang mengalami stres, depresi atau memiliki keinginan bunuh diri.
Wisnu Cipto - Kamis, 30 Oktober 2025
2 Juta Anak Alami Gangguan Kesehatan Mental, Kemenkes Buka Layanan healing 119.id Cegah Potensi Bunuh Diri
Bagikan