Dampak Invasi AS ke Suriah Terhadap Perekonomian Indonesia

Andika PratamaAndika Pratama - Selasa, 17 April 2018
Dampak Invasi AS ke Suriah Terhadap Perekonomian Indonesia

Kilang minyak. Foto: shutterstock

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com - Invasi Amerika Serikat bersama sekutunya ke Suriah berdampak pada perekonomian dunia terutama dalam hal produksi minyak. Meski produksi minyak Suriah kecil dan tidak cukup signifikan kontribusinya terhadap pasokan minyak global, namun serangan tersebut berpeluang besar mengganggu subsidi pemerintah.

Oleh karena itu, Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP Hipmi) mengingatkan, pemerintah perlu terus mewaspadai perang di Suriah terhadap perekonomian Indonesia.

"Produksi minyak Suriah terus menurun tapi dampaknya besar sebab melibatkan negara-negara penentu harga minyak dunia. Ini yang kita wajib waspadai bagi perekonomian domestik dan utamanya subsidi,” ujar Ketua Umum BPP Hipmi Bahlil Lahadalia dalam keterangan tertulisnya, hari ini.

Bekas serangan milisi Amerika Serikat di Suriah. Foto: Omar Sanadiki/Reuters

Bahlil mengatakan, Suriah bukan pemain utama minyak dunia. Bahkan diera kejayaannya tahun 2000-an, produksi minyak Suriah hanya sekitar 520 ribu barel per hari, atau setara 0,6 persen produksi minyak dunia. Hal yang sama dengan produksi gas hanya sekitar 5,5 miliar meter kubik per tahun pada 2010 dan saat ini terus menurun.

Meski demikian, dampak konflik Suriah tak bisa dipandang enteng. Pasalnya, konflik di negara tersebut telah melibatkan negara-negara besar dan negara-negara pengekspor minyak utama dunia. Sejalan dengan pernyataan Bahlil, harga minyak mentah dunia melonjak 3 persen pada perdagangan akhir pekan kemarin, usai Amerika Serikat melepas 59 rudal Tomahawk ke pangkalan udara pemerintah Suriah.

Sejumlah pihak khawatir serangan AS melebar ke negara-negara kaya minyak di Teluk. Harga minyak mentah berjangka Brent International ditutup naik 35 sen menjadi USD55,24 per barel. Brent mencapai sesi tinggi sebesar USD56,08 per barel tidak lama setelah serangan rudal AS diumumkan. Untuk pekan ini, Brent telah naik 4,4%.

Minyak mentah berjangka AS, West Texas Intermediate (WTI) melonjak 54 sen menjadi USD52,24 per barel, dan sempat menyentuh angka USD52,94 per barel usai serangan rudal Tomahawk.

Ilustasi produksi minyak. Foto: Ist

Di Indonesia, harga minyak Indonesia (Indonesian crude price/ICP) sempat naik pada Januari 2018 yang mencapai level lebih dari USD 60 per barel. Harga tersebut jauh lebih tinggi dari asumsi harga ICP dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018 yang sebesar 48 dolar AS per barel. Kenaikan harga minyak tidak selamanya negatif terhadap APBN sebab penerimaan negara dari pajak dan PNBP dari sektor minyak dan gas secara umum akan meningkat.

“Namun, pemerintah perlu waspadai pos belanja negara, berpotensi menaikkan subsidi bahan bakar minyak (BBM), elpiji 3 kilogram, dan serta listrik. Apalagi listrik kita masih banyak menyerap energi fosil,” ujar Bahlil.

Sebab itu, Bahlil mengatakan, Pertamina dan PLN harus waspada dan kedua BUMN semestinya mempersiapkan protocol of crisis bila sewaktu-waktu harga minyak terus melonjak.

Sialnya lagi, ujar Bahlil, serangan AS tersebut ditanggapi dengan menurunnya produksi minyak dua negara penghasil utama yakni Irak dan Venezuela.

"Negara-negara ini malah mengurangi produksi sebesar 1,5 juta barel per hari. Produsen minyak non-OPEC, Kanada malah mengurangi produksinya sebab kilangnya yang besar terbakar,” ujar Bahlil.

Ilustrasi pengeboran minyak. Foto: ist

Menurut Bahlil, kondisi ini bisa memicu kepanikan sehingga permintaan (demand) minyak dunia meningkat tajam.

Tak hanya subsidi, kenaikan harga minyak dunia berpotensi menekan inflasi sebab akan memicu kenaikan harga BBM non penugasan (di luar subsidi), seperti Pertalite dan Pertamax. Biaya produksi Pertamina akan meningkat sebab menggunakan komponen impor dan biaya transportasi. Pemerintah menargetkan mampu menjaga tingkat inflasi sebesar 3,5 plusminus 1% pada 2018.

