Merahputih.com - Gencatan senjata antara Israel dan Hamas kembali berada dalam situasi genting. Pasukan Israel menangkap seorang petinggi keamanan Hamas dalam operasi langka yang dilakukan jauh di dalam Jalur Gaza pada Selasa (1/9).
Dikutip dari Reuters, penangkapan tersebut memicu peringatan dari Hamas yang menilai operasi Israel berpotensi merusak kesepakatan gencatan senjata yang hingga kini masih rapuh.
Baca juga:
Pesawat Nirawak dan Artileri Israel Intensifkan Serangan ke Wilayah Lebanon Selatan
Operasi berlangsung pada siang hari di sekitar Kota Gaza. Pasukan Israel menangkap Mouin Mohammed Al-Arabeed, yang disebut sebagai salah satu kepala keamanan Hamas.
Operasi itu juga disertai sejumlah serangan udara Israel. Kementerian Kesehatan yang dikelola Hamas menyebut sedikitnya empat warga Palestina tewas dalam serangan tersebut.
Netanyahu Tuduh Al-Arabeed Tahan Sandera
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menuduh Al-Arabeed terlibat dalam penahanan sandera yang ditangkap Hamas dalam serangan 7 Oktober 2023 di wilayah Israel selatan.
Netanyahu juga menuding Al-Arabeed berupaya mengembalikan pemerintahan Hamas di Gaza, melancarkan serangan terhadap tentara dan warga sipil Israel, serta menentang upaya demiliterisasi wilayah tersebut.
Baca juga:
Israel kembali Gempur Gaza, Tuduh Hamas Langgar Gencatan Senjata
Operasi ini berlangsung ketika ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) juga meningkat dalam beberapa hari terakhir.
Di sisi lain, Hamas mengklaim para pejuangnya menewaskan sejumlah tentara Israel selama operasi berlangsung. Namun, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) membantah adanya korban di pihaknya.
Gencatan Senjata Terancam
Gencatan senjata yang disepakati pada Oktober lalu merupakan tahap awal dari rencana Presiden AS Donald Trump untuk membangun kembali Gaza sekaligus menarik pasukan Israel dari wilayah tersebut.
Saat ini, Israel disebut menguasai sekitar 65 persen wilayah Gaza yang mengalami kehancuran akibat perang.
Israel dan AS menegaskan bahwa Hamas harus terlebih dahulu meletakkan senjata sebagai bagian dari proses menuju perdamaian. Namun, Hamas memiliki tuntutan berbeda dan menginginkan pasukan Israel meninggalkan Gaza sebelum kelompok tersebut melakukan pelucutan senjata.
Baca juga:
Hamas menilai operasi Israel pada Selasa merupakan bentuk eskalasi yang dapat menggagalkan implementasi kesepakatan.
Israel Klaim Operasi untuk Cegah Ancaman
Israel menyatakan operasi militernya selama masa gencatan senjata diperlukan untuk menghadapi ancaman dari Hamas atau menindak warga Palestina yang terlibat dalam serangan 7 Oktober 2023.
Menurut Kementerian Kesehatan yang dikelola Hamas, serangan Israel telah menewaskan lebih dari 1.300 warga Palestina sejak gencatan senjata diberlakukan.