MerahPutih.com - Ratusan migran dari kawasan sub-Sahara Afrika yang mencoba menyeberang dari wilayah Tunisia dan Libya menuju Eropa dengan menggunakan perahu menyeberangi Laut Mediterania, meninggal setiap harinya mencapai lebih 1.000 migran.
Duta Besar Uni Eropa untuk Libya Nicola Orlando mengungkapkan bahwa pihaknya telah menyepakati rencana pembentukan Pusat Koordinasi Penyelamatan Maritim di Benghazi, Libya, di tengah lonjakan kasus kematian migran.
Kami telah merampungkan prosedur untuk mendirikan Pusat Koordinasi Penyelamatan Maritim di Benghazi di bawah Operasi IRINI, dengan pendanaan dari Italia dan Malta,
kata Nicola melalui platform X. “Pusat penyelamatan ini, bersama dengan pelatihan khusus dari IRINI dan EUBAM Libya akan memperkuat kapabilitas (aparat) Libya dalam melakukan operasi pencarian dan penyelamatan di laut yang sejalan dengan standard internasional dan hak asasi manusia," lanjutnya.
Baca juga:
PM Spanyol Datangi Ceuta Atasi Krisis Imigran Asal Maroko
Operasi IRINI adalah misi militer Uni Eropa yang diluncurkan pada 2020 untuk mengawasi implementasi mandat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terkait embargo senjata di Libya usai Perang Saudara Libya Kedua.
European Union Border Assistance Mission in Libya (EUBAM Libya) merupakan misi penanganan krisis yang dibentuk Uni Eropa pada 2013 untuk membantu dan melatih aparat keamanan Libya dalam menjaga perbatasan darat, laut, dan udara negara tersebut.
Sementara, Krisis migrasi di Ceuta, kota otonom Spanyol di kawasan Afrika Utara, kian memanas dan menyebabkan bentrokan antara warga dengan imigran ilegal asal Maroko, demikian menurut laporan media setempat dan video yang beredar di media sosial.
Seorang blogger Spanyol, David Santos, mengunggah sebuah video yang merekam aksi kejar-kejaran warga dan para imigran di jalanan melalui platform X.
Ia menyebut, orang-orang Maroko yang telah menetap di kawasan El Príncipe ikut mengusir para migran yang berusaha memasuki Ceuta secara ilegal.
Media lokal Ceuta Actualidad melaporkan bahwa adanya pembentukan sebuah grup WhatsApp bernama "Viva España" yang kini telah memiliki lebih dari 800 anggota.
Menurut laporan media tersebut, sejumlah anggota grup mengusulkan untuk melakukan pergerakan dan "memukuli para migran dengan tongkat".