MERAHPUTIH.COM — SEORANG pejabat senior Korps Garda Revolusi Iran, pada Senin (2/3), mengatakan Selat Hormuz telah ditutup. Iran bersumpah akan menembaki kapal mana pun yang mencoba melintas. Ini menjadi peringatan paling tegas dari Iran sejak menyatakan pada Sabtu bahwa mereka menutup jalur ekspor tersebut. Langkah ini mengancam seperlima arus minyak global dan mendorong harga minyak mentah melonjak tajam.
“Selat (Hormuz) ditutup. Jika ada yang mencoba melintas, para pahlawan Garda Revolusi dan angkatan laut reguler akan membakar kapal-kapal tersebut,” kata Ebrahim Jabari, penasihat senior panglima tertinggi Garda Revolusi, dalam pernyataan, dikutip The Korea Times.
Selat tersebut merupakan jalur ekspor minyak paling vital di dunia. Selat Hormuz menghubungkan produsen minyak utama Teluk seperti Arab Saudi, Iran, Irak, dan Uni Emirat Arab dengan Teluk Oman dan Laut Arab.
Penutupan itu dipicu serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari yang bertujuan menggulingkan para pemimpin negara Islam itu. Presiden AS Donald Trump telah menawarkan bantuan kepada rakyat Iran untuk menyingkirkan ulama yang berkuasa. Sebagai tanggapan, Iran menembakkan sejumlah gelombang rudal ke negara-negara Teluk yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS seperti Qatar, Kuwait, dan Bahrain. Teheran juga menembakkan rudal ke Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Oman.
Baca juga:
Kemenkeu Mulai Lakukan Mitigasi Potensi Risiko Dampak Penutupan Selat Hormuz
Dengan penutupan Selat Hormuz, Teheran merealisasikan ancaman yang selama bertahun-tahun dilontarkan untuk memblokade jalur perairan sempit tersebut sebagai pembalasan atas setiap serangan terhadap Republik Islam.
Sekitar 20 persen konsumsi minyak harian dunia melewati Selat Hormuz. Pasar minyak selama ini berfokus pada ketegangan antara Teheran dan musuh lamanya, AS dan Israel, dengan kekhawatiran bahwa konflik besar-besaran akan mengganggu pasokan dan mengacaukan kawasan.
Langkah ini terjadi setelah pelayaran global mengalami gangguan akibat serangan drone dan rudal yang dilakukan milisi Houthi Yaman yang bersekutu dengan Iran. Kelompok tersebut telah menargetkan kapal-kapal di Laut Merah dan Teluk Aden sejak perang Gaza pecah pada 2023.(dwi)
Baca juga:
Selat Hormuz Memanas, Ratusan Tangker Terjebak Bikin Harga Minyak Terbang Tinggi