Hidup Bahagia dengan Nilai-nilaimu Sendiri
Pendekatan satu ukuran untuk semua dalam mengelola kehidupan emosional adalah salah arah. (Pexels/Bekka Mongeau)
BAHAGIA bukan berarti memaksakan tersenyum sepanjang hari, menghadapi semua dengan pikiran positif meskipun merasa tertekan. Tidak semua orang harus memasang wajah bahagia.
Profesor psikologi Barbara Held di Bowdoin College, AS menentang "tirani sikap positif". Menurutnya tidak ada hasil positif dari pemaksaan semacam itu. "Melihat sisi baiknya tidak mungkin bagi sebagian orang dan bahkan kontraproduktif," dia bersikeras.
Baca Juga:
"Ketika kamu menekan orang untuk mengatasi dengan cara yang tidak sesuai dengan mereka, hal itu tidak hanya tidak berhasil, malah membuat mereka merasa gagal selain sudah merasa buruk," ujarnya seperti diberitakan Psychology Today.
Pendekatan satu ukuran untuk semua dalam mengelola kehidupan emosional adalah salah arah, menurut Julie Norem yang menulis buku The Positive Power of Negative Thinking.
Selain itu, dalam sebuah penelitian, profesor psikologi Wellesley menunjukkan bahwa pesimisme defensif yang dirasakan orang yang cemas dapat dimanfaatkan untuk membantu mereka menyelesaikan sesuatu, yang pada gilirannya membuat mereka lebih bahagia.
Seorang arsitek yang pesimis secara alami, misalnya, dapat menetapkan harapan yang rendah untuk presentasi yang akan datang dan meninjau semua hasil buruk yang dia bayangkan, sehingga dia dapat mempersiapkan diri dengan hati-hati dan meningkatkan peluang keberhasilannya.
Baca Juga:
Jalani nilai-nilaimu
Jika kamu tidak hidup sesuai dengan nilai-nilai yang dianut, kamu tidak akan bahagia, tidak peduli berapa banyak yang dicapai. Itulah mengapa penting untuk mengetahui nilai-nilai apa yang kamu anut.
Namun, beberapa orang, bagaimanapun, bahkan tidak yakin apa nilai-nilai mereka. Jika kamu merasa demikian, ada pertanyaan bagus untukmu: "Bayangkan saya bisa melambaikan tongkat ajaib untuk memastikan bahwa kamu akan mendapat dukungan dan pujian dari semua orang di planet ini, selamanya. Apa, dalam hal ini, yang akan kamu pilih untuk lakukan dalam hidup?"
Setelah menjawab dengan jujur, kamu dapat mulai mengambil langkah menuju visi idealmu tentang diri sendiri. Kamu dapat menempelkan afirmasi positif di cermin. Tidak masalah jika berbeda dengan kebanyakan orang, selama kamu hidup dengan kesadaran penuh.
Kebahagiaan sebenarnya sama sekali bukan keadaan atau kondisi yang tetap. Kebahagiaan merupakan eksperimen pribadi yang terus berlangsung seumur hidup. (aru)
Baca Juga:
Bagikan
Berita Terkait
Kemenkes: 4 dari 1.000 Orang Mengalami Skizofrenia
AS Kurangi Jumlah Vaksin Wajib untuk Anak-Anak, Timbulkan Kekhawatiran Peningkatan Risiko Penyakit
Gubernur Pramono Tegaskan belum Ditemukan Super Flu di Jakarta
DPR Minta Pemerintah Gerak Cepat Antisipasi Ancaman Super Flu, Dorong Kemenkes Terbitkan Vaksin Pencegah
Waspada Super Flu, 62 Kasus Terkonfirmasi di Indonesia Terbanyak di Jawa Timur
Super Flu Masuk ke Indonesia, Kemenkes Imbau Kenali Gejala dan Terapkan Protokol Kesehatan
Teknologi Bedah Robotik Memungkinkan Tindakan Presisi untuk Kenyamanan Pasien, kini Hadir di Siloam Hospitals Kebon Jeruk
Raphael Varane Ngaku Alami Depresi saat Masih di Real Madrid, Paling Parah setelah Piala Dunia 2018!
SDM Dokter belum Terpenuhi, Kemenkes Tunda Serahkan RS Kardiologi Emirate ke Pemkot Solo
Program Pemutihan BPJS Kesehatan Berlangsung di 2025, ini Cara Ikut dan Tahapannya