MerahPutih.com - Krisis imigran yang terjadi di Spayol wilayah Afrika Utara yang berbatasan dengan Maroko dikabarkan sekurangnya menelan korban jiwa 57 orang saat menyebrang ke Ceuta lewat laut.
Garda Sipil Spanyol dan satuan Regulares No. 54 dari Angkatan Darat Spanyol dikerahkan di sepanjang kawasan pantai Tarajal untuk menghalangi masuknya imigran Maroko yang tiba dari laut.
Menteri Luar Negeri Spanyol Jose Manuel Albares menegaskan, hampir semua imigran yang memasuki Ceuta telah kembali ke Maroko.
Kunjungan dari Ceuta dan Melilla ke Spanyol daratan tidak mungkin dilakukan tanpa identifikasi pada pos pemeriksaan kepolisian,
kata Albares melalui media sosial X, Jumat (31/7).
Baca juga:
PM Spanyol Datangi Ceuta Atasi Krisis Imigran Asal Maroko
Ratusan imigran melintasi perbatasan keluar Ceuta ke Maroko, mengingat adanya kesepakatan repatriasi antara Spanyol dan Maroko.
Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez menyebut serbuan para imigran ke Ceuta sejak Kamis sebagai "serangan" dan "pelanggaran terhadap keutuhan wilayah Spanyol."
Menurut laporan The New York Times, sejumlah imigran yang tiba di Ceuta, wilayah kantong Spanyol di Afrika, mengeklaim otoritas Maroko membantu mereka menyeberangi perbatasan.
Adapun sebelumnya, laporan Cadena SER menyebutkan pihak kepolisian Maroko menggunakan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan para imigran yang berupaya masuk ke Ceuta.
"Mereka membuka perbatasan dan membolehkan semuanya lewat begitu saja," kata Ajoub El-Arrot, seorang imigran, saat membicarakan otoritas Maroko, dikutip oleh The New York Times.
Seorang migran lain, Youssef Alaoui, mengatakan, saat rombongannya mendekat Ceuta, personel kepolisian Maroko diduga mengarahkan mereka ke jalan yang benar, lantas berkata "Pergi ke sana, pergi ke sana."