Target pemerintah

Pemerintah melalui Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas (SKK Migas) menargetkan rata-rata produksi minyak nasional mencapai 800 ribu barel per hari di 2018, sebagaimana tercantum dalam APBN 2018.

Tetapi, rata-rata realisasi produksi minyak selama tiga bulan terakhir masih di bawah target

Berdasarkan situs Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), angka produksi minyak harian Indonesia masih berada di level 780 ribu barel per hari pada 9 April lalu, sementara untuk rata-rata produksi bulanan masih di angka 775 ribu barel per hari.

#Harga Minyak Dunia #Amerika Serikat #Konflik Suriah
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Berita Terkait

Dunia
Pesawat Kargo Amazon Tergelincir dari Runway Bandara Miami, 5 Tewas
Pesawat keluar dari ujung landasan pada Minggu sekitar pukul 14.00 waktu setempat setelah tiba dari San Juan, Puerto Rico.
Dwi Astarini - Selasa, 08 September 2026
 Pesawat Kargo Amazon Tergelincir dari Runway Bandara Miami, 5 Tewas
Dunia
AS Ancam Sanksi Negara yang Tetap Berdagang dengan Iran, Akses Dolar Bisa Diputus
Negara yang tetap berbisnis dengan Iran setelah menerima tuntutan tersebut disebut berpotensi menghadapi sanksi AS.
Yusuf Abdillah - Kamis, 03 September 2026
AS Ancam Sanksi Negara yang Tetap Berdagang dengan Iran, Akses Dolar Bisa Diputus
Dunia
Manut Perintah Donald Trump, Apple Maps Ganti Nama Danau Ontario Jadi Danau Amerika
Perubahan tersebut dilakukan untuk pengguna yang berada di Amerika Serikat, sedangkan pengguna di Kanada tetap akan melihat nama Danau Ontario.
Dwi Astarini - Rabu, 02 September 2026
 Manut Perintah Donald Trump, Apple Maps Ganti Nama Danau Ontario Jadi Danau Amerika
Indonesia
Saling Serang AS dan Iran Kembali Terjadi, PBB Desak Segera Berunding
Perjanjian dan gencatan senjata yang telah disepakati terus-menerus dilanggar, sementara aksi saling serang kembali terjadi.
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 02 September 2026
Saling Serang AS dan Iran Kembali Terjadi, PBB Desak Segera Berunding
Dunia
AS Kembali Serang Iran, Beberapa Orang Dikabarkan Tewas di Pulau Larak
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan beberapa pejuang dan warga sipil tewas serta terluka dalam serangan tersebut dan bersumpah akan membalas.
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 31 Agustus 2026
AS Kembali Serang Iran, Beberapa Orang Dikabarkan Tewas di Pulau Larak
Dunia
AS Serang Dua Peluncur Rudal Iran di Pulau Larak, Konflik Kembali Memanas
Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan terhadap dua peluncur milik Iran di Pulau Larak.
Yusuf Abdillah - Senin, 31 Agustus 2026
AS Serang Dua Peluncur Rudal Iran di Pulau Larak, Konflik Kembali Memanas
Dunia
Perang Dagang dengan Kanada Memanas, Donald Trump Ubah Nama Danau Ontario Jadi Lake America
Dalam sebuah video yang dibagikan melalui akun Truth Social, Trump tampak mencoret tulisan 'Lake Ontario' pada peta dan menggantinya dengan 'Lake America'.
Dwi Astarini - Jumat, 28 Agustus 2026
Perang Dagang dengan Kanada Memanas, Donald Trump Ubah Nama Danau Ontario Jadi Lake America
Indonesia
Iran Mulai Siapkan Serangan ke Kepentingan Ekonomi AS di Timur Tengah
Penjualan minyak Iran telah kembali ke tingkat sebelum diberlakukannya sanksi.
Alwan Ridha Ramdani - Jumat, 28 Agustus 2026
Iran Mulai Siapkan Serangan ke Kepentingan Ekonomi AS di Timur Tengah
Dunia
Hacker China Serang Jaringan Sensitif AS, NASA, The Fed, hingga Senat Jadi Target
Amerika Serikat mengungkap dugaan operasi peretasan yang dikaitkan dengan China.
Yusuf Abdillah - Kamis, 27 Agustus 2026
Hacker China Serang Jaringan Sensitif AS, NASA, The Fed, hingga Senat Jadi Target
Dunia
Amerika Luncurkan Perang Ekonomi, Presiden Iran Akui Negara Dalam Kondisi Terburuk
Teheran sedang menghadapi “kondisi terburuk” dalam perang ekonomi. Namun, negaranya tetap menjalankan berbagai proyek pembangunan
Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 27 Agustus 2026
Amerika Luncurkan Perang Ekonomi, Presiden Iran Akui Negara Dalam Kondisi Terburuk
Bagikan